Rabu, 11 Juni 2008

Rahasia dibalik Kerenyahan Pisang Goreng Pontianak

    Rahasia dibalik Kerenyahan Pisang Goreng Pontianak
    Pisang Goreng Pontianak

    Bila Anda berkunjung ke Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, jangan lupa menikmati salah satu menu andalan daerah yang dijuluki dengan Kota Khatulistiwa ini, yaitu pisang goreng Pontianak. Sebab, pisang goreng Pontianak telah menjadi ikon wisata kuliner kota yang berada di tepi Sungai Kapuas tersebut, di samping aneka makanan dan minuman yang berbahan dasar daun lidah buaya (aloe vera) tentunya.
    Pisang goreng asli Pontianak disayat tipis-tipis menjadi 4 hingga 7 potong, di mana bentuknya menyerupai sebuah kipas. Seiring dengan berjalannya waktu, pisang goreng Pontianak juga mengalami “modifikasi”. Salah satu dari modifikasi tersebut adalah dua buah pisang dijadikan satu dan lalu digoreng, sehingga terkesan lebih besar dari sebelumnya yang hanya terdiri dari satu buah pisang. Begitu juga dengan bentuknya, yang tidak mesti menyerupai sebuah kipas, tapi bisa juga seperti fried chicken, crispy  nugget, atau ayam kremes.
    Maka, bagi Anda yang berada di Kota Pontianak, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati pisang goreng yang sudah terkenal ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri ini, seperti Malaysia dan Belanda.
    Kekhasan pisang goreng Pontianak terletak pada bahan bakunya yang menggunakan pisang gepok atau pisang nipah. Jenis pisang ini dipilih karena kandungan kadar airnya sedikit sehingga ketika digoreng tidak lembek. Agar aroma goreng pisang lebih harum, minyak yang akan digunakan untuk menggoreng terlebih dahulu diberi daun pandan.  Hal lain yang membedakan pisang goreng Pontianak dengan pisang goreng dari daerah lain di Nusantara adalah pada proses penggorengannya. Bila pisang goreng di daerah lain pada umumnya digoreng satu kali, pisang goreng Pontianak digoreng dua kali pada dua tempat penggorengan yang berbeda. Pada tahap pertama, pisang digoreng setengah matang. Sedangkan pada tahap kedua, pisang digoreng hingga matang. Bahkan, untuk mendapatkan hasil yang lebih garing, pisang tersebut digoreng hingga tiga kali.

    Rahasia dibalik Kerenyahan Pisang Goreng Pontianak
    Proses Menggoreng

    Menu yang enak disantap pada pagi atau sore hari dengan ditemani segelas kopi atau teh ini akan lebih nikmat lagi apabila ditambahkan srikaya, selai, coklat, margarin, dan kacang pada pisang gorengnya.  
    Selain itu, pisang goreng Pontianak juga bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga atau kolega. Sebab, pisang goreng Pontianak tahan sampai seharian tanpa mengurangi citarasa serta tetap garing dan renyah. Bahkan, pisang yang digoreng separoh matang dapat bertahan tiga hingga empat hari. Setibanya di tempat tujuan, baru digoreng sampai matang.  

    Harga Pisang Goreng Pontianak Per Potong

    Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 300—600 per potong, pelancong sudah dapat menikmati pisang goreng Pontianak yang empuk dan gurih tersebut. Bagi wisatawan yang berada di Kota PontianakProvinsi Kalimantan Barat, dapat dengan mudah menemukan penjual pisang goreng Pontianak di berbagai tempat di Kota Khatulistiwa tersebut.

Rabu, 04 Juni 2008

Sate Klatak Ikon Wisata Kuliner Yogyakarta

Sate Klatak Ikon Wisata Kuliner Yogyakarta
Sate Klatak

Berbeda dengan sate-sate lainnya yang biasa dimasak menggunakan bumbu yang beragam, Sate Klatak hanya dibumbui dengan garam dan dipanggang menggunakan jerusi besi. Meskipun terkesan sederhana, namun justru kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik sate tersebut. Sate Klatak ini bahkan mampu menjadi salah satu ikon wisata kuliner Yogyakarta.

Pada mulanya, warung Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran, Bantul, merupakan milik Mbah Ambyah. Saat itu warga Jejeran banyak yang memelihara kambing, sehingga tercetuslah ide dari Mbah Ambyah untuk membuat sate berbahan dasar kambing. Beliau pun memulai usahanya di bawah pohon melinjo pada tahun 1946. Setelah Mbah Ambyah meninggal, warung ini kemudian diwariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya.

Melihat peminat Sate Klatak yang mulai bertambah banyak, warga di sekitar Jejeran pun mulai membuka usaha yang sama, mendirikan warung Sate Klatak. Mereka tidak hanya berjualan di sekitar Pasar Jejeran, melainkan membuka warung di sepanjang Jalan Imogiri Barat. Bahkan, banyak di antara mereka yang membuat restoran dan digarap secara professional.

Sejarah mengenai penamaan Sate Klatak sendiri cukup beragam dan sampai saat ini belum diketahui secara pasti mana yang benar. Ada yang mengatakan bahwa kata klatak berasal dari bunyi daging yang dipanggang. Namun, ada pula yang berujar bahwa kata klatak berasal dari bunyi buah melinjo yang jatuh di sekitar Warung Mbah Ambyah.

Saat ini, tempat yang semula adalah warung milik Mbah Ambyah telah berubah menjadi Pasar Jejeran. Generasi penerus usaha keluarga milik Mbah Ambyah tersebut tetap melanjutkan berjualan Sate Klatak di Pasar Jejeran.

Ketika sate-sate lainnya mengandalkan bumbu yang beragam sebagai daya tarik utamanya, maka Sate Klatak tetap bertahan hanya menggunakan garam sebagai bumbu utamanya. Namun, justru disitulah letak keunikan rasa yang membuat Sate Klatak terus dikenang oleh para penikmatnya. Bagi Anda yang baru pertama kali membeli Sate Klatak mungkin akan sedikit tertegun saat mengetahui jumlah tusukan yang ada dalam satu porsi Sate Klatak, karena satu porsi sate hanya terdiri dari dua tusuk saja. Namun, meski sate ini hanya terdiri dari dua tusuk, irisan daging yang digunakan untuk membuat sate ini terbilang cukup besar dibandingkan dengan irisan daging pada sate-sate biasa.

Tusuk yang digunakan untuk menusuk sate ini pun terbilang unik. Jika sate-sate lain ditusuk menggunakan tusuk yang terbuat dari bambu, maka tusuk Sate Klatak terbuat dari jeruji besi. Tusuk dari jeruji besi ini digunakan karena sifat besi yang merupakan penghantar panas yang baik. Sehingga irisan daging sate yang berukuran besar bisa matang dengan sempurna di bagian dalamnya. Untuk menghindari adanya karat dalam tusuk jeruji besi, penjual sate biasanya menggosok jeruji dengan pasir setelah dipakai.

Sate Klatak Ikon Wisata Kuliner Yogyakarta
Sate Klatak dengan Jeruji Besi


Anda yang ingin melihat proses pembakaran Sate Klatak dapat duduk di lincak (kursi kecil panjang dari bambu) yang disediakan oleh penjual sate. Namun, apabila Anda ingin duduk lesehan, penjual telah menyediakan tikar. Sambil menunggu sate matang, Anda dapat bercakap-cakap dengan penjual sate atau dengan rekan-rekan Anda.

Sate Klatak yang sudah matang biasa disajikan dengan irisan tomat, mentimun, dan kol. Selain itu ada juga kuah kari yang menjadi pendamping untuk menikmati Sate Klatak. Jika Anda masih ragu dengan rasa sate yang hanya dibumbui garam, Anda dapat minta kepada penjual untuk menyediakan bumbu kecap. Menikmati seporsi Sate Klatak, dan segelas teh gula batu pada malam hari akan menjadi paduan yang sangat pas.

Lantaran keunikan bentuk, tempat, dan juga rasanya, Sate Klatak sering menjadi tempat singgah para seniman Yogyakarta untuk menghabiskan sisa malam. Salah satu seniman yang sering berkunjung adalah Butet Kertaradjasa. Selain seniman lokal, artis ibukota pun ada yang menyukai Sate Klatak, semisal Dian Sastro dan Rieke Dyah Pitaloka.

Harga Sate Klatak Per Porsi

Dibandingkan dengan harga sate lainnya, harga Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran tergolong cukup tinggi. Satu porsi yang hanya terdiri dari dua tusuk sate, penikmat harus membayar Rp 10.000,00, satu setengah porsi Rp 15.000,00 dan untuk porsi jumbo seharga Rp 20.000,00. Menurut salah seorang penjual Sate Klatak, tingginya harga sate ini dikarenakan irisan dagingnya yang besar-besar dan menggunakan daging kambing terbaik.

Sate Klatak Ikon Wisata Kuliner Yogyakarta
Sate Klatak di Pasar Jejeran

Untuk dapat menikmati Sate Klatak dari tempat asalnya, Anda dapat berkunjung ke Pasar Jejeran, Kecamatan Pleret, Bantul, Yogyakarta. Akses menuju tempat itu terbilang mudah. Dari Terminal Giwangan, Anda bisa langsung menuju ke arah Selatan menyusuri Jalan Imogiri Timur. Penjual Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran biasanya mulai berdagang pada pukul 18.30 WIb hingga larut malam. Hal ini dikarenakan tempat mereka berjualan Sate Klatak , di siang harinya digunakan oleh pedagang pasar untuk berjualan. Sehingga untuk mulai menggelar dagangan Sate Klataknya,  mereka harus menunggu pedagang Pasar Jejeran pulang terlebih dulu.

Jika Anda tidak sabar menunggu malam, Anda dapat mampir ke warung Sate Klatak yang ada di sepanjang Jalan Imogiri Timur. Di tempat itu banyak penjual sate yang membuka warungnya sejak pagi hingga malam. Selain itu, Anda juga bisa menikmatinya di warung Sate Klatak yang ada di daerah Purawisata, Yogyakarta.