Rabu, 20 Februari 2008

Lembutnya Tekstur Gethuk Magelang

    Lembutnya Tekstur Gethuk Magelang
    Getuk Magelang

    Berkunjung ke Magelang, Jawa Tengah, kota yang terkenal dengan obyek wisata Candi Borobudur, terasa kurang lengkap sebelum mencicipi gethukmakanan khas Kota Magelang. Tak ada yang tahu siapa orang pertama yang menciptakan makanan ini,  namun makanan ini sudah dikenal sejak tahun 1940an dan sampai sekarang masih menjadi makanan khas Kota Magelang. Gethuk Magelang dikenal luas karena teksturnya lembut dan rasanya yang khas, yaitu manis dan gurih. Tak hanya itu, gethuk Magelang juga dapat bertahan sampai 2 hari, tidak berlendir dan tidak berbau walaupun tidak disimpan dalam kulkas/lemari es. Makanan ini juga tidak mengandung minyak, sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
    Untuk membuat kue ini caranya cukup mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Proses pembuatannya dimulai dengan mengupas ketela sampai bersih, kemudian ketela itu direbus atau bisa juga dikukus sampai matang. Langkah selanjutnya, ketela rebusan tersebut dihaluskan dengan cara ditumbuk atau digiling sampai benar-benar halus. Setelah itu, diberi bumbu seperti garam, gula kelapa, panili, dan parutan kelapa, lalu dicetak. Parutan kelapa berfungsi sebagai penambah rasa gurih dan sekaligus penghias gethuk, karena selain dicampurkan dengan bahan-bahan lainnya, parutan kelapa juga ditaburkan di atas gethuk yang telah dicetak.
    Gethuk Magelang makin tersohor setelah tanggal 27 April 2003 lalu, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat gethuk Magelang ke dalam rekor yang ke 894. Rekor tersebut dicapai berkat dibuatnya gethuk sepanjang 162,17 m, lebar 13,6 cm dan tebalnya 2,5 cm. Pembuatan gethuk sepanjang itu merupakan ide dari Wali Kota Magelang, H. Fahriyanto, dalam rangka untuk memperingati hari jadi Kota Magelang yang ke 1.097. Oleh karena itulah, kemudian makanan ini semakin terkenal sampai ke Kota Yogyakarta, Semarang, Purworejo, dan kota-kota sekitarnya.

    Harga Gethuk Magelang

    Gethuk khas Magelang biasanya dijual dengan harga Rp 8.500 per bungkus. Bagi wisatawan yang ingin menikmati kue gethuk, dapat berkunjung ke Kota MagelangJawa Tengah. Di kota ini banyak kios oleh-oleh yang menjual makanan khas tersebut, seperti kios oleh-oleh yang berada di jalan raya Magelang—Blabak, jalan raya Magelang—Secang, Pasar Kebonpolo, Pasar Rejowinangun, dan juga di beberapa rumah makan di Kota Magelang.

Selasa, 19 Februari 2008

Keripik Salak Pondoh

Keripik Salak Pondoh
Keripik Salak Pondoh

Selama ini, salak pondoh dikenal sebagai salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanaman salak pondoh terbilang eksentrik karena bentuk pohonnya yang seperti bagian atas pohon kelapa sawit dengan sentuhan sedikit corak pakis. Bila tersusun sejajar, bentuk pohon salak pondoh akan terlihat unik. Buah salak yang tumbuh di pangkal bawah pohon berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta tidak menempel dengan biji. Selain itu, rasa salak pondoh yang sangat manis menjadi nilai jual dan keunggulan tersendiri bagi buah yang menjadi tanaman khas lereng Merapi ini.

Sungguh beruntung dataran Sleman menjadi habitat yang cocok bagi tumbuh-kembangnya populasi salak pondoh. Apalagi sebagian besar petani di Sleman mengembangkan salak pondohnya dengan cara organik sehingga hasil panen salak pondohnya pun sangat aman dan sehat untuk dikonsumsi. Selain bebas bahan kimia dari pupuk maupun pestisida, rasa manis yang terkandung dalam salak pondoh adalah rasa alami dan tidak berasa kesat.

Dari mana asalnya salak pondoh dan bagaimana ceritanya hingga kemudian menjadi trade mark Kabupaten Sleman memang belum diketahui dengan pasti. Tapi konon, varietas salak pondoh sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Tersiar kabar bahwa pada saat itu seorang petani di Desa Soka, Sleman, menerima pemberian empat batang pohon salak dalam pot dari seorang Belanda yang hendak pulang ke negara asalnya. Keempat pohon salak tersebut kemudian dikembangkan dan sampai sekarang terkenal dengan nama salak pondoh. Jenis salak ini diberi nama tambahan pondoh karena dagingnya berwarna putih dan manis seperti pondoh atau pucuk kelapa yang masih terbungkus pelepah.

Pengembangan dan pembudidayaan salak pondoh di Sleman sejak saat itu mengalami peningkatan yang cukup pesat hingga kemudian tanaman ini dikenal sebagai potensi botani yang seringkali dianggap asli dari Sleman. Salak pondoh pun kemudian berkembang menjadi berbagai sub jenis, antara lain: salak pondoh hitam, salak pondoh merah, salak pondoh merah-hitam, salak pondoh merah-kuning, salak pondoh kuning, salak pondoh madu, salak pondoh lumet, dan salak pondoh super.

Populeratis salak pondoh semakin terkatrol naik dan menjadi kegemaran segala kalangan. Bahkan, banyak pesanan yang datang dari luar negeri, seperti Cina, Singapura, dan negara-negara lainnya. Saking banyaknya permintaan, Sleman belum mampu memenuhi semua pesanan salak pondoh yang datang karena petani salak tradisional di Sleman hanya bisa menghasilkan produksi dalam jumlah yang sangat terbatas.

Keripik Salak Pondoh


Meskipun sangat menggiurkan, kebanyakan orang yang berkunjung ke Sleman sepertinya agak malas atau enggan membawa salak pondoh sebagai oleh-oleh. Selain karena sukar dalam pengemasannya, para pelancong juga takut salak menjadi busuk jika dibawa menempuh perjalanan yang cukup lama. Salak pondoh memang cukup unik karena sebelum menikmati daging buah salak yang manis, kita harus berjuang untuk mengupas kulitnya yang dilindungi oleh duri-duri halus namun sedikit “merepotkan”.

Nah, sekarang Anda dapat membawa pulang salak pondoh tanpa harus mencemaskan cara pengemasan maupun kualitas ketahanannya. Buah khas yang menjadi komoditi andalan Kabupaten Sleman ini telah mengalami inovasi yang relatif cerdas dan menghasilkan nilai tambah. Ya, salak pondoh yang biasanya “menyusahkan” itu sudah beralih rupa menjadi keripik yang tidak kalah unggul dari segi cita rasa, kandungan gizi, maupun keunikan khasnya.

Sengsara membawa nikmat. Itulah kiranya perumpamaan yang kira-kira pantas untuk menggambarkan proses “kelahiran” keripik salak pondoh. Memasuki era milenium abad ke-21, harga salak pondoh mengalami ketidakstabilan. Terkadang harganya sangat mahal, namun tidak jarang pula harganya turun ke titik terendah. Bahkan, harga salak pondoh super pernah anjlok sampai ke angka 500 rupiah per kilogram. Kondisi ini sangat mencemaskan bagi petani salak pondoh di Kabupaten Sleman yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Apalagi salak pondoh kini banyak ditanam di wilayah-wilayah lain dan hasilnya juga cukup baik (Suara Pembaruan, 28 Juni 2002).

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, sejumlah petani salak pondoh di Sleman dan sekitarnya mencari alternatif lain namun tetap dengan memaksimalkan buah salak sebagai bahan baku utama. Akhirnya, lahirlah produk baru yang dihasilkan dari inovasi salak pondoh, yakni penganan unik yang berwujud keripik. Gagasan awal dari pembuatan keripik salak pondoh sebenarnya berawal dari penelitian yang dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta bahwa ternyata salak pondoh bisa dijadikan keripik yang bergizi tinggi dan teramat lezat rasanya.

Keberadaan keripik salah pondoh memang belum banyak dikenal jika dibandingkan dengan ragam oleh-oleh lainnya yang lebih populer di Yogyakarta, misalnya gudeg, bakpia pathuk, yangko Kotagede, geplak Bantul, jadah tempe Kaliurang, dan lain-lainnya. Namun, seiring perkembangan produktivitas dan keunggulan yang ditawarkan keripik salak pondoh, penganan ini diyakini akan segera menjadi primadona alias buah tangan favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, khususnya ke Kabupaten Sleman.

Jika disandingkan dengan jenis keripik buah yang lain, keripik salak pondoh memang berasa lebih manis, padahal makanan ringan alami ini dibuat tanpa pemanis tambahan seperti keripik-keripik buah yang lainnya. Tidak sembarang salak pondoh yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan keripik yang berkualitas tinggi, baik dari segi rasa maupun kandungan gizinya. Meskipun hampir semua jenis salak yang ada di Indonesia dapat diolah menjadi keripik, namun hasilnya tidak selalu sempurna. Jenis salak pondoh hitam, salak lumut, dan salak lokal, dapat menghasilkan keripik yang berkualitas. Selain itu, daging salak pondoh yang digunakan untuk membuat keripik harus yang masih mengkal atau muda. Salak pondoh yang masih muda dapat ditengarai dari warnanya, yakni berwarna kekuning-kuningan.

Setelah proses pemilihan dan pemilahan salak yang dirasa layak untuk bisa diolah menjadi keripik, tahap selanjutnya adalah mengupas salak segar yang dibuang kulit dan bijinya. Setelah dikupas, setiap 10 kilogram salak segar akan menyusut hingga hanya menjadi 6 kilogram. Selanjutnya, daging salak yang sudah bersih diiris tipis-tipis, kemudian digoreng dengan menggunakan mesin khusus yang disebut vacuum frying selama sekitar satu jam. Setelah melalui proses penggorengan, daging salak akan mengering dan berubah jadi keripik yang beratnya menjadi 1 sampai 2 kilogram saja.

Keripik Salak Pondoh
Proses Pembuatan Keripik Salak Pondoh


Mesin khusus yang digunakan untuk menggoreng salak pondoh atau vacuum frying adalah hasil dari teknologi penggorengan dengan sistem hampa. Alat penggoreng hampa yang berbasis teknologi pompa jet air (waterjet pump) ini mampu menurunkan titik didih minyak penggoreng hingga di bawah 1000C sehingga aspek mutu rasa, aroma, dan zat gizi keripik buah hasil penggoreng sistem hampa tidak jauh berbeda dengan buah segarnya, namun dengan tekstur yang renyah dan kering. Penggunaan vacuum frying dalam proses pengolahan keripik salak pondoh bertujuan agar rasa dan aroma khas buah tidak berubah dan keripik menjadi renyah.

Sebenarnya masih ada cara lain yang lebih mudah dan sederhana untuk membuat keripik salak pondoh, meskipun kualitas keripik yang dihasilkan tidak sesempurna keripik yang diproses dengan memakai vacuum frying. Cara yang lebih sederhana tersebut adalah pertama-tama, salak yang sudah dikupas dan dipotong menjadi dua. Kemudian dijemur selama setengah jam di terik matahari hingga kulit arinya mengelupas. Setelah kering, daging salak dimasukkan ke dalam oven selama kurang lebih dua jam. Keluar dari oven, keripik salak harus didinginkan dulu selama setengah jam baru kemudian dikemas.

Untuk dibawa sebagai buah tangan, salak pondoh dalam rupa keripik memang lebih praktis daripada buahnya sendiri. Rasanya pun tidak kalah manis, nikmat, dan segar seperti buah salak aslinya. Keunggulan lainnya adalah Anda tidak perlu repot-repot membawa buah salak yang cukup sulit dikemas dan ada kemungkinan menjadi busuk jika dibawa berpergian dalam waktu yang agak lama karena keripik salak pondoh memiliki daya tahan yang kuat. Keripik salak pondoh yang dikemas dan disimpan secara benar dan tepat, masa kadaluarsanya bisa mencapai 10 bulan hingga 1 tahun penyimpanan. Beragam keunggulan ini membuat peredaran keripik salak pondoh mulai menjangkau banyak tempat, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Riau, Jambi, dan daerah-daerah lainnya.

Tempat Penjualan Kripik Salak Pondok

Jika Anda sedang berkunjung ke Yogyakarta, sempatkanlah menuju ke arah utara, tepatnya ke desa-desa paling utara di Kabupaten Sleman yang terletak tidak jauh dari lereng Gunung Merapi. Dari Kota Yogyakarta, Anda dapat menempuh perjalanan melalui Jalan Tentara Pelajar (Jalan Monumen Jogja Kembali ke arah utara), Jalan Kaliurang, maupun Jalan Magelang. Di tempat tujuan, Anda akan menemukan banyak sekali perkebunan salak pondoh. Anda bisa membeli keripik salak pondoh dengan mencari informasi dari komunitas atau paguyuban petani salak pondoh yang banyak terdapat di desa-desa penghasil salak di Sleman.

Anda dapat juga berkunjung ke perkebunan-perkebunan salak yang sudah dibuka untuk umum sebagai tempat tujuan agrowisata, salah satu yang paling populer adalah di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Koperasi Agrowisata Turi menyediakan beraneka ragam makanan khas, termasuk keripik salak pondoh. Apabila Anda tidak punya cukup waktu untuk pergi ke Kabupaten Sleman, jangan khawatir. Di dalam Kota Yogyakarta ada juga produsen keripik salak pondoh, tepatnya di daerah Umbulharjo. Selain itu, jika beruntung, Anda menjumpai penjualan keripik salak pondoh di pusat penjualan oleh-oleh khas Yogyakarta, supermarket, pasar tradisional, maupun sentra-sentra belanja yang banyak terdapat di pusat-pusat keramaian yang tersebar di Kota Yogyakarta dan di sekitarnya.

Harga Keripik Salak Pondok

Harga keripik salak pondoh relatif stabil dibandingkan dengan harga buahnya yang tergantung pada musim. Meskipun demikian, harga yang dikenakan pada keripik salak pondoh sedikit lebih mahal karena proses pembuatan yang lebih rumit dan biaya produksinya yang tidak sedikit. Keripik salak pondoh seberat 100 gram dibanderol dengan label harga rata-rata 10 ribu rupiah (per April 2010). Tentunya harga bukan menjadi persoalan besar jika Anda mengutamakan keunikan, kekhasan, dan cita-rasa keripik salak pondoh yang relatif sukar ditemukan di tempat lain.

Selasa, 12 Februari 2008

Sedapnya Sop Ikan Batam

    Sedapnya Sop Ikan Batam

    Jika Kota Yogyakarta terkenal dengan gudegnya dan Kota Semarang dengan lumpianya, maka Kota Batam terkenal dengan sop ikannya. Letak Kota Batam yang berada di pesisir pantai membuat kota ini memiliki kekhasan dalam berbagai makanan hasil laut. Salah satu yang cukup terkenal adalah sup ikan tenggiri khas kota Batam, atau yang populer dengan nama Sop Ikan Batam.
    Sop Ikan Batam dihidangkan dengan potongan ikan tenggiri yang sebelumnya telah dipisahkan dari tulang-tulangnya. Potongan ikan ini dilumuri dengan putih telur untuk menghilangkan bau amis, kemudian dimasak bersama bumbu rempah-rempah dan dicampur dengan belimbing wuluh dan tomat hijau. Potongan sawi putih ataupun hijau juga turut dimasukkan ke dalam sop ini, untuk semakin mempercantik penampilannya.
    Sop Ikan Batam dimasak dengan kuah bening, hal ini membuat kaldu ikan tenggiri semakin terasa dalam setiap suapannya. Sementara, belimbing wuluh dan tomat hijau mampu menambah rasa asam yang menyegarkan. Sup ini juga dapat disantap dengan menambahkan potongan cabe rawit yang telah disiram kecap asin. Hasilnya, rasa pedas akan menambah kekayaan rasa dalam sop ini. Seporsi Sop Ikan Batam akan semakin nikmat disantap, ketika sedang turun hujan, atau dalam cuaca dingin. Selain itu, kombinasi rasa asam, pedas, disertai kuah yang hangat, dapat membuat badan yang sedang tidak enak, menjadi segar kembali.

    Harga Satu Porsi Sop Ikan Batam

    Dengan merogoh kocek sebesar Rp 25.000,00—Rp 35.000,00, pengunjung sudah dapat menyantap seporsi Sop Ikan Batam beserta sepiring nasi. Jika ingin dibawa pulang, biasanya harga yang dikenakan lebih mahal dari pada makan di tempat. Sop Ikan Batam dapat ditemui dengan mudah di restoran-restoran sea food di Kota Batam, seperti di kawasan Nagoya ataupun Batam Center, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.