Kamis, 17 April 2008

Cita Rasa Manisnya Gethuk Pisang Kediri

Cita Rasa Manisnya Gethuk Pisang Kediri
Gethuk Pisang Kediri

Sangat disayangkan jika berkunjung ke Kota Kediri tanpa mencicipi dan membawa pulang oleh-oleh khas dari kota ini, yaitu gethuk pisang kediri. Tidak seperti lazimnya gethuk, semisal gethuk Magelang, yang dikemas dengan plastik atau kertas kadus, gethuk pisang ala Kediri didandani unik, bungkusnya berselimut daun pisang layaknya lemper atau lontong. Soal rasa, jangan ditanya! Cita rasanya yang manis bin legit dijamin akan membuat lidah Anda terbuai dan selalu ingin tambah lagi.

Keberadaan gethuk pisang Kediri sebagai salah satu ikon kuliner Kota Kediri telah mengguratkan riwayat tersendiri. Meskipun belum diketahui mengenai asal-usul si manis dari Kediri ini, namun tradisi pembuatan dan pengolahan gethuk pisang diyakini sudah berlangsung secara turun-temurun dan diwariskan lintas generasi. Konon, gethuk pisang ini sudah populer sejak zaman Kerajaan Kadiri dan menjadi makanan kesukaan Dewi Sekartaji, putri dari Kerajaan Jenggala (pecahan dari Kerajaan Kadiri). Bahkan menurut mitos, karena saking lezatnya, para dewa di khayangan sampai rela turun ke bumi hanya untuk mencicipi gethuk pisang buatan rakyat Kerajaan Kadiri.

Selaras dengan namanya, gethuk pisang kediri tentu saja berbahan dasar dari buah pisang, biasanya dari jenis pisang raja nangka. Pisang jenis ini menjadi pilihan utama karena bentuknya yang bulat panjang dan bisa mencapai ukuran 15 cm. Keistimewaan lain dari pisang raja nangka, yang dikenal sebagai pisangnya raja-raja, adalah aromanya yang khas dan rasanya yang lain daripada yang lain, yakni perpaduan dari rasa asam dan manis alami meskipun tanpa diberi tambahan gula. Rasa asam manis inilah yang membuat rasa gethuk pisang menjadi berkesan. Gethuk Pisang biasanya menjadi usaha industri rumahan yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.

Cara pembuatan gethuk pisang pun terbilang cukup sedernaha. Pilih pisang raja nangka yang masih setengah matang, kemudian dikupas kulitnya. Setelah itu, pisang dikukus selama beberapa jam hingga warnanya berubah menjadi kemerahan. Selagi masih panas, pisang yang sudah berubah aura tersebut lalu ditumbuk sampai halus dan dibungkus dengan daun pisang. Jadilah sudah gethuk pisang yang dijamin bikin ketagihan itu.

Cita Rasa Manisnya Gethuk Pisang Kediri
Adonan Gethuk Pisang Kediri

Cita Rasa Manisnya Gethuk Pisang Kediri
Proses Membungkus Gethuk Pisang Kediri


Gethuk pisang kediri adalah makanan alami, tanpa tambahan zat apapun, termasuk gula dan bahan pengawet. Oleh karena itu, gethuk pisang hanya bisa bertahan selama dua hari pada suhu kamar atau sekitar empat hari jika disimpan di dalam lemari pendingin. Gethuk pisang kediri ini nikmat dinikmati selagi hangat, namun tidak kalah sedap disantap ketika sudah beranjak dingin.

Banyak tempat di Kota Kediri yang menyediakan gethuk pisang untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Hampir semua toko oleh-oleh khas Kediri selalu tersedia gethuk pisang, seperti yang terdapat di sepanjang Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pattimura, Kota Kediri, dan sentra penjualan makanan khas Kota Kediri lainnya.

Apabila Anda menginginkan gethuk pisang khas Kediri untuk oleh-oleh, Anda dapat membelinya di toko-toko itu, namun sekali lagi harus diingat, karena bahan-bahan dan proses pembuatan gethuk pisang dilakukan secara natural, maka Anda harus memperhitungkan juga daya tahan si gethuk pisang yang manis legit namun tidak tahan lama ini. Anda pun bisa langsung menyantap kelezatan gethuk pisang di kios-kios yang menyediakan sembari menikmati suasana Kota Kediri. Selain itu, keberadaan gethuk pisang sangat mudah juga Anda temukan di jalan-jalan utama Kota Kediri karena penganan ini sering dijajakan oleh para pedagang asongan maupun di lapak-lapak yang banyak berjajar di tepi jalan raya.

Harga Getuk Pisang Kediri Perbungkus

Jajanan khas tradisional khas gethuk pisang Kediri ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Banderol harga disesuaikan dengan ukuran pisang. Untuk ukuran mini, Anda cukup merogoh kocek Rp. 1500,00 saja per satuannya. Untuk gethuk pisang ukuran sedang hingga jumbo dihargai dengan banderol Rp. 2500,00 sampai dengan Rp. 5000,00 per bungkusnya 

Selasa, 15 April 2008

Rahasia Kelezatan Mie Lendir Masakan Khas Kabupaten Bintan

    Rahasia Kelezatan Mie Lendir Masakan Khas Kabupaten Bintan
    Mie Lendir

    Di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, ada sebuah makanan yang namanya mungkin akan membuat kening wisatawan berkerut, yakni Mie Lendir. Mie Lendir merupakan makanan khas Pulau Batam dan Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Makanan ini terdiri dari mie kuning yang direbus bersama kecambah (taoge), dan dimakan bersama sebutir telur rebus yang dibelah dua. Mie ini kemudian disiram dengan kuah kacang yang kental. Kuah kacang kental inilah yang membuat makanan ini diberi nama Mie Lendir.
    Mie Lendir biasanya dijual di pagi hari, sehingga tak salah jika masyarakat Kepulauan Riau menjadikan mie ini sebagai salah satu menu sarapan mereka. Mie Lendir yang masih panas, sangat enak untuk disantap di pagi hari, ataupun ketika cuaca sedang dingin.

    Kuah kacang yang disiramkan pada Mie Lendir, membuat penampilan mie ini sedikit aneh, sama seperti namanya. Namun, begitu memasukkan suapan pertama ke dalam mulut, Anda pasti akan langsung ketagihan untuk menyantapnya lagi. Biasanya, semangkok Mie Lendir tidak cukup untuk memanjakan lidah dan perut. Maka, tak heran jika banyak pembeli yang memesan makanan ini lebih dari satu mangkok. Kuah kacang merupakan kunci dari kelezatan mie ini. Kuah tersebut, membuat rasa mie menjadi gurih, sedikit manis, dan tidak terlalu pedas. Namun, bagi Anda yang menggemari rasa pedas dalam makanan, tidak perlu kuatir. Anda dapat memasukkan irisan cabe rawit, yang biasanya sudah disediakan oleh pemilik warung, untuk menambah sensasi pedas ke dalam Mie Lendir.

    Harga Per Porsi Mie Lendir

    Untuk menyantap seporsi Mie Lendir yang lezat ini, pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak. Karena, harga seporsi Mie Lendir hanya berkisar antara Rp 5.000,00—Rp 10.000,00.
    Wisatawan yang sedang berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau, dapat menikmati seporsi Mie Lendir di warung-warung penjual Mie Lendir. Warung-warung ini, beberapa dapat ditemui di kawasan Nagoya di Kota Batam, Melayu Square di Kota Tanjungpinang, dan tempat-tempat lainnya di Kabupaten Bintan.

Selasa, 08 April 2008

Yangko, Kue Manis dari Kotagede

Yangko, Kue Manis dari Kotagede
Yangko

Selaras dengan ciri khas Jogja yang cenderung manis, yangko pun tidak keluar jalur. Yangko punya rasa khas yang orisinil: bagian luarnya lembut, kenyal, dan manis, namun lidah kita akan mengecap sensasi yang berbeda pada gigitan selanjutnya, di mana bumbu kacang yang gurih dan sedikit bertekstur sudah mulai terasa. Indera perasa kita serasa dibuai dengan paduan rasa yang terangkum dalam balok-balok mini bernama yangko.

Seolah tidak mau dilindas oleh kemajuan zaman, yangko terus berbenah, baik dari segi rasa maupun tampilannya. Sekarang, kita bisa menemukan yangko dengan rasa dan warna yang lebih bervariasi. Selain yangko konvensional yang berasa manis frambozen dan berisi kacang tanah yang giling, tersedia juga yangko genre “modern” dengan macam-macam rasa dan warna. Ada rasa durian (kuning), jeruk (oranye), melon dan pandan (hijau), stroberi (merah), chocolate (cokelat), dan masih banyak lagi.

Yangko adalah makanan khas dari Kotagede. Kampung yang berjuluk kota perak ini adalah salah satu kota tua dan bersejarah yang terdapat di Yogyakarta. Dahulu, Kotagede adalah ibukota Kerajaan Mataram Islam, sebuah kerajaan besar yang menjadi cikal-bakal Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selain yangko dan kipo yang menjadi simbol kulinernya, di Kotagede Anda akan menemukan banyak hal yang menarik, seperti pusat kerajinan perak dan makam raja-raja Mataram, termasuk di dalamnya petilasan Panembahan Senopati, sang pendiri wangsa Mataram Islam.

Peran Kotagede sebagai sentra produksi yangko sudah berlangsung cukup lama dan diwariskan secara turun-temurun melintas batas generasi. Meski jumlahnya tidak sebanyak pada zaman dulu, sekarang ini masih ada orang-orang yang tetap melestarikan produksi yangko sebagai oleh-oleh khas dari Yogyakarta, khususnya dari Kotagede. Mereka ini tersebar di Kotagede maupun daerah-daerah sekitarnya seperti Giwangan, Gambiran, Nitikan, dan lain-lain.

Salah satu produsen yangko yang paling tua dan masih bertahan hingga saat ini adalah Suprapto yang membuka usahanya di Giwangan, Yogyakarta, tidak jauh dari Kotagede. Suprapto dengan usaha produksi yangko berlabel Yangko Pak Prapto, telah memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun dalam meracik yangko. Suprapto adalah generasi keempat atau kelima yang mewarisi usaha yangko dari kakek buyutnya yang sudah aktif meramu yangko sejak tahun 1921. Kemungkinan besar, leluhur Suprapto inilah yang menjadi pelopor atau bahkan pencipta yangko.

Nama yangko diyakini berasal dari kata kiyangko. Dalam pelafalan lidah orang Jawa, kata kiyangko diucapkan dengan singkat menjadi yangko. Konon, orang yang pertama kali mengenalkan yangko adalah Mbah Ireng yang tidak lain adalah kakek buyut Suprapto. Meski Mbah Ireng sudah berinovasi membuat yangko sejak tahun 1921, namun yangko baru mulai dikenal luas oleh masyarakat pada sekitar tahun 1939.

Yangko, Kue Manis dari Kotagede


Usaha Mbah Ireng kemudian diturunkan kepada putranya yang bernama Alip, kemudian turun-temurun ke anak-cucunya. Dari Alip, resep rahasia yangko Mbah Ireng dwariskan kepada Abdul Ma’ruf yang kemudian kembali menurunkan ilmunya kepada anaknya yang bernama Harjo Sukarto. Harjo Sukarto inilah yang tidak lain adalah ayah dari Suprapto yang masih mengemban pusaka yangko hingga kini. Suprapto sendiri sudah bersiap-siap mewariskan usahanya ini kepada anak-anaknya.

Suprapto alias Pak Prapto mengambil-alih estafet pembuatan dan penjualan makanan tradisional yangko sejak era 1950-an. Perjuangan Pak Prapto ternyata tidak mudah dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk membumikan yangko. Setelah 30 tahun berjuang sendirian, akhirnya pada kurun 1980-an yangko mulai dilirik sebagai potensi usaha yang menguntungkan.

Sejak saat itu, usaha-usaha yangko, baik di Kotagede dan sekitarnya ataupun di tempat-tempat lain di Yogyakarta, mulai bermunculan, bahkan menjamur dan mengiringi populeritas bakpia pathuk yang terlebih dulu menanjak. Semakin lama, pamor yangko selaku makanan khas Kotagede semakin mantap. Kini, rasanya belum lengkap jika sebelum bertolak dari Yogyakarta tidak membawa pulang yangko, dan tentu saja juga bakpia, sebagai buah tangan.

Rasa yang manis dan tekstur yang lembut lagi kenyal adalah keistimewaan yang dapat Anda temukan dalam yangko. Yangko memiliki rasa yang khas. Selain rasa manis yang dominan, di dalam yangko kita juga bisa merasakan betapa wangi aromanya. Wujud yangko yang berbentuk kotak-kotak kecil namun berasa kenyal membuat rahang kita merasa perlu untuk agak berlama-lama ketika menyantapnya. Nuansa kenyil-kenyil akan menjadi sensasi yang menyenangkan ketika yangko ada di dalam lidah kita.

Sedari dulu, bentuk yangko memang sederhana dan simetris, yakni persegi empat kecil. Masing-masing yangko yang berukuran kecil-kecil ini dialasi dengan baluran tepung terigu yang kemudian dibalut dengan selembar kertas minyak. Himpunan yangko-yangko yang sudah siap jual ini kemudian disajikan dalam satu kardus atau kotak kemasan.

Selain bisa untuk dikonsumsi sendiri, yangko juga sangat cocok disajikan sebagai makanan jamuan untuk tamu atau pada saat acara keluarga. Masa produksi yang cermat dan membutuhkan tempo yang tidak sebentar membuat yangko bisa tahan lama dan sangat pas untuk dijadikan sebagai oleh-oleh. Waktu produksi yang dibutuhkan untuk satu adonan yangko bisa mencapai 5-10 hari.

Cara pembuatan yangko sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, hanya saja diperlukan kecermatan dan ketelatenan ekstra untuk menghasilkan rasa dan tampilan yangko yang sempurna. Pertama-tama, beras ketan dikukus, kemudian dijemur hingga kering dan seperti menjadi beras kembali. Setelah kering, beras kemudian digoreng tanpa minyak untuk dijadikan tepung. Usai itu, panaskan gula di atas api tungku sembari memasukkan tepung beras ketan dimasukkan perlahan-lahan. Saat proses inilah kita bisa memasukkan unsur rasa yang diinginkan. Selesai selesai dan adonan telah dingin, dimulai tahap pengemasan, yakni memotong adonan menjadi kotak-kotak kecil, membalurinya dengan tepung terigu, dan kemudian mengemas masing-masing yangko yang sudah siap dengan kertas minyak.

Proses pembuatan yangko memang tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi mendadak, karena adonan gula dan air harus dalam kondisi yang benar-benar dingin sebelum yangko dibentuk kecil-kecil. Selain itu, untuk menghasilkan yangko berkualitas baik dan untuk mempertahankan rasa aslinya, tepung beras ketan sebaiknya buatan sendiri, bukan hasil bikinan pabrik. Tepung beras yang baik dibuat hingga dua kali proses, yakni tepung dicuci, dikukus, dijemur, digoreng, lalu digiling (Kedaulatan Rakyat, 07 April 2008).

Sekarang ini terdapat banyak sekali pembuat dan penjual yangko di Yogyakarta. Anda dapat memilih dan memilih sendiri mana yangko yang sekiranya pas dengan lidah Anda. Cita rasa yangko, terutama rasa yangko yang benar-benar asli, memang terletak pada pengalaman si pembuatnya. Akan tetapi, kesan yang sulit dilupakan dari yangko rata-rata adalah serupa, yaitu manis, lembut, kenyal, dan legit. Silakan mencoba dan rasakan sensasinya!

Industri Pembuatan Yangko di Yogyakarta

Tempat pembuatan dan penjualan yangko yang dianggap paling tulen cita rasanya tentu saja dapat Anda temukan di Kotagede dan sekitarnya, meskipun sekarang ini yangko sudah sangat populer dan bisa didapatkan di banyak tempat di Yogyakarta. Toko yangko Pak Prapto dapat Anda ditemukan di Jalan Pramuka, No. 82, Yogyakarta, hanya beberapa menit ke arah barat Kotagede. Jka Anda mempunyai waktu yang agak luang, Anda bisa menjelajahi perdalaman kampung di Kotagede dan sekitarnya karena di dalamnya banyak terdapat home industry pembuatan dan penjualan yangko.

Selain usaha yangko milik Pak Prapto, Anda bisa juga menyambangi toko yangko kepunyaan Nurwati. Pengusaha yangko yang lebih dikenal dengan nama Bu Nunung ini membuka toko yang sekaligus sebagai tempat tinggalnya di Jalan Menteri Supeno, No. 118, Nitikan, Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat, 07 April 2008). Toko yangko Bu Nining ini berjarak cukup dekat dengan Kotagede ataupun usaha yangko milik Pak Prapto di Giwangan.

Jika Anda tidak sempat berkunjung ke kawasan Kotagede, jangan khawatir karena sekarang yangko sudah tersedia di banyak tempat. Salah satunya adalah toko Yangko Kondang Rasa yang terletak di Jalan Gajah Mada, No.29, Yogyakarta. Bahkan, di toko ini Anda tidak hanya bisa membeli yangko, melainkan bisa juga melihat proses pembuatan dan pengemasan yangko sebelum dijajakan.

Yangko juga sangat mudah diperoleh di berbagai sentra penjualan oleh-oleh yang banyak terdapat di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti di kawasan Pathuk, Malioboro, Prawirotaman, Suryowijayan, dan lain-lainnya. Anda juga bisa membeli yangko di tempat-tempat wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta atau di sepanjang jalan utama menuju ke luar kota atau di perbatasan Kota Yogyakarta, sebut saja di Jalan Wates (Gamping), Jalan Magelang, Jalan Monumen Jogja Kembali (Monjali), Jalan Kaliurang, Jalan Wonosari, Jalan Imogiri, Jalan Bantul, Jalan Parangtritis, dan sebagainya. Selain itu, tempat penjualan yangko dapat Anda temukan dengan sangat mudah di tempat-tempat umum, seperti di bandara, stasiun, terminal, supermarket, dan lain-lain.

Harga Yangko Per Kotak

Harga yangko relatif tidak sama antara tempat yang satu dengan yang lain, tergantung di mana Anda membelinya. Ada satu tips hemat untuk Anda, jika Anda memutuskan untuk membeli yangko langsung dari toko produksi, Anda bisa  mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan di toko-toko distribusi. Biasanya, harga yangko di toko-toko produksi adalah antara 8000-10.000 rupiah per kotak atau kardus. Tiap kotak masing-masing berisi 30 buah yangko.
Yangko, Kue Manis dari Kotagede


Akan tetapi, jika Anda berbelanja yangko di pusat-pusat penjualan oleh-oleh yang terdapat di tempat-tempat tertentu di Yogyakarta, banderol harga yang dicantumkan sedikit lebih mahal, yakni antara 13.000-15.000 rupiah atau lebih. Harga yangko akan menjadi lebih mahal lagi jika Anda membeli di tempat-tempat wisata atau di tempat-tempat fasilitas umum, seperti di kawasan wisata, terminal, stasiun, apalagi jika Anda membelinya di bandara.