Senin, 11 Juli 2016

Udang Selingkuh Khas Kota Wamena

    Udang Selingkuh

    Kota Wamena selain populer karena memiliki pesona alam dan budaya yang unik itu, kota yang diapit pegunungan Jayawijaya tersebut juga menawarkan aneka kuliner yang siap menggugah selera para turis. Salah satu kuliner andalan kota yang berhawa sejuk ini adalah udang selingkuh (cherax albertisii).
    Ya, udang selingkuh namanya. Nama unik ini dikaitkan dengan keberadaan capit/jepit besar yang terdapat pada udang tersebut. Tekstur tubuhnya persis sebagaimana udang pada umumnya. Bedanya, udang jenis ini memiliki capit seperti capit kepiting. Bila dilihat dari arah belakang, ia memang mirip udang, apalagi setelah kelihatan kepalanya. Namun, bila dilihat dari arah depan, biota air tawar yang bungkuk ini seperti kepiting karena mempunyai kaki depan yang panjang dan besar layaknya kepiting.  
    Konon, sebelum tahun 1987, udang selingkuh merupakan sumber protein hewani utama masyarakat yang tinggal di Kabupaten Jayawijaya dan sekitarnya. Pada saat itu, Sungai Baliem, yang letaknya berdekatan dengan Kota Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, menyimpan aneka jenis udang, yang dalam bahasa setempat disebut udi. Sebagaimana yang dilansir, udang dede (bintik kuning dan putih), mugido (hijau gelap), kogiya (putih besar), pamo (kecil hijau daun), petokebo (kecil putih), obawa (hijau kemerahan), dan pitimogo (hijau kekuningan) adalah di antara sekian banyak jenis udang yang terdapat di Sungai Baliem. Selain di Sungai Baliem yang populer dengan liku-likunya yang bagai ular itu, udang selingkuh juga banyak dijumpai di tiga danau cantik di Kabupaten Paniai, yaitu Danau Paniai, Danau Tigi, dan Danau Tage yang pertama kali ditemukan oleh seorang pilot berkebangsaan Belanda bernama Wissel ketika terbang melintasi pegunungan tengah Pulau Irian pada tahun 1938. 
    Lobster di Wamena

    Meski bermodal bumbu seadanya, udang selingkuh sudah dapat dihidangkan dengan cita rasa yang enak dan khas. Keistimewaan lain udang selingkuh terletak pada kandungan proteinnya yang amat kaya. Sehingga, di samping terasa enak dan lezat di lidah, mengkonsumsi hidangan seafood ini juga bagus untuk kesehatan para penikmatnya. Uniknya, selain digoreng, udang selingkuh kerap pula dihidangkan dengan direbus. Bagi yang suka digoreng, kuliner ini akan terasa nikmat bila disandingkan di atas meja dengan nasi hangat, tumis kangkung, dan aneka saus, seperti saus mentega, saus tiram, saus padang, dan saus asam manis. Apabila direbus, alangkah lebih sedapnya andaikata ditemani sepiring nasi hangat plus sambal tomat dan lalapan. Selain itu, meskipun jarang dilakukan, udang selingkuh juga dapat dihidangkan dengan cara dibakar.  
    Menyantap menu udang selingkuh dengan sambal yang pedas dan didampingi minuman yang serba hangat tentu akan lebih nikmat lagi. Mengingat letak topografi Kota Wamena yang berada di ketinggian dan berhawa sejuk, yaitu sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut (dpl) di kaki pegunungan Jayawijaya yang kesohor mempunyai salju abadi di puncaknya itu. Kondisi alam yang demikian sangat cocok bila menikmati aneka hidangan dan minuman yang dapat menghangatkan tubuh. Misalnya, minum kopi Wamena yang terkenal memiliki cita rasa dan aroma yang berbeda dibandingkan dengan kopi dari daerah lain di Indonesia. Sebab di Wamena, kopi—dan bahkan mayoritas komoditas pertanian dan perkebunan di Kabupaten Jayawijaya—dibudidayakan mengandalkan tanah vulkanik tanpa menggunakan bahan pestisida.

    Harga Per Porsi Udang Selingkuh

    Harga udang selingkuh terbilang mahal, yaitu berkisar antara Rp 70.000—Rp 100.000 per porsi plus sepiring nasi (September 2007). Hal ini disebabkan keberadaan udang tersebut yang langka di pasar dan tidak tersedia di sembarang tempat.  Bagi pelancong yang ingin mencicipi kuliner daerah yang terkenal dengan Kepulauan Kepala Burung ini, dapat mengunjungi rumah makan dan restoran yang berada di jalan-jalan protokol kota tersebut, seperti di Jalan Trikora, Kota Wamena, Provinsi Papua.

Keistimewaan Keripik Sanjai Khas Bukittinggi

    Keistimewaan Keripik Sanjai Khas Bukittinggi
    Keripik Sanjai Pedas
    Keripik Sanjai atau kerupuk singkong merupakan salah satu ikon wisata kuliner dari Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, selain masakan rendang. Bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke kota ini tidak akan lengkap rasanya jika tidak membeli penganan kerupuk sanjai sebagai buah tangan (oleh-oleh). Keripik Sanjai merupakan jenis kerupuk yang terbuat dari singkong yang diiris atau dipotong tipis. Setelah selesai dipotong, kemudian singkong dijemur sampai kering agar mudah digoreng dan hasilnya renyahSupaya hasil gorengan tidak hambar, maka setelah singkong diangkat dari penggorengan dan didiamkan untuk beberapa saat lalu ditaburi bumbu penyedap. Setelah proses ini selesai, maka Keripik Sanjai telah siap disajikan untuk santapan keluarga maupun untuk dijual.
    Biasanya penganan ini dijual di pasar-pasar yang terdapat di Kota Bukittinggi. Para pedagang dapat berjualan dengan leluasa karena didukung oleh Pemerintah Kota Bukittinggi yang sengaja membangun lokasi khusus di dalam pasar bagi pedagang untuk berjualan aneka penganan terutama Keripik Sanjai. Selain di Kota Bukittinggi, di beberapa kota seperti Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kota Padang juga dapat dijumpai pedagang yang menjual Keripik Sanjai.

    Keistimewaan Keripik Sanjai Khas Bukittinggi
    Pabrik Keripik Sanjai

    Keripik Sanjai yang dibuat oleh masyarakat Kota Bukittinggi memiliki rasa yang enak dan renyah. Kelebihan ini tentu sangat berkaitan dengan proses pengolahan yang baik dan pemilihan bahan baku yang tepat. Kelebihan lainnya, Kerupuk Sanjai juga terkenal tahan dalam waktu yang cukup lama tanpa berubah rasanya. Dalam pengolahan bahan hingga jadi penganan, para pembuat keripik memerlukan waktu yang cukup panjangMisalnya, dalam memilih bahan baku (singkong) mereka memilih singkong dengan kualitas bagus yang sengaja didatangkan dari berbagai tempat. Singkong ini kemudian diiris atau dipotong tipis lalu dijemur di bawah terik mentari, sehingga kadar air yang ada di dalam singkong dapat mengering.

    Setelah dirasa cukup, singkong yang telah dijemur kemudian digoreng. Biasanya proses penggorengan ini menggunakan sebuah wadah besar (kuali) dengan minyak goreng yang bagus. Hal ini dilakukan, agar rasa keripik yang digoreng tidak bercampur dengan bekas penggorengan yang lain dan hasil gorengan pun terasa lebih renyah. Setelah kerupuk selesai digoreng, langkah selanjutnya adalah membuat bumbu untuk kerupuk. Agar keripik yang digoreng tidak terasa hambar, maka perlu dicampur dengan bumbu untuk menciptakan rasa yang lezat. Kerupuk Sanjai juga diolah dan disajikan dalam beberapa aneka rasa yang berbedaPara pembuatnya mengembangkan beberapa pilihan rasa, seperti rasa asin, tawar, kombinasi asin dan manis, rasa pedas, serta kombinasi manis dan pedasPenyajian Kerupuk Sanjai dengan aneka rasa tersebuttentunya akan memberikan banyak alternatif pilihan bagi para pembeli.

    Harga Keripik Sanjai Per Bungkus

    Biasanya Keripik Sanjai dijual dalam kemasan plastik dengan harga standar Rp 5.000 per bungkus. 
    Penganan Keripik Sanjai dapat dijumpai di beberapa lokasi di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Lokasi tersebut antara lain di daerah Biaro, Pasar Atas, Pasar Bawah, Pasar Padang Luar, dan Pasar Aur Kuning di Kota Bukittinggi.

     
    Harga Keripik Sanjai

    Untuk mencapai lokasi-lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum (bus) atau mobil sewaan dari Kota Padang, Sumatra BaratJika menggunakan angkutan umum (bus), perjalanan dapat dimulai dari Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) Ketaping, Padang menuju Kota Bukittinggi (Padang Luar dan Aur Kuning) dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan biaya antara Rp 20.000—Rp 25.000 per orang. Untuk menuju daerah Padang Luar dan Aur Kuning, perjalanan hanya ditempuh dengan satu kali naik kendaraan umum (bus). Sementara untuk daerah yang lain, seperti Biaro dan Pasar Atas serta Pasar Bawah perjalanan ditempuh dengan dua kali naik kendaraan umum (bus). Setelah wisatawan sampai di Kota Bukittinggi, perjalanan kemudian dilanjutkan ke lokasi (Biaro, Pasar Atas, dan Pasar Bawah) menggunakan angkutan perkotaan dengan ongkos sekitar Rp 3.000 sedangkan daerah Biaro dengan ongkos sekitar Rp 5.000 

Senin, 04 Juli 2016

Rujak Aceh Samalanga

Rujak Aceh Samalanga
Rujak Aceh Samalanga

Rujak Aceh Samalanga berada di sebuah warung makan khas Aceh. Di warung itu tidak hanya rujak Aceh Samalanga yang dijual, namun juga mie Aceh, martabak telur, dan roti cane. Rujak Aceh Samalanga merupakan kuliner terfavorit di warung itu. Setiap hari banyak pembeli yang datang ke sana dan setiap hari pula rujak Aceh Samalanga habis terjual. Rujak Aceh ini dijual dari pukul 11:00 WIB hingga pukul 18:00 WIB.

Keistimewaannya terletak pada cita rasanya yang asam, manis dan pedas. Bahan-bahan yang digunakan relatif sama seperti pembuatan rujak pada umumnya, yang terdiri dari buah mangga, pepaya, kedondong, bengkuang, jambu air, nenas, dan timun, namun bumbu-bumbu yang digunakan, memiliki ciri khas tersendiri seperti garam, cabe rawet, asam jawa, gula aren (merah) yang cair, kacang tanah dan pisang monyet (pisang batu). Selain itu cara pembuatannya juga menarik, di atas tempat ulekan yang besar, yang terbuat dari kayu jati yang didatangkan dari Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun. Ketrampilan mengolah rujak dari seorang penjual yang bernama Sahirman, sangat menarik untuk dilihat. Sahirman mengatakan bahwa rujak Aceh Samalanga sekali dibuat di dalam tempat ulekan yang besar itu adalah untuk 50 porsi. Dalam sehari ia biasanya membuat hingga tujuh kali, kecuali hari Minggu, ia membuat hingga sepuluh kali.


Penyajian Rujak Aceh Dengan Daun Pisang
Penyajian Rujak Aceh Dengan Daun Pisang


Cara penyajiannya dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ditaruh di dalam piring dan yang kedua ditaruh di atas daun pisang. Pembeli yang makan di warung, biasanya disediakan di dalam piring, sedangkan yang akan dibawa pulang, biasanya dibungkus dengan daun pisang atau dibungkus kertas yang di dalamnya sudah dilapisi daun pisang.

Harga Rujak Aceh Samalanga per Porsi

Harga per porsinya (dalam piring) sebesar Rp. 5.000,00 (Maret 2008) dan harga per porsi yang dibungkus sebesar Rp. 7.000,00 (Maret 2008). Rujak yang dibungkus lebih banyak porsinya daripada yang di dalam piring. Rujak ini dapat dijumpai di Warung yang berada di Kelurahan Sei Putih Timur, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Akses menuju ke lokasi ini sangat mudah, karena warung ini berada di Jalan Gatot Soebroto di persimpangan Jalan Pasundan No. 220. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti taxi, angkutan umum, becak mesin, dan becak dayung.

Oleh karena lokasinya berada di tengah Kota Medan, dengan demikian tidak sulit mencari penginapan kelas melati atau pun hotel berbintang.