Senin, 07 Januari 2008

Rahasia Khasiat Wedang Uwuh Khas Imogiri Bantul

    Rahasia Khasiat Wedang Uwuh Khas Imogiri Bantul
    Wedang Uwuh

    Wedang uwuh sudah dikenal hampir di seluruh kawasan Nusantara. Tetapi, wedang uwuh yang satu ini boleh jadi hanya ada di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, tepatnya di kawasan Makam Raja-raja Mataram Imogiri. Namanya wedang uwuhyang dalam bahasa Jawa berarti sampah. Tentu saja, bila Anda tertarik mengunjungi Makam Raja-raja Imogiri, tidak ada salahnya untuk mencicipi khasiat wedang yang satu ini.
    Sebelum dikenal dengan nama wedang uwuh, mulanya minuman ini dikenal sebagai wedang jahe-cengkeh. Konon, wedang jahe-cengkeh merupakan minuman khusus kerabat raja Kerajaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung. Namun, lama kelamaan, setelah masyarakat umum ikut mengkonsumsi minuman ini dan mulai mencampurkan beberapa jenis dedaunan yang lain, maka nama wedang uwuh kemudian mulai dikenal.
    Nama ini muncul karena sebagian bahan yang diracik oleh masyarakat sekitar makam berasal dari dedaunan kering yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah. Misalnya, daun cengkeh, daun kayu manis, serta daun pala yang banyak berjatuhan di sekitar Makam Imogiri. Ketiga jenis daun ini kemudian dicampur dengan seruas jahe, gula batu, dan irisan secang. Dari bahan-bahan alami inilah wedang uwuh disajikan.

    Seperti wedang jahe pada umumnya, wedang uwuh juga dikenal sebagai minuman yang berkhasiat untuk memulihkan dan menghangatkan kondisi tubuh serta mengobati masuk angin. Akan tetapi, berbeda dengan wedang jahe biasa, wedang uwuh memiliki aroma kuat dari daun cengkeh dan kayu manis dengan kombinasi warna dari secang. 
    Bila diperhatikan, warna wedang uwuh nampak lebih pekat dengan aroma yang khas. Dan jika diminum, maka sensasi hangatnya akan segera mengalir dari kerongkongan hingga lambung. Tentu saja, tak berapa lama butiran-butiran keringat dengan mudah keluar dari tubuh sebagai pertanda khasiat minuman itu mulai bereaksi. Cara penyajian wedang uwuh tergolong mudah. Jahe yang telah ditumbuk dicampur dengan dedaunan untuk direbus. Setelah air mendidih dan berubah menjadi coklat-pekat, maka air tersebut telah siap untuk dipindahkan ke gelas dan dicampur dengan sepotong gula batu sebesar ibu jari kaki. Setelah diaduk secukupnya, wedang uwuh siap untuk dinikmati.
    Wedang uwoh banyak dijual di sekitar Makam Imogiri, sehingga selain berziarah ke makam Raja-raja Mataram para pelancong juga dapat mencicipi wedang uwuh sebagai pengobat lelah. Khasiat alami wedang uwuh dapat memulihkan stamina wisatawan setelah lelah mendaki dan menuruni tangga makam. Selain dapat diminum di tempat, wedang uwuh juga bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Karena, para pedagang juga menjual bahan-bahan wedang uwuh yang sudah dalam kemasan lengkap dengan petunjuk penyajiannya.

    Harga Wedang Uwuh 

    Rahasia Khasiat Wedang Uwuh Khas Imogiri Bantul
    wedang uwuh kemasan

    Wedang uwuh dijual seharga Rp 1.000—1.200 per gelas. Namun, jika wisatawan berminat membawanya sebagai oleh-oleh, maka dapat membeli wedang uwuh dalam kemasan seharga Rp 1.500 per kemasannya.  Selain dapat ditemui di warung-warung sekitar Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, wedang uwuh juga mudah didapat di Pasar Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia

Rabu, 02 Januari 2008

Peyek Undur-Undur Laut Khas Kulonprogo

Peyek Undur-Undur Laut Khas Kulonprogo
Peyek Undur-Undur

Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak terlalu banyak memiliki makanan khas, namun salah satu wisata kuliner yang satu ini berpeluang untuk dikembangkan khususnya di kawasan pesisir pantai. Peyek Undur-undur Laut namanya. Penganan  yang satu ini masih sangat jarang ditemui karena hanya ada di sekitar Pantai Glagah.

Peyek Undur-undur Laut masih asing dan belum banyak yang mengetahui makanan khas Pantai Glagah yang satu ini. Dari namanya, kita sudah mengetahui bahwa bahan utama peyek ini adalah undur-undur laut. Undur-undur laut ini, berasal Pantai Glagah Kulonprogo yang kemudian dijual nelayan dengan harga Rp 6.000,00 per kilogram.

Undur-undur laut adalah binatang jenis udang-udangan yang termasuk kelas hexapoda dengan tubuh sebesar ibu jari. Binatang ini mempunyai kulit punggung yang agak keras seperti kepiting. Daging binatang ini gurih, sedikit kenyal, dan putih kemerahan seperti daging udang atau kepiting.

Peyek Undur-undur Laut dibuat dari beberapa bahan, seperti tepung beras, tepung kanji, kuah santan, bawang putih, kemiri, ketumbar, garam, kencur dan daun jeruk. Pemakaian daun jeruk sebagai penghilang bau amis pada undur-undur.  Undur-undur laut yang juga biasa disebut yutuk ini setelah dicuci bersih kemudian direbus hingga masak. Setelah itu, ditiriskan dan dicampur dengan adonan tepung yang diberi bumbu, kemudian digoreng sampai kering.  Jika sudah matang, Peyek Undur-undur pun siap dihidangkan di piring atau dikemas dalam plastik.

Selain digoreng dijadikan peyek, undur-undur laut yang menyerupai kulit melinjo ini, juga bisa digoreng begitu saja tanpa adonan tepung, jadi bisa digoreng lepas seperti kacang mete ataupun kacang tanah. Makanan khas pesisir pantai ini berkhasiat menjaga kesehatan, menurunkan gula darah sekaligus mampu mengobati beberapa penyakit seperti diabetes meilitus dan stroke . Dengan adanya kandungan asam lemak omega 3 yang dimiliki undur-undur laut diyakini dapat menaikkan kadar insulin dalam tubuh sehingga dapat menurunkan kadar gula bagi penderita penyakit diabetes. Kalau bicara soal rasa, dijamin rasanya gurih, renyah, dan tentu saja enak. Anda penasaran ingin menikmati penganan yang satu ini? Bergegaslah ke Pantai Glagah Kulonprogo.

Peyek Undur-Undur Laut Khas Kulonprogo
Pedagang Peyek Undur-undur di Pantai Glagah


Keistimewaan lain undur-undur juga ditunjukkan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan, bahwa undur-undur laut juga mengandung lemak total yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 17,22-21,56 persen. Kandungan asam lemak omega 3 total (EPA dan DHA) juga cukup tinggi, berkisar antara 7,75-14,48 persen dibandingkan dengan beberapa jenis crustacea lain seperti udang, lobster, dan beberapa jenis kepiting. Sedangkan kandungan EPA (6,41-8,43 persen) lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan DHA-nya (1,34 - 6,57 persen).

Harga Peyek Undur-undur Per Bungkus

Di Kawasan Pantai Glagah Kulonprogo, Peyek Undur-undur yang sudah matang ini dikemas dalam plastik dan dijual dengan seharga Rp 5.000,00 per bungkus. Satu bungkusnya berisi lima peyek. Satu peyek berisi lima undur-undur. 

Saat ini, Peyek Undur-undur hanya dapat dijumpai di kawasan pesisir pantai seperti Pantai Glagah Kulonprogo, Pantai Parangkusumo dan Pantai Parangtritis Bantul. Peyek Undur-undur ini biasanya dijajakan ibu-ibu yang berjualan di sepanjang ketiga pantai tersebut. Jika Anda melakukan liburan di kawasan Pantai Glagah, Anda akan menemukan beberapa penjual Peyek Undur-undur di sepanjang pantai. Untuk bisa mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit. Jalan-jalan yang dilalui pun cenderung datar dan tak banyak tanjakan sehingga Anda bisa menempuhnya sambil bersantai. Lintasan menuju kota Purworejo itu juga menghubungkan Pantai Glagah dengan pantai-pantai lain di Kabupaten Kulonprogo.

Selasa, 01 Januari 2008

Perbedaan Geblek Kulonprogo dengan Geblek Purworejo

Perbedaan Geblek Kulonprogo dengan Geblek Purworejo
Geblek Wates

Jangan dulu berburuk sangka dengan istilah yang satu ini: geblék. Bacalah dengan pelafalan yang tepat. Geblék yang ini bukanlah kata umpatan, melainkan nama sederhana untuk menyebut salah satu makanan khas dari Kulonprogo, kabupaten di bagian barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukan sekadar cemilan tradisional, geblék dirasa sudah cukup layak untuk dijadikan sebagai simbol identitas kuliner Kulonprogo, setara dengan gudeg atau bakpia Jogja, geplak Bantul, salak pondoh dan jadah tempe Sleman, maupun gaplek Gunungkidul.

Geblék adalah jenis penganan tradisional yang dibuat dengan bahan baku berupa tepung tapioka atau tepung kanji. Saat ini, keberadaan geblék memang sudah semakin langka meskipun kita masih dapat menemukan segelintir orang yang tetap bertahan memproduksinya. Jika Anda ingin membawa geblék sebagai oleh-oleh ke luar kota, bawalah geblék yang belum digoreng, sebab geblék yang sudah digoreng biasanya akan terasa keras jika didiamkan selama 8 jam atau lebih.

Bentuk geblék menyerupai angka delapan dengan warna putih bersih. Terkadang orang tidak tertarik dengan wujud geblék yang tampil apa adanya ini karena tidak semenarik kue-kue atau jajanan pasarnya yang biasanya tampil dengan rupa penuh warna. Namun, jangan salah, meski berpenampilan sederhana, Anda tidak akan bisa melupakan kesan pertama begitu gigi dan lidah Anda menggigit snack yang satu ini. Kesan rasa geblék mirip yang renyah dengan rasa gurihnya sangat pas dan dijamin tidak membikin eneg perut Anda.

Selain menjadi trade-mark Kabupaten Kulonprogo (DIY), geblék ternyata juga menjadi salah satu simbol kuliner Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah). Kedua kabupaten yang berbeda provinsi ini memang terletak sangat berdekatan. Di Kabupaten Purworejo,  produksi geblék menjadi salah satu komoditi andalan di sektor kulinernya. Banyak usaha kecil dan menengah di Purworejo yang memproduksi geblék secara terkoordinir. Bahkan, distribusi geblék produksi Kabupaten Purworejo sudah menembus pasaran luar negeri, seperti Malaysia, negara-negara Arab di Timur Tengah, hingga negara-negara di kawasan Asia Timur, terutama Jepang.

Perbedaan Geblek Kulonprogo dengan Geblek Purworejo
Geblek Purworejo


Antara geblék Kulonprogo dengan geblék Purworejo terdapat sedikit perbedaaan, terutama dari segi penyajiannya. Jika geblék Kulonprogo biasanya disajikan bersama tempe besengek atau tempe benguk, maka geblék Purworejo dimakan dengan ditemani oleh bumbu pecel (bumbu kacang) sebagai unsur pengiringnya. Kedua jenis geblék ini pun berbeda dari segi bentuk. Geblék Kulonprogo mempunyai bentuk yang cenderung seragam, yaitu berbentuk angka 8 (delapan), sedangkan geblék ala Purworejo berbentuk lebih beragam, namun kebanyakan berwujud lingkaran yang bolong di bagian tengahnya, seperti kue donat.

Konon, geblék dan tempe benguk pernah menjadi makanan utama masyarakat Kulonprogo ketika daerah ini mengalami musim paceklik atau pada masa sulit mendapatkan beras. Oleh warga masyarakat tradisional di Kabupaten Kulonprogo, Geblék dan tempe benguk dijadikan makanan pokok sebagai pengganti beras atau nasi.

Geblek adalah makanan asal Kulonprogo yang kini tidak lagi banyak ditemui. Meski proses pembuatannya sederhana, mudah, dan murah, yakni dengan menggunakan bahan baku singkong, akan tetapi di daerah asalnya makanan ini sudah jarang ditemui. Peredaran geblék di pasaran pun sudah langka, selain di beberapa pasar tradisional, warung-warung sederhana, atau langsung ke pembuatnya. Segelintir pembuat geblék masih dapat kita temui di beberapa tempat di Wates (ibukota kabupaten) atau di sejumlah tempat lainnya di Kulonprogo.

Perbedaan Geblek Kulonprogo dengan Geblek Purworejo
Proses Membuat Geblek


Proses pembuatan geblék biasanya masih dilakukan dengan cara manual dan menggunakan peralatan tradisional. Bahan baku pembuatan geblék adalah singkong atau ketela yang sudah diolah menjadi tepung tapioka atau tepung kanji. Tepung tapioka yang digunakan untuk membuat geblék adalah tepung tapioka yang basah. Para pembuat geblék biasanya memakai tepung tapioka yang telah berupa adonan basah sehingga mudah dipotong-potong.

Selain harganya yang jauh lebih murah, tepung tapioka yang sudah basah jika dibuat menjadi geblék akan menghasilkan warna yang putih cantik. Sedangkan bila geblek dibuat dengan menggunakan tepung tapioka yang masih kering, maka biaya produksinya jauh lebih mahal dan geblek yang dihasilkan akan berwarna keabu-abuan atau kebiru-biruan yang dapat mengganggu selera konsumen.

Cara mengolah tepung singkong menjadi geblék cukup mudah dan tidak rumit. Tahap pertama adalah adonan tepung tapioka yang sudah basah dikukus, namun jangan sampai matang. Proses pengkukusan ini akan menghasilkan adonan tepung tapioka yang sudah padat. Adonan ini kemudian dipilin atau dipelintir dan digilas sambil dibumbui dengan garam. Setelah itu, adonan yang berbumbu garam ini dikukus lagi selama kurang lebih 10 menit dan kemudian ditiriskan sejenak.

Setelah ditiriskan, adonan kemudian diberi bumbu, yakni berupa bawang putih sudah dilumatkan. Adonan setengah matang ini kemudian dibentuk bulat-bulat dan digandengkan masing-masing terdiri atas dua bulatan sehingga membentuk angka 8 (delapan). Inilah bentuk khas dari adonan geblék yang sudah siap untuk digoreng sebelum disajikan hangat-hangat untuk segera dinikmati.

Santaplah geblék selagi masih hangat. Jangan biarkan geblék berdiam terlalu lama setelah diangkat dari tungku. Jika dinikmati belum lama selepas digoreng, geblék akan terasa garing di bagian luar, namun lidah kita akan segera menemukan sensasi kenyal di bagian dalam. Perubahan alur tekstur dari renyah menjadi lembek inilah yang menjadi salah satu kekhasan dari geblék.

Geblék yang baik adalah geblék yang tidak keras setelah digoreng. Geblék yang bermutu baik biasanya terdapat sedikit rongga di bagian dalamnya sehingga memberikan kesan lunak atau empuk. Geblék yang berkualitas prima adalah geblék yang berwarna putih bersih sekalipun tanpa menggunakan pewarna buatan. Selain itu, baik atau buruknya mutu geblék juga bisa diketahui ketika digoreng. Geblék yang bagus tidak akan meletus atau membuat minyak meletup ketika digoreng. Hasil gorengannya pun mulus dan halus.

Rasa asli dari geblék adalah rasa yang timbul dari perpaduan garam, bawang, dan adonan tepung tapioka. Penambahan unsur perasa lainnya, misalnya dengan menambahkan vetsin (penyedap rasa) atau bumbu masak instan, justru bisa merusak kemurnian dari cita rasa asli geblék Kulonprogo yang sederhana namun ciamik.

Geblék akan lebih mantap jika disantap bersama dengan tempe besengek atau tempe benguk. Benguk adalah jenis tempe yang berbahan dasar kacang koro, yakni biji-bjian yang masih satu keluarga dengan kacang kapri. Gurihnya geblék yang renyah lagi kenyal dengan cita rasa tempe benguk yang agak manis dan kemelthuk bila digigit akan semakin terasa lebih pas jika ditemani teh hangat atau kopi hitam kental sebagai pelengkapnya. Perpaduan unsur yang berbeda tersebut akan menimbulkan percikan rasa yang unik dan pastinya akan membikin lidah kita bergoyang.

Di Kabupaten Kulonprogo, geblék memang tidak mudah lagi diperoleh di banyak tempat. Keberadaan penganan tradisional ini sudah semakin langka. Jikapun ditemukan, geblék masih dijajakan alakadarnya, belum dikemas dengan tampilan yang menarik. Namun, jika Anda penasaran dan tertarik dengan makanan ndeso yang satu ini, Anda bisa mencoba mengunjungi pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Kulonprogo.

Kendati eksistensi geblék di Kabupaten Kulonprogo semakin mengkhawatirkan, namun ternyata masih ada sedikit orang yang masih setia melestarikan produksi geblék. Ada satu tempat yang bisa Anda jadikan rujukan utama, yakni Warung Geblék Tempe Bu Sumijo yang terletak masih di kawasan ibukota Kabupaten Kulonprogo, tepatnya di Jalan Pengasih-Clereng atau di pertigaan ke arah ke kantor Kecamatan Pengasih. Warung Geblék Tempe Bu Sumijo juga membuka cabang di Pasar Sentolo yang dapat dengan mudah Anda tempuh dari Kota Yogyakarta. Akan tetapi, Anda harus jeli dan bergegas karena Warung Geblék Tempe Bu Sumijo hanya buka dari pukul 17.00 (jam 5 sore) sampai jam 19.00 (jam 7 sore) WIB saja.

Jika Anda tidak sempat mengunjungi Warung Geblék Tempe Bu Sumijo, jangan khawatir karena Anda bisa langsung menyambangi produsen geblék yang terdapat di beberapa tempat di Kabupaten Kulonprogo. Salah satunya adalah Pak Yanto yang terkenal sebagai produsen geblék terbesar di Bejaten, Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo. Populeritas Pak Yanto sebagai pengusaha geblék ternyata sudah cukup kondang. Banyak pelanggan yang datang dari luar kota, seperti dari Jakarta, Bandung, Sumatra, Kalimantan, dan sebagainya, yang menyempatkan diri untuk datang sendiri ke rumah produksi geblek milik Yanto. Mereka umumnya membeli geblek mentah yang siap goreng sebagai oleh-oleh. Selain itu, Yanto juga sering diminta Pemerintah Daerah Kulonprogo sebagai duta kabupaten untuk mengenalkan kuliner atau kekhasan daerah Kulonprogo ke luar wilayah.

Selain Pak Yanto, masih ada sejumlah produsen geblék lainnya yang terdapat di wilayah Kabupaten Kulonprogo, seperti di Dusun Duwet I, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, yang dikelola oleh Ririen Astuti. Selain bisa datang langsung ke Kalibawang, Anda juga bisa memesan geblék via online atau telepon.

Apabila Anda ingin juga merasakan geblék Purworejo dan supaya Anda dapat membedakan keunikan rasanya dengan geblék Kulonprogo, Anda bisa langsung meluncur ke rumah produksi geblék milik Bakim yang berlokasi di Plaosan, Kelurahan/Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah 9. Ada juga Pak Rasa yang membuka warung penjualan geblék di depan Pasar Baledono sedari pukul 16.00 atau mulai jam 4 sore. Jika beruntung, Anda dapat menemukan para penjual geblék yang menjajakan dagangannya pada sore hari di tepi jalan-jalan yang ada di Kabupaten Kulonprogo maupun Kabupaten Purworejo.

Harga Geblek

Geblék Kulonprogo dilabeli dengan harga yang cukup murah, meski bervariasi dan tidak sama di masing-masing tempat. Di tempat Pak Yanto, misalnya, Anda bisa membeli geblék dengan harga paket, untuk satu paketnya dibanderol dengan harga 5.000 rupiah. Jika Anda juga tertarik untuk melengkapi paket geblék yang Anda beli dengan tempe besengek atau tempe benguk, Anda dapat juga langsung membeli paket tempe benguk hanya dengan menambahkan uang sebesar 3000 rupiah untuk satu paket.

Perbedaan Geblek Kulonprogo dengan Geblek Purworejo
Warung Geblek


Selain harga per-paket, Anda pun bisa membawa pulang geblék secara eceran. Satu buah geblék (basah/mentah maupun goreng) harganya sangat murah, hanya 200 rupiah saja. Anda bisa membeli geblék sesuai jumlah yang Anda inginkan. Geblék mentah yang siap goreng ini sangat cocok untuk dijadikan buah tangan dan dibawa pulang karena bisa tahan kurang lebih selama tiga hari