Senin, 15 September 2008

Legitnya Bakpia Pathok Yogyakarta

Bakpia Pathuk

Bakpia Pathok merupakan penganan khas Yogyakarta yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta menjadikan Bakpia sebagai oleh-oleh wajib bagi kerabat mereka di rumah. Namun, satu hal yang perlu Anda ketahui, Bakpia sebenarnya bukanlah makanan yang berasal asli dari Yogyakarta, melainkan berasal dari China.

Di negara asalnya, Bakpia memiliki nama asli Tou Luk Pia (berasal dari dialek Hokkian) yang secara harafiah berarti kue yang berisi daging. Entah lidah siapa yang pertama kali ‘terpeleset’ menyebutnya menjadi Bakpia. Meskipun berasal dari China, Bakpia yang ada di Yogyakarta telah mengalami adaptasi rasa dan evolusi bentuk yang disesuaikan dengan lidah masyarakat lokal. Bakpia yang ada di Yogyakarta tidak lagi berisi daging, melainkan berisi kacang hijau. Lantas bagaimana awal mula Bakpia menjadi makanan khas Yogyakarta?

Pada tahun 1948, ada keluarga keturunan Tionghoa bernama Goei Gee Oe yang mencoba membuat Bakpia sebagai industri rumahan. Saat itu Bakpia buatannya tidak dijual di toko melainkan dijajakan secara eceran, dari rumah ke rumah. Bakpia buatan Goei Gee Oe itu juga belum dikemas dan diberi label seperti saat ini, melainkan hanya dimasukkan dalam besek (wadah makanan berbentuk kotak yang terbuat dari anyaman bambu).

Setelah sekian lama berlalu, peminat Bakpia pun semakin meningkat, sehingga pada tahun 1980 mulai muncul produsen-produsen Bakpia di kawasan Pathok. Kali ini para pembuat Bakpia tidak lagi menjualnya dari pintu ke pintu melainkan sudah membuka toko di rumahnya. Bakpia pun dikemas menggunakan dos atau kertas karton dengan merk dagang berupa nomer rumah pembuatnya dan dikenal dengan nama Bakpia Pathuk. Pelabelan Bakpia dengan merk dagang berupa nomor rumah itu masih tetap bertahan hingga saat ini. Oleh karena itu, Anda tidak perlu bingung saat melihat merk Bakpia yang terdiri dari angka-angka yang berbeda.

Manis, legit, dan gurih. Itu adalah kata yang biasa muncul dari orang-orang yang baru saja menikmati Bakpia. Tentu saja hal itu benar. Rasa manis dan legit tercipta dari campuran kacang hijau dan gula sebagai isi Bakpia. Sedangkan rasa gurih muncul dari kulit luar yang terbuat dari adonan tepung dicampur dengan minyak nabati yang kemudian dipanggang. Perpaduan rasa itu menimbulkan kenikmatan tersendiri dalam setiap gigitannya.

Dapur Pembuatan Bakpia Pathuk


Seiring dengan tuntutan pelanggan, saat ini Bakpia tidak hanya berisikan kacang hijau saja. Bagi Anda yang suka keju, saat ini telah hadir Bakpia dengan isi keju. Selain itu, ada juga Bakpia dengan isi kumbu hitam dan cokelat. Citarasa yang muncul pun menjadi semakin bervariasi sehingga tidak membosankan pelanggannya.

Toko Bakpia yang ada di kawasan Pathuk Yogyakarta tidak hanya menjual Bakpia saja. Namun, mereka juga menawarkan pesona wisata tersendiri yakni pembeli diijinkan melihat proses pembuatan Bakpia. Tak hanya itu, toko yang sekaligus pabrik ini juga memperbolehkan wisatawan untuk turut serta mencoba membuat Bakpia, mencampur adonan isi dengan kulit kemudian memanggangnya. Tentu saja ini menjadi satu keistimewaan tersendiri. Selain bisa mendapatkan Bakpia dengan rasa sesuai selera, pembeli juga mendapatkan wawasan baru tentang cara pembuatan Bakpia.

Harga Satu Kotak Bakpia Pathok


Harga satu kotak Bakpia bervariasi tergantung dari jumlah, isi, dan merknya. Bakpia dengan isi coklat atau keju tentu lebih mahal dibandingkan dengan Bakpia isi kacang hijau. Rata-rata harga satu kotak Bakpia berkisar antara Rp 15.000,00 – Rp. 25.000,00.Harga satu kotak Bakpia bervariasi tergantung dari jumlah, isi, dan merknya. Bakpia dengan isi coklat atau keju tentu lebih mahal dibandingkan dengan Bakpia isi kacang hijau. Rata-rata harga satu kotak Bakpia berkisar antara Rp 15.000,00 – Rp. 25.000,00.

Harga Bakpia Pathok

Menemukan oleh-oleh khas Kota Yogyakarta ini merupakan hal yang mudah, karena hampir semua toko oleh-oleh yang tersebar di Yogyakarta menjual penganan khas ini. Namun, jika Anda ingin melihat proses pembuatannya, lebih baik Anda membelinya di pusat pembuatan Bakpia ini, yakni di Jalan Aip II KS Tubun, Pathuk, Ngampilan, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Provinsi DIY.

Daerah yang terletak di belakang kawasan Malioboro ini mudah dicapai menggunakan becak, andong, kendaraan bermotor, maupun berjalan kaki. Di Pathuk, Anda dapat memilih Bakpia sesuka hati. Karena di kawasan itu terdapat banyak toko Bakpia yang menjual Bakpia dengan berbagai macam rasa.

Senin, 01 September 2008

Kipo Camilan Khas Kotagede Yogyakarta

Kipo Camilan Khas Kotagede Yogyakarta
Kipo

Bisa jadi kening Anda akan sedikit berkerut saat mendengar kata Kipo. Kemudian saat mengetahui bahwa Kipo adalah nama makanan mungkin Anda akan menduga bahwa makanan tersebut sejenis dengan Bakpao dan sama-sama berasal dari negeri China. Sekilas dengar memang ada sedikit kemiripan antara Kipo dan Bakpao. Tapi Anda jangan buru-buru menyimpulkan. Satu hal yang harus Anda ketahui bahwa Kipo dan Bakpao merupakan makanan yang berbeda jauh, baik dari segi bentuk, rasa, maupun asal makanan tersebut.

Kipo merupakan camilan khas yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta. Berbentuk bulat kecil dengan paduan rasa manis dan gurih, sangat pas dijadikan penganan pendamping minum teh di sore hari. Nama Kipo sendiri berasal dari singkatan kata “Iki opo?” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti “ini apa?”.

Adalah Bu Djito, seorang wanita yang berdomisili di Kotagede yang pertama kali berinisiatif menciptakan penganan ini. Sekitar tahun 60-an beliau mulai memproduksi Kipo untuk dijual diwarungnya. Saat itu Kipo belum memiliki nama. Ketika banyak orang melihat penganan unik tersebut mereka lantas bertanya “Iki Opo?”. Dari pertanyaan yang sering muncul itulah lantas Bu Djito memutuskan memberi nama Kipo bagi penganan yang dibuatnya.

Larisnya Kipo buatan Bu Djito membuat banyak warga Kotagede membuat penganan yang sama dan menjualnya di sudut-sudut Kotagede. Oleh karena itu, Kipo disebut sebagai makanan khas Kotagede. Berbeda dengan Bakpia Patuk maupun Gudeg yang bisa dijumpai di seluruh sudut Kota Yogyakarta, Kipo ini hanya ditemukan di Kotagede dan tidak dijual di tempat lain. Jadi, Anda yang penasaran dan ingin mencicipi penganan unik bernama Kipo ini silakan datang ke Kotagede untuk membelinya.

Kipo Camilan Khas Kotagede Yogyakarta
Kios Kipo Bu Djito

Salah satu keunikan Kipo tentu saja terletak pada bentuk dan rasanya yang terkesan ndeso. Sepotong Kipo besarnya tidak lebih dari ibu jari orang dewasa, dan rata-rata berbentuk bulat pipih. Kipo terbuat dari adonan beras ketan yang dicampur santan dan garam, kemudian diisi dengan enten-eten yang terbuat dari parutan kelapa muda dicampur dengan gula jawa. Setelah adonan selesai dibentuk, adonan ini akan disusun di atas daun pisang kemudian dipanggang menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat. Aroma wangi daun pandan dan daun pisang akan mengiringi adonan yang sedang dipanggang.

Pada awal-awal pembuatannya, Kipo ini dipanggang dengan cara tradisional, yakni menggunakan tungku kayu. Namun seiring perkembangan zaman, hampir sebagain besar produsen Kipo beralih menggunakan kompor minyak maupun kompor gas untuk memanggang adonan Kipo. Walaupun proses pemanggangan sudah tidak menggunakan tungku lagi, cita rasa Kipo tidaklah berbeda jauh dengan Kipo yang dimasak secara tradisional.

Kipo Camilan Khas Kotagede Yogyakarta
Kipo yang sedang dipanggan dengan daun pisang

Keistimewaan lainnya adalah pewarna yang digunakan untuk mewarnai Kipo berasal dari pewarna alami bukan bahan-bahan kimia. Warna hijau yang digunakan untuk pewarna adonan berasal dari perasan daun suji dan daun pandan. Sedangkan enten-enten berwarna coklat karena hasil perpaduan antara parutan kelapa dan gula jawa.

Berhubung Kipo tidak menggunakan bahan pengawet, maka makanan ini tidak tahan lama. Kipo paling hanya bertahan satu hingga dua hari. Jadi jika Anda ingin menjadikan Kipo sebagai oleh-oleh liburan Anda, lebih baik Anda membelinya sesaat sebelum Anda beranjak meninggalkan Yogyakarta.

Harga Camilan Kipo

Untuk dapat menikmati makanan khas yang unik ini, Anda tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Satu bungkus kipo biasanya di jual dengan rentang harga Rp 1.000,00 – Rp 1.500,00. Dalam satu bungkus terdapat 5 buah kipo. Anda tertarik mencicipinya? Segeralah bergegas ke Kotagede, Yogyakarta. 

Kipo Camilan Khas Kotagede Yogyakarta


Camilan khas ini hanya dapat Anda temukan di daerah Kotagede, Yogyakarta, tepatnya di sepanjang jalan Mondarakan atau di Pasar Kotagede. Untuk mencapai lokasi tersebut Anda dapat menggunakan bus Trans Jogja trayek 3A dan 3B dengan ongkos Rp 3.000 untuk sekali jalan. Anda juga bisa naik taksi, Andong, atau becak guna menuju daerah tersebut.

Sop Senerek Masakan Khas Kota Magelang

    Sop Senerek Masakan Khas Kota Magelang
    Sop Senerek

    Apa persamaan antara Getuk Magelang dan Sop Senerek? Jawabannya adalah, kedua makanan tersebut sama-sama berasal dari Kota Magelang. Namun, meski berasal dari kota yang sama, ada satu hal yang membedakan keduanya. Jika Getuk Magelang merupakan makanan berbahan dasar ketela dengan resep asli Indonesia, Sop Senerek adalah makanan yang terpengaruh oleh resep masakan Belanda.
    Sop Senerek merupakan makanan favorit penduduk Kota Magelang yang telah ada sejak zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Kata Senerek sendiri bermula dari bahasa Belanda “Snert” yang artinya kacang polong. Untuk memudahkan pengucapan, warga Magelang zaman dulu mengubah kata Snert menjadi Senerek. Namun pengadopsian kata ini sebenarnya juga kurang sesuai karena bahan dasar Sup Senerek bukanlah kacang polong yang berwarna hijau melainkan kacang merah.
    Menikmati semangkuk Sop Senerek yang berisi daun bawang, kacang merah, bayam, potongan iga sapi serta kuah panas yang beraroma sedap, ditemani rintik hujan sore hari di Kota Magelang akan menjadi pengalaman yang selalu ingin Anda ulang.
    Bahan utama untuk membuat sup ini adalah kacang merah dan potongan iga sapi. Proses memasak Sop Senerek tidak jauh berbeda dengan memasak sup lainnya. Hanya saja Sup Senerek membutuhkan waktu yang agak lama. Hal ini dikarenakan lamanya proses pengempukan kacang merah dan iga sapi. Semakin lama memasak, kuah atau kaldu yang dihasilkan akan semakin lezat dan rasa bumbu-bumbu akan menyatu. Setelah kacang merah dan iga sapi hampir empuk, masakan tersebut ditambah pula dengan irisan wortel, daun bawang, serta bayam. Bagi Anda yang mengalami gejala flu, sup ini sangat bagus untuk dikonsumsi. Hal ini dikarenakan Sup Senerek kaya akan protein dan vitamin yang diperlukan bagi kekebalan tubuh. Apalagi jika ditambahkan dengan sedikit sambal atau kecap, sensasi rasa Sup Senerek dijamin semakin membuat lidah bergoyang.

    Harga Sop Senerek per Porsi

    Hanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp7.000,00 pengunjung sudah dapat menikmati semangkuk Sop Senerek yang lezat ini bersama sepiring nasi putih.  Hampir di setiap sudut Kota Magelang terdapat warung yang menyajikan Sop Senerek sebagai menu utamanya. Namun, ada satu warung yang terkenal dan ramai dikunjungi pembeli, yaitu Warung Bu Atmo. 

    Sop Senerek Masakan Khas Kota Magelang
    Sop Senerek bu Admo

    Warung Sop Senerek Bu Atmo sudah ada sejak tahun 1967. Warung ini terletak kira-kira 2 kilometer dari Alun-alun Kota Magelang, tepatnya di Jalan Mangkubumi, kawasan Jendralan Magelang.