Rabu, 28 Mei 2008

Lezatnya Siput Gonggong di Pulau Bintan

Lezatnya Siput Gonggong di Pulau Bintan
Siput Gonggong

Jalan-jalan ke Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia, jangan lupa untuk mencicipi gonggongHahh... gonggong? Mungkin Anda akan terkejut ketika mendengar nama makanan ini. Karena, gonggong lebih sering diidentikkan dengan suara anjing. Namun, jangan salah sangka dulu. Di Pulau Bintan, gonggong merupakan nama untuk jenis siput laut, yang hanya terdapat di perairan sekitar pulau ini. Oleh penduduk sekitar, siput laut ini kemudian diolah menjadi masakan yang lezat rasanya. Maka tak salah jika gonggong dikatakan sebagai makanan khas dari Pulau Bintan.

Rasa daging siput gonggong yang telah dimasak sangatlah enak. Tak heran jika penggemar daging siput ini bukan hanya masyarakat Pulau Bintan saja, namun juga dari daerah lain. Banyak orang dari luar Pulau Bintan, bahkan dari luar Kepulauan Riau, yang tidak mau melewatkan kesempatan menikmati siput gonggong jika datang ke Pulau ini. Biasanya, gonggong disajikan dengan cara yang cukup sederhana, yakni direbus bersama dengan garam dan irisan jahe yang berguna untuk menghilangkan bau amis. Untuk menambah cita rasa, gonggong yang telah direbus dapat disantap bersama sambal. Nah, sambal yang disajikan bersama gonggong rebus ini berbeda-beda, bergantung pada warung yang Anda kunjungi. Ada yang menggunakan sambal kacang, sambal tauco, atau sambal kecap.

Untuk memakan siput gonggong dibutuhkan cara khusus, yakni dengan menggunakan bantuan tusuk gigi agar daging bisa diambil dari cangkangnya. Cara menariknya pun harus dengan trik khusus, mengikuti bentuk cangkang siput tersebut. Karena, jika sembarangan dagingnya akan putus dan Anda akan sulit untuk mengorek-ngoreknya lagi.

Harga per Porsi Siput Gonggong

Harga seporsi gonggong memang tidak bisa dibilang murah. Untuk menikmatinya, pengunjung perlu merogoh saku sebesar Rp 25.000,00—Rp 35.000,00. Hampir setiap restoran sea food yang banyak tersebar di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia, menyediakan gonggong sebagai salah satu menunya.

Senin, 05 Mei 2008

Jadah Tempe Kuliner Khas Kaliurang

Jadah Tempe Kuliner Khas Kaliurang
Jadah Tempe

Mengunjungi sejuknya Kaliurang di lereng Gunung Merapi tidaklah lengkap rasanya jika belum merasakan kekhasan rasa jadah tempe. Ya, jadah tempe adalah penganan tradisional yang menjadi simbol kuliner khas dari Kaliurang yang terletak lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kombinasi dari rasa dan tekstur yang kontras memang menjadi keunikan tersendiri dari jadah tempe, apalagi jika dinikmati dalam suasana sejuk nan asri yang senantiasa hadir di Kaliurang. Jadah tempe seolah telah menjadi legenda yang beredar di lereng Merapi yang fenomenal itu. Dari budayawan Bagong Kusudiarjo sampai pelukis Affandi serta tokoh-tokoh lainnya sering menyambangi Kaliurang hanya untuk memuaskan hasrat seni kuliner mereka, yaitu dengan menyantap jadah tempe.

Dari sekian banyak pembuat dan penjual jadah tempe yang tersebar di seantero Kaliurang maupun di Kota Yogyakarta, ada satu yang paling legendaris, yaitu jadah tempe buatan Mbah Carik. Tidak dapat dipungkiri bahwa jadah tempe Mbah Carik sudah menjadi trade mark yang harus selalu diingat apabila kita menyebut jadah tempe. Carik adalah istilah untuk jabatan sekretaris desa dalam struktur pemerintahan di perdesaan. Nama asli Mbah Carik adalah (alm.) Sastro Dinomo yang juga menjabat sebagai carik di Pakem. Penamaan jadah tempe buatan Sastro Dinomo menjadi Mbah Carik itu ternyata punya sejarah dan cerita tersendiri.

Sejak era 1950-an, Sastro Dinomo sudah gemar mengolah makanan dari bahan dasar ketan, salah satunya adalah jadah. Pada masa itu, jadah bukanlah makanan yang populer, bahkan penganan ndeso ini nyaris tidak dikenal. Keadaan tiba-tiba berubah drastis sejak rombongan dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengadakan kunjungan ke Kaliurang yang dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX (1912-1988). Dalam kunjungan itu, Sri Sultan Hamengku Buwana IX tertarik setelah melihat lapak dagangan yang menjual jajanan jadah dan tempe yang ada di sekitar Telogo Putri Kaliurang. Sang Raja sempat ngotot mampir ke warung jadah tempe yang ternyata milik Carik Sastro Dinomo tersebut dan tanpa memperdulikan statusnya sebagai raja yang agung, Sri Sultan Hamengku Buwana IX segera mencicipi jadah dan tempe ala Sastro Dinomo (http://trulyjogja.com).

Hasilnya, sungguh menakjubkan! Sang Raja menjadi ketagihan dengan sensasi rasa unik yang tercipta berkat harmonisasi jadah dan tempe. Sekembalinya ke Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana IX mengutus salah seorang abdi dalemnya untuk kembali ke Kaliurang dengan tujuan untuk menemui penjual jadah tempe tersebut. Sri Sultan Hamengku Buwana IX juga berkenan memberikan sebutan untuk memberi nama makanan yang unik itu. Supaya mudah diingat, Sang Raja menetapkan penganan itu dengan nama jadah tempe, yang artinya penggabungan makanan jadah dan tempe.

Sebelum itu istilah jadah tempe belum dikenal. Orang hanya paham bahwa makanan itu terdiri dari jadah ketan dan tempe bacem. Setelah mengetahui bahwa Sastro Dinomo adalah seorang carik, maka abdi dalem utusan Sri Sultan Hamengku Buwana IX itu mengusulkan agar warung Sastro Dinomo diberi nama warung jadah tempe Mbah Carik. Sejak saat itulah nama Mbah Carik dipakai Sastrodinomo sebagai nama warungnya hingga saat ini. Kendati kemudian banyak usaha jadah tempe lain yang bermunculan seiring populernya makanan tradisional ini, namun kedigdayaan Mbah Carik sebagai raja-nya jadah tempe tetap tidak tergoyahkan.

Jadah Tempe Kuliner Khas Kaliurang
Jadah Tempe Mbah Carik

Usaha tempe jadah Mbah Carik terus berkembang, namun dari tujuh orang anaknya, hanya seorang saja yang mau meneruskan usaha yang dirintis oleh Sastro Dinomo ini, yaitu Sudimah Wirosartino. Saking lekatnya nama Mbah Carik, Sudimah Wirosartino pada akhirnya juga menerima warisan nama yang sama. Selanjutnya, Sudimah Wirosartino menunjuk salah satu anaknya yang bernama Idha Kurniasih, untuk meneruskan usaha jadah tempe Mbah Carik ini.

Tidak dinyana, populeritas jadah tempe Mbah Carik terus melesat. Hal ini membuat usaha-usaha serupa mulai bermunculan dan menjamur di sejumlah tempat, terutama di seputaran kompleks obyek wisata Kaliurang dan sekitarnya. Keturunan Sastro Dinomo yang semula enggan menjamah usaha warisan yang turun-temurun ini akhirnya ikut mengembangkan persebaran jadah tempe dengan membuka cabang di beberapa lokasi di Kaliurang seperti di kawasan Telogo Putri, Regolan, dan Candi. Alhasil, pamor jadah tempe pun semakin terangkat dan perlahan namun pasti memantapkan diri sebagai simbol kuliner dari lereng Merapi.

Keistimewaan jadah tempe terletak pada citra tradisional dan keunikan paduan rasanya yang bagai membenturkan langit dan bumi. Dilihat dari namanya, penganan ini terdiri dari dua jenis makanan, yakni jadah dan tempe. Keunikan itu justru terletak pada kekontrasan dua jenis makanan tersebut, baik rasa maupun teksturnya. Jadah, makanan dari ketan yang di Jakarta dikenal dengan nama uli, memiliki rasa agak hambar tetapi ada juga yang diberi sedikit rasa gurih dengan campuran kelapa di dalamnya. Tekstur jadah sendiri adalah kenyal dan sangat lembut di lidah.

Sedangkan tempe, khususnya tempe bacem, mengandung rasa yang manis namun memiliki tekstur kedelai yang agak kasar. Ketika dua unsur yang berbanding terbalik ini dipadukan dalam satu lahapan, maka lidah yang mengecapnya akan merasakan sensasi yang lain daripada yang lain, yakni sensasi unik yang menghasilkan kenikmatan tiada tara.

Cara membuat jadah tempe pun relatif mudah dan tidak rumit. Sebelum menjadi jadah, beras ketan direndam selama tiga jam, lalu dicuci dan dicampur dengan kelapa parut. Kemudian, beras ketan yang sudah matang itu ditumbuk hingga halus dan menyatu dengan parutan kelapanya. Proses yang selanjutnya adalah jadah yang sudah siap santap itu dikukus selama dua jam dan dibentuk persegi panjang atau lonjong, menyesuaikan dengan bentuk calon pendampingnya, yakni tempe bacem.

Rasa manis tempe bacem sendiri diperoleh dari hasil rendaman air gula kelapa (gula jawa) dan kecap manis. Tempe direbus dengan air gula kelapa bersama kecap manis dan bumbu-bumbu pelengkap dan baru diangkat setelah air rebusan benar-benar tandas. Itulah sebabnya, rasa tempe bacem tidak seperti olahan tempe lainnya yang kebanyakan terasa gurih dan kering, melainkan berasa manis dan agak basah.

Khusus untuk jadah tempe Mbah Carik, proses “pembaceman” tempe dilakukan cukup lama, perebusan tempe dilakukan dari sore hingga pagi. Hal ini dilakukan supaya bumbu-bumbu baceman bisa meresap sedalam-dalamnya ke dalam tempe sehingga rasa manis tempe bacem pun akan lebih mengena. Keaslian rasa jadah tempe yang dijajakan di Kaliurang, khususnya jadah tempe keluarga Mbah Carik, akan semakin terasa karena proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional, yaitu dimasak dengan bahan bakar kayu bakar.

Jadah dan tempe yang telah matang disajikan dalam formasi yang unik. Bentuk jadah disesuaikan dengan bentuk tempe yang menyerupai persegi panjang, atau terkadang berbentuk lonjong dan dengan ketebalan yang pipih. Kedua jenis makanan yang sebenarnya berbeda haluan ini lantas ditumpuk menjadi satu baru kemudian disantap. Jika Anda membeli jadah tempe di Kaliurang atau sejumlah tempat yang khusus menyediakan makanan tradisional  ini, Anda akan mendapati jadah tempe yang masih hangat.

Jadah tempe yang masih hangat inilah yang berpotensi besar akan menggoyang lidah Anda dengan harmonisasi rasa yang kontras, bagai memadukan unsur ying dan yang. Jadah yang lembut, kenyal, dan gurih bersatu dengan tempe bacem yang bertekstur kasar, bergelombang, dan bercita rasa manis khas Jogja. Bagi penyuka pedas, jadah tempe akan lebih nendang apabila dimakan bersama dengan cabai rawit. Akan lebih afdhal lagi apabila Anda menyantap jadah tempe bersama dengan minuman hangat sembari meresapi dinginnya udara di Kaliurang.

Harga Paket Jadah Tempe

Jadah tempe adalah penganan yang tidak sekadar ringan, tetapi juga dapat mengenyangkan perut Anda. Harga untuk satu paket jadah tempe, terdiri dari 10 jadah ditambah sepuluh tempe bacem, cukup murah. Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 10.000,- saja dengan jaminan kenikmatan rasa yang unik dan lapar yang Anda rasakan akan segera terobati. Anda juga bisa membeli jadah tempe secara eceran sesuai keinginan Anda. Selain itu, Anda bisa pula membeli tambahan paket tahu bacem dengan harga yang relatif sama.

Jadah Tempe Kuliner Khas Kaliurang


Anda dipastikan dapat menemukan banyak penjual jadah tempe di kawasan wisata Kaliurang yang menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Sleman, terletak di sebelah utara Kota Yogyakarta. Sedangkan warung jadah tempe Mbah Carik, sebagai pelopor jadah tempe, berpusat di Jalan Astamulya, Kaliurang, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, tidak hanya itu, di sepanjang jalan menuju Kaliurang, telah tersedia empat cabang warung jadah tempe Mbah Carik yang bisa Anda sambangi. Selain itu, jika beruntung, Anda bisa mendapatkan jadah tempe di tempat-tempat lain di Yogyakarta atau di pasar-pasar tradisional yang banyak terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Geplak Bantul

Geplak Bantul
Geplak Bantul

Geplak paling nikmat disantap hangat-hangat begitu selesai diangkat dari tungku. Dahulu, geplak terkadang dimanfaatkan sebagai makanan pengganti beras atau nasi. Pada saat musim paceklik, warga Bantul biasa mengkonsumsi geplak untuk makanan pokok. Akan tetapi, pada masa sekarang geplak lebih dikenal sebagai penganan ringan sekaligus oleh-oleh khas dari Bantul dan Yogyakarta.

Rasa penganan yang berbahan dasar daging kelapa muda, gula, dan tepung beras ataupun tepung ketan ini memang mencerminkan predikat dan citra lidah orang Jogja selama ini, yaitu berasa manis, bahkan mungkin terlalu manis bagi lidah yang belum terbiasa. Namun, mungkin karena manisnya inilah geplak justru menjadi salah satu primadona dan oleh-oleh yang paling dicari oleh para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dan ke Kabupaten Bantul pada khususnya.

Sejarah geplak sendiri tidak lepas dari riwayat banyaknya pabrik gula, perkebunan tebu dan kelapa yang ada di Bantul. Pada era kolonial Hindia Belanda, Bantul terkenal sebagai daerah penghasil gula tebu. Tercatat ada enam buah pabrik gula pada masa itu dan banyak tanah-tanah pertanian yang ditanami tebu. Dari sekian banyak pabrik gula yang terdapat di Bantul, masih ada satu yang masih bertahan sampai sekarang, yaitu pabrik gula Madukismo. Gula tebu yang dihasilkan oleh beberapa pabrik gula dimanfaatkan untuk membuat penganan, yang salah satunya kemudian dikenal dengan nama geplak.

Letak geografis Kabupaten Bantul yang berada di pesisir pantai selatan menjadikan wilayah ini juga terkenal sebagai daerah penghasil kelapa. Salah satu produk turunan yang dihasilkan dari kelapa adalah daging dan gula kelapa. Hasil paduan gula tebu dengan daging buah kelapa inilah yang menjelma menjadi geplak. Pada perkembangannya, bukan hanya gula tebu saja yang digunakan untuk membuat geplak, namun juga gula kelapa.

Kelahiran geplak ternyata bisa membuat gula dan kelapa mempunyai nilai tambah. Selain itu, citra dan pamor pariwisata Kabupaten Bantul pun ikut terangkat dengan menjagokan geplak sebagai komoditas oleh-oleh khas Bantul yang paling  diandalkan.

Nilai lebih dari geplak tentu saja rasanya yang super manis. Namun, manisnya geplak bukan sembarang manis, melainkan manis-manis gurih kelapa. Bahan-bahan membuat geplak pun mudah didapat, yakni kelapa yang masih agak muda, tepung beras ketan, daun pandan, gula pasir atau gula kelapa (gula jawa), air, garam, dan vanili bubuk.

Cara pembuatan geplak sederhana dan gampang dilakukan. Semua bahan yang dibutuhkan kemudian disangrai dan dibentuk bola-bola. Bentuknya yang bulat lonjong dan tidak beraturan karena hanya dikepal-kepal dengan tangan tanpa dicetak justru menjadi ciri khas geplak selain rasanya yang legit dan menggigit. Memasak bahan-bahan yang diperlukan harus sampai benar-benar matang, sehingga geplak yang dihasilkan menjadi lebih awet dan bisa dijadikan oleh-oleh yang tahan lama.

Awalnya geplak hanya disajikan dalam dua warna. Apabila menggunakan gula tebu, geplak yang dihasilkan adalah berwarna putih agak kelabu. Sedangkan jika memakai gula kelapa, maka hasilnya adalah geplak berwarna cokelat. Seiring dengan kemajuan zaman, ketatnya persaingan, dan semakin beragamnya permintaan konsumen, kini geplak ditampilkan dengan corak yang berwarna-warni dan dengan rasa yang bervariasi. Selain itu, geplak dikemas dalam bentuk yang lebih menarik sehingga membuat orang yang melihatnya semakin tertarik untuk membawa pulang penganan yang satu ini.

Geplak Bantul
Proses Pembuatan Geplak

Meskipun tampil dengan puspa ragam rasa dan warna, namun bahan-bahan yang dipakai untuk geplak tetap dijamin aman dan alami, bukan dari bahan-bahan kimia yang berpotensi menimbulkan dampak berbahaya. Rasa geplak yang bermacam-macam, seperti rasa durian, stroberi, jeruk, dan lain sebagainya, diambil langsung dari sari buahnya. Begitu juga dengan geplak yang menawarkan rasa jahe atau kacang, semua bahannya berasal dari anugerah alam. Sedangkan untuk pewarna, geplak menggunakan pewarna yang sudah mendapat status aman dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Selain itu, nilai gizi yang terkandung dalam geplak pun relatif tinggi. Berdasarkan penelitian pangan dan gizi yang dilakukan oleh pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, disebutkan bahwa pada setiap 100 gram geplak mengandung karbohidrat sebanyak 74 gram, lemak sebanyak 14 gram, air seberat 10 gram, protein sebanyak 10 gram, dan kandungan kalori seberat 2 gram.

Geplak memang kecil-kecil cabe rawit. Kendati berukuran mini, geplak Bantul pernah meraih prestasi yang istimewa. Pada tahun 2002, terciptalah rekor geplak terbesar di dunia dan diakui oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Geplak raksasa yang dipamerkan dalam acara Bantul Ekspo 2002 di Lapangan Dwi Windu, Bantul ini, mempunyai ukuran tinggi 2 meter dan lebar 2,25 meter dan menghabiskan dana sebesar kurang lebih Rp 20 juta. Untuk membuat geplak terbesar di muka bumi ini, bahan baku yang dibutuhkan antara lain gula sebanyak 1,6 ton, kelapa sebanyak 360 butir, tepung sebanyak 4 kuintal, pewarna dan aroma masing-masing 1 ons. Pembuatan geplak raksasa ini diselesaikan dalam waktu 7 hari atau satu minggu penuh.

Lokasi Penjualan Geplak

Geplak Bantul sangat mudah diperoleh di berbagai sentra penjualan oleh-oleh yang banyak terdapat di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti di kawasan Pathuk, Kotagede, Malioboro, Prawirotaman, Suryowijayan, dan lain-lainnya. Anda juga bisa membeli geplak di tempat-tempat wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta atau di sepanjang jalan utama menuju ke luar kota atau di perbatasan Kota Yogyakarta, sebut saja di Jalan Wates (Gamping), Jalan Magelang, Jalan Monumen Jogja Kembali (Monjali), Jalan Kaliurang, Jalan Wonosari, Jalan Imogiri, Jalan Bantul, Jalan Parangtritis, dan sebagainya.

Bahkan, jika Anda tidak sempat berbelanja oleh-oleh di tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, jangan khawatir karena Anda akan menemukan tempat penjualan geplak yang khusus disediakan di lokasi-lokasi fasilitas umum, misalnya di Bandara Adisucipto, Stasiun Kereta Api Tugu, Stasiun Kereta Api Lempuyangan, Terminal Giwangan dan terminal-terminal bis lainnya, seperti Terminal Jombor, Terminal Condongcatur, dan lain-lainnya. Geplak pun bisa Anda temukan dengan mudah di supermarket atau mall-mall yang ada di Yogyakarta.

Apabila Anda ingin geplak yang spesial dan asli langsung dari pembuatnya, Anda bisa menyambangi toko-toko yang membuat sekaligus menjual geplak yang terdapat di sejumlah tempat di Kabupaten Bantul. Salah satunya di toko Geplak Jago yang berlokasi di Jalan Wachid Hasyim, No. 28, Gose, Bantul. Geplak Jago termasuk salah satu produsen geplak yang paling berpengalaman di Yogyakarta karena sudah beroperasi sejak tahun 1967. Anda juga bisa mengunjungi toko Geplak Mbok Tumpuk yang berada di Jalan Wachid Hasyim 104, Bantul, untuk mendapatkan geplak yang bercita rasa khas. Selain geplak, tempat ini juga terkenal dengan peyek tumpuknya yang enak dan unik.

Harga Geplak Bantul

Harga geplak sebenarnya bervariatif dan dijual dalam bentuk kemasan, baik yang dikemas dalam besek (tempat makanan dari anyaman bambu) maupun plastik. Pada hari-hari biasa, satu kilogram geplak dijual dengan harga Rp 16.000,-, sedangkan di masa-masa liburan atau ketika pada libur Lebaran, harga geplak mengalami sedikit kenaikan, yakni dijual dengan banderol harga Rp. 18.000,- 
Geplak Bantul
Harga Geplak Bantul

Khusus untuk harga pada liburan Lebaran, lonjakan harga geplak ini berlangsung selama sepekan, yaitu sejak H-3 hingga H+3 Lebaran Harga geplak sebenarnya bervariatif dan dijual dalam bentuk kemasan, baik yang dikemas dalam besek (tempat makanan dari anyaman bambu) maupun plastik. Pada hari-hari biasa, satu kilogram geplak dijual dengan harga Rp 16.000,-, sedangkan di masa-masa liburan atau ketika pada libur Lebaran, harga geplak mengalami sedikit kenaikan, yakni dijual dengan banderol harga Rp. 18.000,-. Khusus untuk harga pada liburan Lebaran, lonjakan harga geplak ini berlangsung selama sepekan, yaitu sejak H-3 hingga H+3 Lebaran.