Selasa, 25 Desember 2007

Pensi, Cemilan Khas Kabupaten Agam Sumatra Barat

    Pensi, Cemilan Khas Kabupaten Agam Sumatra Barat
    Cemilan Pensi

    Cemilan pensi merupakan penganan yang diolah dari kerang air tawar Danau Maninjau. Kerang ini ukuran tubuhnya kecil, warna kulitnya hitam dan hitam kekuning-kuningan. Pensi biasanya ditangkap oleh nelayan dari dasar danau dengan menggunakan tangguak (tangguk) dari atas sampan tradisional. Penangkapan ini dilakukan setelah subuh hingga mentari muncul (06.00 WIB), agar hasil tangkapan dapat dijual secepatnya. Diperkirakan ada sekitar 1 ton pensi mentah per hari yang berhasil ditangkap oleh para nelayan dari dasar danau. Sebagian besar hasil tangkapan itu dijual ke pasar setempat dan sebagian lagi dijual ke luar daerah, seperti Kota Bukittinggi, Kota Padang Pariaman, Kota Padang, dan kota-kota lain di Sumatra Barat.  
    Selain langsung dijual ke pasar, pensi juga diolah menjadi aneka penganan, seperti cemilan dan aneka lauk-pauk. Untuk pensi yang dijadikan cemilan, proses memasaknya dibiarkan utuh dan dikontrol terus-menerus sembari diaduk agar kulitnya tidak terbuka. Kalau kulitnya sudah terbuka, pensi tersebut tidak bagus lagi untuk dihidangkan sebagai cemilan.
    Tak hanya dibuat sebagai cemilan, pensi juga diolah untuk dijadikan lauk-pauk yang biasanya disebut dengan urai pensi. Pensi yang dijadikan lauk-pauk biasanya yang dimasak hanya dagingnya saja. Proses pemisahan daging dan kulitnya tidak rumit, cukup dengan direbus hingga mendidih. Otomatis kulitnya akan terbuka, sehingga daging pensi dapat diambil dengan mudah. Setelah selesai proses pemisahan tersebut, maka pensi siap diolah untuk dimasak sesuaidengan kebutuhan dan keinginanmisalnya dimasak menjadi gulai atau digoreng.
    Biasanya, masyarakat lebih banyak mengolah pensi sebagai cemilan karena lebih efisien dalam pengolahannya dan memiliki nilai jual. Pensi yang diolah untuk cemilan memasaknya lebih mudah, penyajiannya pun lebih cepat, serta praktis. Penganan ini lebih mudah dijumpai di sekitar Danau Maninjau, seperti di warung-warung, kedai, dan lapak yang ada di pinggir-pinggir danau.

      Cemilan pensi juga merupakan salah satu ikon dari objek wisata  Danau Maninjau. Setiap kali orang berkunjung ke danau ini selalu teringat dengan masakan yang satu ini. Bahkan, sebagian orang rela datang dari luar daerah sekedar mencari makanan ini sembari menikmati indahnya panorama danau.
      Keistimewaan cemilan pensi terletak pada rasanya yang nikmat walau proses pengolahannya cukup sederhana. Pensi diolah dengan cara direndam terlebih dahulu di dalam air guna menghilangkan kotoran yang masih menempel karena proses penangkapan. Lalu pensi dimasak dalam air dengan pengawasan dan diaduk. Setelah matang, pensi dipisahkan dari air lalu dicampur dengan beberapa kombinasi bumbu yang terdiri dari bawang perei, bawang merah yang telah digoreng, seledri, serta lengkuas. Untuk menambah rasanya, pensi tersebut dibubuhi dengan garam secukupnya hingga didapatkan rasa yang pas. Setelah selesai, pensi siap dihidangkan untuk keluarga atau untuk dijual.  
      Selain rasanya yang enak, pensi juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari perguruan tinggi daerah setempat. Temuan tersebut mengatakan bahwa pada daging kecil pensi terdapat gizi yang dibutuhkan untuk meningkatkan stamina tubuh dan kecerdasan otak. 


      Harga Cemilan Pensi

      Para pedagang pensi biasanya menjual makanan menggunakan takaran berupa gelas. Untuk takaran 1 gelas, para pedagang biasanya mematok harga antara Rp 1.000—2.000. Cemilan pensi juga merupakan salah satu ikon dari objek wisata  Danau Maninjau. Setiap kali orang berkunjung ke danau ini selalu teringat dengan masakan yang satu ini. Bahkan, sebagian orang rela datang dari luar daerah sekedar mencari makanan ini sembari menikmati indahnya panorama danau. 

      Keistimewaan cemilan pensi terletak pada rasanya yang nikmat walau proses pengolahannya cukup sederhana. Pensi diolah dengan cara direndam terlebih dahulu di dalam air guna menghilangkan kotoran yang masih menempel karena proses penangkapan. Lalu pensi dimasak dalam air dengan pengawasan dan diaduk. Setelah matang, pensi dipisahkan dari air lalu dicampur dengan beberapa kombinasi bumbu yang terdiri dari bawang perei, bawang merah yang telah digoreng, seledri, serta lengkuas. Untuk menambah rasanya, pensi tersebut dibubuhi dengan garam secukupnya hingga didapatkan rasa yang pas. Setelah selesai, pensi siap dihidangkan untuk keluarga atau untuk dijual.   Selain rasanya yang enak, pensi juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari perguruan tinggi daerah setempat. Temuan tersebut mengatakan bahwa pada daging kecil pensi terdapat gizi yang dibutuhkan untuk meningkatkan stamina tubuh dan kecerdasan otak. 
      Makanan ini dapat dijumpai di sekitar Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya), Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra BaratIndonesia.

Kamis, 20 Desember 2007

Nasi Grombyang

Nasi Grombyang Pemalang
Nasi Grombyang

Kuliner khas Kabupaten Pemalang ini terdengar eksentrik di telinga, nasi grombyang namanya. Asal-muasal penamaan ini sebenarnya mengacu pada cara penyajian makanan ini, yaitu porsi kuah yang lebih banyak dibandingkan dengan nasi dan isinya sehingga ketika disajikan di mangkuk terlihat grombyang-grombyang alias bergoyang-goyang seperti akan tumpah. Makanan kaya kuah ini cukup populer di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kawasan yang salah satu sisinya berbatasan langsung dengan pesisir utara Jawa atau berada di jajaran rute utama Jakarta-Surabaya alias jalur Pantura.

Jika dilihat sekilas, nasi grombyang hampir mirip dengan soto, akan tetapi kuahnya yang cokelat pekat justru mengingatkan kita akan kuah rawon, makanan khas dari Jawa Timur itu.   Namun, bukan soto apalagi rawon, nasi grombyang sebenarnya adalah sejenis nasi campur yang mengandalkan daging kerbau dan kuah sebagai elemen utamanya. Irisan daging kerbau dan kuah ini kemudian dijadikan satu di sebuah mangkok kecil sebelum disajikan. Ketika dibawa dengan nampan, kuah yang melimpah seolah-olah akan meluap dari bibir mangkok. Dari kuah yang bergoyang-goyang sehingga hampir tumpah inilah yang kemudian dilafalkan dalam bahasa lokal dengan istilah grombyang.

Sejarah nasi grombyang yang kemudian menjadi salah satu ikon kuliner Pemalang sebenarnya masih belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, menurut warga setempat, nasi grombyang sudah dikenal sejak era 1960-an. Awalnya, para penjual nasi grombyang menjajakan dagangannya dengan berkeliling, keluar masuk kampung. Seiring dengan semakin banyaknya orang yang ketagihan akan nikmatnya makanan ini, maka muncullah beberapa warung nasi grombyang. Akhirnya, nasi grombyang pun kian disuka dan perlahan tapi pasti mulai memantapkan diri sebagai salah satu makanan tradisional khas dari Kabupaten Pemalang.

Hal yang paling membuat orang jatuh cinta pada nasi grombyang tentu saja daging kerbaunya. Daging mamalia yang satu ini memang sudah cukup jarang ditemui sehingga nasi grombyang menjadi salah satu pilihan utama untuk merasakan lezatnya daging kerbau terkenal sangat gurih. Istimewanya lagi, selain irisan daging kerbau yang disajikan di dalam mangkok beserta kuahnya, masih ada daging kerbau tersendiri yang khusus disediakan sebagai pelengkap makan nasi grombyang, yaitu sate kerbau. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana lidah kita dimanjakan oleh lembut dan mantapnya daging kerbau yang diracik bersama kuah dengan ramuan bumbu khusus. Apalagi jika disantap bersama sambal cabai rawit dan taburan bawang goreng, nasi grombyang dijamin bakal membuat lidah Anda bergoyang.

Bukan hal yang melulu negatif apabila kawasan Pantura terlanjur identik dengan warung remang-remang, karena seperti itu pula suasana yang terhampar di sejumlah warung nasi grombyang. Ya, warung-warung makan sederhana itu memang punya ciri khas yang menarik. Selain penerangan di dalam warung yang samar-samar karena hanya diterangi oleh lentera atau lampu teplok, yang paling khas dari warung nasi grombyang adalah wadah kuah yang berupa kuwali (semacam gentong dari tembikar) berukuran besar dan tempat nasi yang ditutupi dengan kain berwarna merah. Setelah hidangan diantarkan, para pembeli biasanya menyantap nasi grombyang sembari duduk di dingklik alias kursi kecil dengan kaki-kaki penyangga yang pendek. Nikmati orisinalitas rasa dan suasananya.

Lokasi Penjualan Nasi Grombyang

Warung-warung yang menyediakan menu nasi grombyang terbilang sangat mudah ditemukan di Pemalang, terutama di sepanjang Jalan RE Martadinata dan di lingkungan alun-alun Kota Pemalang. Akses menuju lokasi ini pun cukup gampang dijangkau karena terletak di pusat Kota Pemalang. Jika Anda melintas Pemalang dari jalur Pantura, Anda akan menjumpai sebuah perempatan lampu merah di daerah yang bernama Pagaran. Dari perempatan Pagaran itu Anda tinggal belok ke kanan hingga sampai ke sebuah perlintasan kereta api. Setelah melewati rel tersebut, maka Anda akan tiba di Pasar Anyar. Nah, lokasi Jalan RE Martadinata ada di sebelah selatan pasar tersebut.

Nasi Grombyang Pemalang
Warung Nasi Grombyang Pak H Warso


Di antara penjual nasi grombyang di sepanjang Jalan RE Martadinata, Pemalang, terdapat beberapa warung makan yang paling terkenal. Salah satunya adalah warung nasi grombyang Pak H. Warso. Orang Pemalang sangat menggemari nasi grombyang Pak H. Warso ini. Bahkan, tidak sedikit orang dari luar kota yang sedang berkunjung ke Pemalang, atau hanya sekadar lewat, selalu menyempatkan diri mampir ke warung ini. Selain nasi grombyangnya yang terkenal enak, warung Pak H. Warso juga terjaga kebersihannya sehingga semakin membuat nyaman para pelanggannya. Sebenarnya masih ada beberapa warung makan nasi grombyang di Pemalang yang juga tak kalah laris, antara lain warung nasi grombyang milik Pak H. Waridin yang berlokasi di Sirandu (bekas terminal lama Pemalang) atau nasi grombyang Pak Syukur yang biasa membuka warungnya di depan Pasar Petarukan.

Harga Nasi Grombyang PerPorsi

Untuk menikmati satu porsi nasi grombyang, Anda hanya perlu merogoh kocek antara 8000 sampai 10.000 rupiah (per April 2011). Sedangkan 1 tusuk sate kerbau cuma dihargai Rp. 1000 saja. Murah meriah, bukan? Nah, tunggu apa lagi! Jika Anda ke Pemalang, jangan lupa cicipi nasi grombyang.

Buntil Purbalingga

Buntil Purbalingga
Buntil Purbalingga

Purbalingga selain terkenal dengan keindahan panorama alamnya, kabupaten ini juga punya kekayaan kuliner yang khas dan tentunya menggiurkan. Salah satu kuliner asli Purbalingga adalah buntil. Dilihat dari namanya, buntil terkesan seperti penganan ndeso, tapi jangan salah, justru makanan inilah yang menjadi salah satu ikon kuliner Kabupaten Purbalingga karena keunikan bentuk dan citarasanya khas bin unik. Buntil adalah menu makanan sehat, namun tetap nikmat, yang dibuat dari kukusan daun keladi, daun pepaya, atau daun singkong. Kukusan daun yang kaya gizi itu kemudian diisi dengan parutan kelapa yang dicampur ikan teri. Jangan skeptis dulu saat melihat tampilan buntil. Cicipi terlebih dulu, barulah Anda boleh berkomentar. Konon, buntil menjadi makanan favorit orang-orang Belanda yang menetap di Purbalingga dan sekitarnya pada masa penjajahan Belanda dulu.

Ada yang bilang, buntil nyaris mirip dengan bothok, makanan tradisional yang cukup dikenal luas di seantero Jawa Tengah. Bedanya, bothok dibungkus dengan daun pisang, sementara buntil dibalut dengan bungkusan dari daun singkong muda (bisa juga memakai daun keladi atau daun pepaya) dan ditambahkan sedikit kuah bercitarasa pedas yang dibuat dari santan beserta seperangkat bumbunya. Karena bothok dibungkus dengan daun pisang, maka bungkusnya tidak bisa dimakan. Berbeda dengan buntil yang bisa dilahap sekaligus dengan bungkusnya karena terbuat dari daun singkong muda yang selain terkenal nikmat, juga sangat menyehatkan.

Buntil yang terbungkus daun singkong muda serta diisi dengan campuran parutan kelapa dan ikan teri diramu dengan berbagai bahan pendukung lainnya sebagai bumbunya, yaitu bawang, cabai, lengkuas, asam, garam, dan lain sebagainya. Cara penyajiannya, buntil disiram dengan kuah pedas dan sertakan pula beberapa cabai rawit yang dibiarkan utuh. Setelah itu baru disantap, bisa sebagai lauk nasi atau dimakan begitu saja, dan segera rasakan nikmatnya. Sengatan pedas yang berpadu dengan citarasa gurih dan sedikit asin, ditambah dengan nuansa alami dari daun singkong sebagai pembungkusnya, dijamin membuat Anda tidak lagi meremehkan kudapan tradisional yang kerap diklaim sebagai makanan ndeso ini.

Di berbagai tempat di Purbalingga, banyak penduduk lokal yang mulai melirik potensi buntil untuk diproduksi secara home industry, meskipun telah cukup banyak pula orang Purbalingga yang berbisnis makanan ini. Namun, ada satu jenis buntil yang oleh banyak orang dianggap paling istimewa, yaitu di Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Buntil buatan Kasmini yang menggeluti usaha ini sejak 44 tahun silam ini terkenal dengan nama Buntil Carangmanggang atau Buntil Kutasari. Carangmanggang adalah dusun tempat tinggal Kasmini, sedangkan Kutasari merupakan nama pasar tradisional di mana Kasmini menjajakan buntil buatannya.

Buntil Carangmanggang memang sedikit berbeda dengan buntil pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada racikan bumbu yang membuat buntil ini menjadi lain daripada yang lain. Kasmini mengisi buntilnya dengan parutan kelapa muda yang dipadukan dengan berbagai macam bumbu khusus. Istimewanya lagi, daun pembungkus Buntil Carangmanggang berbeda-beda jenisnya. Pembeli bisa memilih langsung, apakah mau dibungkus dengan daun singkong, daun talas, atau daun pepaya yang disukai karena bercitarasa sedikit pahit namun nikmat. Buntil Kasmini ditanggung semakin lezat setelah disiram santan. Tidak main-main, langganan tetap Kasmini adalah Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang sering memesan buntil untuk menjamu pejabat atau tamu yang datang dari luar kota. Anda juga harus bergerak cepat jika ingin mencicipi Buntil Carangmanggang karena setiap hari banyak orang yang rela mengantri di warung buntil Kasmini di Pasar Kuntisari.

Sebenarnya Anda bisa pula membeli buntil di pasar-pasar tradisional lainnya yang tersebar di Purbalingga, meskipun buntil yang paling terkenal adalah Buntil Carangmanggang yang dijajakan hanya di Pasar Kuntisari. Soal rasa sesungguhnya relatif dan bisa diperbandingkan sendiri karena selera orang berbeda-beda. Jika Anda benar-benar penasaran dengan makanan tradisional yang satu ini, sebaiknya Anda berangkat ke pasar di waktu pagi, karena jika tidak, selain bisa kehabisan, mungkin juga pasarnya keburu sepi. Pasar tradisional di Purbalingga biasanya memang ramai sejak dini hari, namun beringsut menjadi sepi seiring dengan naiknya matahari.


Harga Buntil Purbalingga

Biasanya, buntil di Purbalingga dijual secara satuan. Satu buntil rata-rata dibanderol dengan harga antara 2500-4000 rupiah (per Juli 2011). Namun, jika Anda menginginkan membeli buntil dengan jumlah yang cukup banyak, buntil bisa juga dikemas dengan baik sehingga dapat dibawa pulang untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Purbalingga.


Selasa, 27 November 2007

Mencicipi Kelezatan Rabeg Makanan Khas Kabupaten Serang

    Mencicipi Kelezatan Rabeg Makanan Khas Kabupaten Serang

    Berkunjung ke Banten menjadi kurang berkesan tanpa mencicipi kelezatan masakan yang disebut rabeg. Rabeg adalah menu masakan berkuah yang terbuat dari daging kambing dan jeroannya. Proses pembuatan masakan ini dimulai dari mengiris daging dan jeroan kambing dalam bentuk kecil-kecil. Selanjutnya hasil irisan daging dan jeroan tersebut dicampur menjadi satu dan dituangi air yang telah diberi bumbu sebagai kuahnya. Setelah itu dimasak sampai daging berubah warna agak kecoklatan dan bumbu dianggap sudah meresap. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.
    Sampai sekarang, belum ada yang mengetahui siapa yang pertama kali memperkenalkan masakan ini. Oleh masyarakat Serang, dahulu masakan ini dianggap sakral, karena merupakan simbol penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga masakan ini hanya dapat dijumpai pada perayaan maulud Nabi Muhammad SAW.
    Namun, seiring dengan berjalannya waktu, nilai kesakralan masakan ini semakin pudar. Ia tidak hanya dijumpai pada peringatan maulud Nabi Muhammad SAW saja, tetapi juga dapat dijumpai pada berbagai hajatan, seperti aqiqah, tasyakuran, pesta perkawinan, dan lain-lain. Bahkan, masakan ini sekarang dijual bebas, dan mudah dijumpai di rumah makan dan restoran yang ada di sekitar Kota Serang. 

    Keistimewaan masakan rabeg terletak pada kuahnya yang terbuat dari air murni yang diberi bumbu dan rempah-rempah, seperti jahe, lada, dan cabe merah, yang berfungsi sebagai penghangat tubuh. Kuahnya berwarna coklat, akibat dari bercampurnya berbagai macam bumbu. Kuah tersebut dianggap dapat mengurangi kandungan lemak. Keistimewaan lainnya, rabeg juga dilengkapi dengan aneka lalapan seperti timun, wortel, dan kobis. Aneka lalapan ini merupakan hidangan yang dipercaya sebagai penurun tekanan darah akibat mengkonsumsi rabeg secara berlebihan. Sehingga para pengunjung tidak perlu khawatir dengan naiknya tekanan darah setelah menikmatinya.

    Harga Satu Porsi Rabeg

    Satu porsi rabeg dijual dengan harga Rp. 8.000 (Juli 2007) yang terdiri dari rabeg, nasi samin, empeng melinjo, aneka lalapan seperti timun, wortel, dan kobis yang telah diiris kecil-kecil, dan segelas teh manis. 

    Wisatawan yang ingin menikmati rabeg, dapat berkunjung ke Kota Serang, Propinsi Banten. Di kota ini banyak terdapat warung makan yang menyajikan masakan khas rabeg, seperti warung-warung di Kampung Magersari yang terletak di depan Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Serang. Selain itu, masakan ini juga bisa ditemukan di Jalan Banten Raya No. 40, Desa Lopang Cilik, Kabupaten Serang.

Jumat, 09 November 2007

Dodol Garut

Dodol Garut

Jika Anda penggemar dodol, jangan lewatkan untuk mencicipi legitnya dodol yang satu ini. Dodol Garut namanya. Garut adalah sebuah kabupaten yang terletak di ujung selatan Jawa Barat, memang terkenal sebagai kota penghasil dodol. Dodol Garut ini sudah sangat populer karena citarasanya yang khas di samping kelenturannya yang berbeda dari produk sejenis dari daerah lain. Oleh karena kepopulerannya, komoditas ini mampu mengangkat citra kabupaten yang berjuluk Kota Intan ini sebagai kota penghasil dodol yang berkualitas tinggi. Itulah sebabnya, Kota Garut dikenal juga sebagai Kota Dodol.

Bahan Dodol Garut

Seperti halnya dodol jenis lainnya, bahan baku utama Dodol Garut terbuat dari tepung ketan atau tepung beras, santan kelapa, gula merah atau gula pasir, dan garam. Bedanya, dodol khas Garut ini dikembangkan dengan memodifikasi bahan baku utamanya dan memanfaatkan bahan lain seperti cokelat dan buah-buahan sehingga melahirkan varian rasa yang beraneka ragam. Jenis buah-buahan yang sering digunakan sebagai bahan modifikasi antara lain buah waluh (labu merah), kentang, kacang, pepaya, nenas, durian, sirsak, tomat, wijen, dan beragam buah lainnya.

Tidak diketahui secara pasti siapa pertama kali membuat jenis dodol ini karena ia merupakan makanan tradisional yang diolah dalam industri rumahan. Namun yang jelas, Dodol Garut sudah dikenal sejak zaman Belanda. Ketika itu, banyak noni-noni Belanda yang pandai membuat dodol, baik untuk dikonsumi sendiri maupun untuk dijual. Sekitar tahun 1926, industri rumah tangga ini mulai dikembangkan oleh pengusaha bernama Karsinah. Walaupun kemasannya masih sangat sederhana, komoditi ini terus berkembang karena citarasanya yang khas dan harganya pun terjangkau bagi semua kalangan. Sampai sekarang, Dodol Garut telah diproduksi secara modern sehingga komoditi ini tidak hanya menjangkau pasaran dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar global. Dodol ini pun menjadi salah satu komoditi ekspor ke mancanegara seperti Brunei, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Singapura, dan Inggris.

Dodol Garut telah dikemas dengan sentuhan khas dan inovasi sehingga selalu menjadi sajian istimewa bagi Anda penggemar dodol. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu memiliki varian citarasa, harga terjangkau, camilan yang banyak digemari oleh masyarakat, tidak menggunakan bahan pengawet dan bahan makanan yang bersifat sintetis (tiruan), serta memiliki daya tahan yang cukup lama yakni sekitar 3 bulan.

Variasi Warna Dodol Garut


Selain variasi rasa, Dodol Garut juga memiliki varian warna. Secara umum, ada 2 jenis warna dodol yang beredar di pasaran, yaitu dodol berwarna coklat tua dan coklat muda atau campuran keduanya. Belakangan, muncul pula “dodol zebra” yakni dodol yang bercorak dan berpola seperti kulit zebra, namun tidak semata-mata hitam dan putih, tetapi juga warna lain seperti coklat-putih, hijau-putih, dan merah-putih. Rasa “dodol zebra” ini tidak kalah lezatnya dengan Dodol Garut yang original. Dodol zebra ini menggunakan penyedap berupa telur atau lemak sapi.

Cara Membuat Dodol Garut

Untuk mendapatkan citarasa Dodol Garut yang lezat dan berkualitas tinggi, semua bahan dicampur dan dimasak dalam kuali besar dengan api sedang. Dalam proses pemasakan, campuran dodol harus diaduk terus-menerus agar tidak hangus dan tidak membentuk kerak pada bagian bawahnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus dimasak selama kurang lebih 4 jam hingga warnanya menjadi coklat tua atau pekat dan mengkilap. Setelah matang, dodol harus didinginkan dalam periuk yang besar, kemudian dipotong-potong dan dikemas sesuai ukuran yang diinginkan.

Lokasi Penjualan Dodol Garut

Dodol Garut adalah makanan khas dari Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di sepanjang jalan di pusat Kota Garut, banyak terdapat sentra oleh-oleh atau toko-toko yang menyediakan Dodol Garut dengan berbagai pilihan rasa serta beragam ukuran kemasan yang sesuai dengan isi kantong Anda. Salah satu pusat oleh-oleh yang ramai dikunjungi adalah di Pasar Ceplak yang suasananya masih ramai hingga malam. Pasar yang terletak di ruas Jalan Siliwangi ini mulai buka sekitar pukul 16.00 WIB. Pasar ini tidak hanya menjajakan Dodol Garut, tetapi berbagai makanan khas Garut lainnya. Selain itu, di Jalan Pasundan No. 102 juga terdapat sebuah sentra pembuatan Dodol Garut yang berkualitas tinggi karena diproduksi secara modern oleh sebuah perusahaan ternama di Kota Garut. Untuk menjangkau tempat-tempat tersebut, di Kota Garut tersedia beragam sarana transportasi seperti delman kuda, ojek sepeda motor, angkutan kota, minibus maupun bis besar, rental mobil, dan taxi.

Harga Dodol Garut

Harga Dodol Garut cukup bervariasi, disesuaikan dengan jenis dan kualitasnya. Dodol Garut jenis original dijual dengan kisaran antara 15.000 hingga 17.500 rupiah/500 gram. Sementara harga “dodol zebra” biasanya lebih tinggi dari dodol jenis original karena kualitasnya lebih bagus.Harga Dodol Garut cukup bervariasi, disesuaikan dengan jenis dan kualitasnya. Dodol Garut jenis original dijual dengan kisaran antara 15.000 hingga 17.500 rupiah/500 gram. Sementara harga “dodol zebra” biasanya lebih tinggi dari dodol jenis original karena kualitasnya lebih bagus.

Rabu, 24 Oktober 2007

Gulai Ikan Patin Khas Kota Pekanbaru

Gulai Ikan Patin Khas Kota Pekanbaru
Gulai Ikan Patin


Bila Anda berkunjung ke Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, jangan lupa menikmati salah satu menu andalan daerah yang dikenal dengan Bumi Melayu ini, yaitu gulai ikan patin. Karena, gulai ikan patin telah menjadi ikon wisata kuliner bagi kota yang juga dijuluki dengan Kota Bertuah ini, di samping gulai ikan baung tentunya. Oleh sebab itu, hampir setiap warung, rumah makan, dan restoran yang terdapat di Kota Pekanbaru selalu menyajikan gulai ikan patin sebagai menu utama.

Bila dicermati secara seksama, masuk akal kiranya mengapa ikan patin (pangasius hipothalmus) dan ikan baung (mystus nemurus) menjadi menu andalan wisata kuliner Kota Pekanbaru. Secara geografis, Kota Pekanbaru diapit oleh empat buah sungai besar, yaitu Sungai Siak, Sungai Indragiri, Sungai Kampar, dan Sungai Rokan. Keberadaan sungai-sungai tersebut memungkinkan ikan patin dan ikan baung dapat berkembang dengan baik, apalagi kedua jenis ikan tersebut merupakan spesies ikan air tawar yang biasa hidup di kolam atau sungai.

Meskipun gulai ikan patin sangat terkenal di Kota Pekanbaru, ternyata tidak semua penduduk kota tersebut menyukainya. Sebagian masyarakat menganggap ikan patin merupakan leluhur atau bagian dari keluarganya. Hal ini berkaitan dengan sebuah cerita rakyat yang sangat populer di daerah tersebut, yaitu legenda ikan patin, dengan Awang Gading, Dayang Kumunah, dan Awangku Usop sebagai tokoh utamanya.  

Kekhasan gulai ikan patin terletak pada kuahnya yang kuning pekat dipadukan dengan potongan-potongan ikan patin yang berukuran besar. Aroma daging ikan patin yang khas berbaur dengan aroma bumbu “menyerbu” indera penciuman, menggoda pengunjung untuk segera menyantapnya. Dagingnya yang empuk dan resapan bumbunya yang terasa di lidah menambah daya tarik menu ini.

Hal lain yang membedakan gulai ikan patin Kota Pekanbaru dengan gulai ikan patin yang terdapat di daerah lain di Nusantara adalah campuran bunga kecombrang/bunga kincung (nicolaia speciosa/torch ginger). Bunga kecombrang dimasukkan ke dalam kuah dan dimasak hingga layu. Selain  berfungsi sebagai sayuran yang memberi kesan lebih segar pada masakan, bunga kecombrang juga berfungsi sebagai penyedap rasa gulai ikan patin.

Menu yang biasa disantap pada waktu makan siang dan makan malam ini akan terasa lebih spesial apabila disandingkan dengan menu pendamping lainnya di atas meja, seperti sambal jengkol, daun singkong rebus, ikan asin, gulai udang, dan lain sebagainya. Menyeruput minuman khas daerah ini di sela-sela makan, seperti laksamana mengamuk, lancang kuning, air mata pengantin, atau jus jagung, melengkapi kepuasan Anda menikmati gulai ikan patin. Sedangkan bagi Anda yang ingin mencicipi masakan ikan patin berkuah dengan rasa yang berbeda, dapat mencoba asam pedas (sampadeh) ikan patin. Berbeda dengan gulai ikan patin yang terasa lekat di lidah karena kuahnya yang kuning dan kental, asam pedas ikan patin dengan kuahnya yang bagai “semburat merah” itu menawarkan rasa yang lebih segar dan pedas ketika disantap.

Harga Satu Porsi Gulai Ikan Patin

Harga seporsi gulai ikan patin berkisar antara Rp 35.000-Rp 40.000. Bagi wisatawan yang berada di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, dapat dengan mudah menemukan warung-warung, rumah makan, dan restoran yang menyediakan gulai ikan patin, seperti di kawasan sekitar Arengka, Simpang Tiga (dekat Bandara Sultan Syarif Kasim II), Jalan Sudirman, dan Jembatan Leighton (Jembatan Siak I).    

Kamis, 18 Oktober 2007

Bakso Lombok Uleg

Bakso Lombok Uleg
Bakso Lombok Uleg

Bakso barangkali telah menjadi makanan yang umum didapati di banyak tempat di Indonesia. Namun, bakso asal Temanggung ini boleh jadi bisa dikategorikan sebagai jenis bakso yang lain daripada yang lain. Apa pasal? Ya, bakso dari Kota Tembakau ini memang agak unik, yaitu bakso lombok uleg. Dari namanya saja sudah terlihat keunikan warisan kuliner asli Kabupaten Temanggung ini. Citarasa peras bakso lombok uleg bukan berasal dari sambal ataupun saos, melainkan dari racikan cabai rawit yang dijamin mencubit lidah. Menjadi sangat pas ketika bakso lombok uleg yang super pedas dinikmati di tengah dataran tinggi yang tentunya bernuansa dingin seperti. Kebetulan, Temanggung memenuhi syarat tersebut karena kabupaten yang berada wilayah Provinsi Jawa Tengah ini merupakan bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Dieng. Selain itu, lokasi Temanggung juga tidak jauh dari letak berdirinya duet Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Riwayat bakso lombok uleg yang diperkirakan mulai muncul pada dekade 1950-an tidak konon digagas oleh seorang anak petani bernama Ali Prawiro. Ia ingin mengubah garis nasibnya dan belajar terlebih dulu kepada seorang Tionghoa sebelum memberanikan diri untuk terjun di ranah kuliner. Setelah menimba ilmu tentang bakso, Ali turun gelanggang untuk menerapkan apa yang telah ia dapat. Namun, ia ingin membuat sesuatu yang baru. Keinginan tersebut diwujudkan dalam menu baksonya. Ali sengaja tidak menyertakan mie di bakso yang ia buat, namun diganti dengan ketupat. Ali pun meracik sendiri bumbu-bumbu pedasnya. Caranya sederhana namun hasilnya cukup inspiratif. Ia menumbuk cabai rawit langsung di mangkok. Setelah diuleg, barulah bakso dan bahan-bahan lainnya dimasukkan ke mangkok dan diguyur dengan kuah panas. Rasanya? Hemmm, pastinya meledak-ledak!

Kendati sudah bisa menciptakan resep khusus yang berbeda dari yang lain, tapi Ali tak punya cukup modal untuk membangun warung. Ia masuk keluar kampung untuk mengenalkan bakso inovasi barunya. Setelah sekian tahun menjelajah, ia memutuskan menetap. Lokasi pertama adalah di dekat klenteng Kong Hu Cu di Temanggung. Kemudian, pindah ke kompleks terminal lama. Namun, karena lokasi tersebut akan dirombak, Ali pun tergusur dan terpaksa beringsut lagi. Ali sendiri mungkin tidak mengira hasil perjuangannya ini akan melegenda seperti sekarang ini. Kini, bakso rintisan Ali sudah lekat sebagai salah satu ikon kuliner Temanggung dan dikenal luas hingga ke banyak daerah dengan nama bakso lombok uleg.

Tidak adanya mie justru membuat kuah bakso lombok uleg terlihat lebih fresh dan jernih. Dengan begitu, tampilannya pun akan semakin sedap dipandang dan membuat orang kian tergiur untuk menyantapnya. Yang paling istimewa dari bakso ini tentu saja lombok ulegnya yang digerus langsung di atas mangkok sebelum menu bakso disiapkan. Spesialnya lagi, pembeli bisa menentukan sendiri berapa biji cabai yang dikehendaki. Anda yang doyan makanan pedas tentunya siap-siap menggoyang lidah karena sensasi spicy bakso lombok uleg yang rasanya sulit bisa Anda lupakan. Karena langsung dihaluskan di mangkok, maka rasa dan aroma yang khas dari cabai rawit lebih terasa lebih segar dan merangsang selera.

Bakso Lombok Uleg
Lombok Digerus Langsung Diatas Mangkok


Racikan bumbu yang sederhana justru menjadi keistimewaan dari bakso lombok uleg, selain tentu saja sensasi pedasnya yang terasa spontan di mulut. Di dalam semangkok bakso lombok uleg biasanya terdiri dari bakso, ketupat, irisan tahu, dan kuah beserta paduan bumbunya. Tahu yang digunakan juga bukan tahu sembarang tahu. Biasanya, menu bakso memakai tahu jenis plempung (tahu yang menggelembung bila digoreng). Sedangkan untuk bakso lombok uleg, tahu yang dipakai adalah tahu yang khusus didatangkan dari Temanggung, yakni tahu basah dengan tesktur empuk dan berasa nikmat. Namun, tahu dapat pula digoreng kering untuk Anda yang lebih suka sensasi crispy. Selain itu, berbeda dengan bakso pada umumnya, citarasa bakso lombok uleg lebih segar dan tidak terlalu berlemak, sehingga pas untuk Anda yang ingin sekadar mengganjal perut.

Lokasi Penjualan Bakso Lombok Uleg

Terdapat banyak warung yang khusus menyediakan menu bakso lombok uleg. Salah satu yang terbesar adalah Bakso Lombok Uleg Pak Di yang berlokasi di Jalan Jenderal Soedirman, No. 48A, Temanggung, Jawa Tengah.

Bakso Lombok Uleg pak Di
Bakso Lombok Uleg Pak Di


Bakso Lombok Uleg Pak Di juga telah membuka cabang di beberapa tempat, seperti di Yogyakarta, Magelang, dan Pekalongan. Di Yogyakarta, Bakso Lombok Uleg Pak Di bahkan sudah memiliki sejumlah cabang, antara lain di Jalan Godean Km. 4, Jalan Kaliurang Km. 6.2, Condongcatur, Jalan Bantul No. 64, dan di Jalan Wates Km. 3. Selain warung Pak Di, masih terdapat beberapa penjual bakso lombok uleg lainnya, misalnya warung Pak Amat yang terletak tidak jauh dari warungnya Pak Di di Temanggung, warung Pak Yitno yang berlokasi di depan gedung DPRD Temanggung, warung Pak Peh di dekat terminal Giwangan Yogyakarta, bahkan ada juga di Bandung, yakni warung milik Mas Wiwied yang beralamat di Jalan Ciwastra 181, Bandung, Jawa Barat.

Harga Semangkuk Bakso Lombok Uleg

Semangkuk bakso lombok uleg yang super pedas dihargai dengan tarif antara 4000-8000 rupiah, biasanya tergantung banyak sedikitnya cabai yang Anda dikehendaki.

Kamis, 20 September 2007

Kupang Lontong

Kupang Lontong
Kupang Lontong 

Masakan seafood berbahan utama kupang memang masih jarang dan hanya bisa ditemukan di daerah-daerah tertentu. Di Pasuruan, daging kupang yang lunak diolah untuk dijadikan salah satu jenis kuliner kabupaten yang berbatasan langsung dengan Selat Madura ini, yakni Kupang Lontong. Sesuai dengan namanya, Kupang Lontong adalah menu yang memadukan kupang dan lontong: kupang sebagai lauknya, sedangkan lontong –yang biasanya menjadi teman karib sate– diposisikan sebagai pengganti nasi.

Kupang dan lontong saja belum lengkap untuk mendapatkan rasa yang sempurna. Kupang Lontong wajib disajikan bersama kuah beserta bumbu-bumbu pelengkapnya, termasuk petis. Petis ala Jawa Timur dibuat dari pindang, kupang, atau udang yang dipanasi sampai kuahnya mengental seperti saus atau salad. Petis berwarna hitam atau kecoklat-coklatan dan manis rasanya karena memakai bahan karamel ataupun gula.

Kuah yang digunakan untuk menyiram Kupang Lontong adalah kuah hasil rebusan kupang. Rasanya? Hmmm.. ramai dan unik! Nuansa manis dan asin berpadu menjadi satu. Sedangkan bumbu-bumbu pengiring Kupang Lontong adalah bawang putih yang diiris tipis-tipis kemudian digoreng dan cabai rawit. Bawang goreng dan cabai itu digerus dengan sendok, langsung di atas piring yang akan digunakan untuk menyajikan Kupang Lontong.

Gerusan bumbu lalu diencerkan dengan sedikit kuah rebusan kupang, baru kemudian lontong mulai diiris-iris. Berikutnya, tambahkan lentho yakni penganan yang terbuat dari campuran singkong, kacang kedelai, kelapa parut, dan dibumbui dengan bawang putih, garam, serta gula. Sebagai sentuhan akhir, taburkan bawang goreng di sepiring Kupang Lontong yang sudah siap saji. Namun jangan lupa, Kupang Lontong paling nikmat jika disajikan selagi panas atau hangat. Satu lagi, tiada salahnya jika Anda juga menyertakan sate kerang sambil menyantap Kupang Lontong. Dijamin rasanya akan semakin maknyus!

Bagi Anda yang mengidap alergi makanan laut, jangan khawatir. Kupang Lontong punya pasangan sejati yang ampuh menangkal alergi, yaitu kelapa muda. Begitulah, jika makan Kupang Lontong, minumannya harus es kelapa muda. Selain menyegarkan dan pengusir haus, kelapa muda juga cukup mujarab untuk menetralkan racun atau gejala alergi. Lezatnya Kupang Lontong ternyata juga bergizi tinggi, ditambah dengan kelapa muda yang tidak kalah sehatnya. Nah, tunggu apa lagi?

Tempat Jualan Kupang Lontong

Kupang Lontong
Warung Kupang Lontong

Warung-warung yang menyediakan menu Kupang Lontong dapat dengan mudah Anda temukan di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Salah satu pusat kuliner Kupang Lontong di Pasuruan adalah di kawasan Pasar Kraton. Di kawasan ini terdapat banyak penjual Kupang Lontong hingga kemudian Kupang Lontong di sini terkenal dengan sebutan Kupang Kraton. Akses menuju Pasar Kraton, yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari pusat Kota Pasuruan, pun cukup mudah. Bila Anda berangkat dari arah Surabaya menuju Probolinggo, Jember, atau Lumajang, Anda akan melewati kawasan Pasar Kraton ini. Biasanya, warung-warung Kupang Lontong di Pasar Kraton Pasuruan buka dari pukul 07.00 pagi sampai dengan pukul 22.00 atau jam 10 malam.

Harga Kupang Lontong

Bandrol harga yang dipatok untuk bisa menikmati sepiring Kupang Lontong terbilang murah namun bervariasi pada tiap-tiap warung, yakni antara Rp5.000,- sampai dengan Rp7.500,- per porsinya. 

Rabu, 19 September 2007

Ledre

Ledre Bojonegoro
Ledre Bojonegoro

Ledre adalah makanan tradisional yang menjadi salah satu ikon kuliner Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Penganan ini berbentuk gulungan dan biasanya beraroma pisang raja meskipun sekarang produksi ledre sudah memiliki beragam varian rasa. Ledre sangat cocok sebagai teman minum teh, disajikan untuk tamu, juga sebagai oleh-oleh khas Bojonegoro.

Namanya sederhana dan terkesan “apa adanya”: ledre. Namun, jangan langsung meremehkan penganan tradisional ini. Coba dulu barang secuil, dijamin Anda akan ketagihan. Ledre adalah makanan khas Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Kabupaten ini memang berjuluk sebagai Kota Ledre. Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten yang tergabung dalam Blok Cepu bersama dua kabupaten lainnya, yakni Kabupaten Tuban (Jawa Timur) dan Kabupaten Blora (Jawa Tengah), yang terkenal sebagai kawasan penghasil minyak dan gas bumi di pesisir pantai utara Jawa. Oleh karena itu, selain di Bojonegoro, ledre pun sangat dikenal di Cepu (kecamatan di Kabupaten Blora).

Dilihat dari bentuknya, ledre mirip seperti kue semprong, jenis kue tradisional yang cara pembuatannya dilakukan dengan digulung-gulung, sama seperti ledre. Bedanya, gulungan ledre lebih tipis daripada gulungan kue semprong. Selain itu, ledre biasanya menggunakan pisang raja sebagai bahan dasar dan penguat aroma khasnya. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan zaman dan selera pasar, kini ledre tidak hanya memanfaatkan pisang raja semata, melainkan juga dibuat dengan jenis berbagai pisang lain, seperti pisang saba, pisang hijau, pisang susu, dan sebagainya. Perkembangan pun ledre merambah pada varian rasa dan aromanya, di mana sekarang tersedia ledre rasa coklat, susu, atau rasa lainnya.

Industri Pembuat Ledre Bojonegoro

Di Bojonegoro, ledre masih dikembangkan oleh industri rumah tangga di mana para pembuat ledre adalah penduduk setempat yang mengusahakan proses produksi ledre di rumah. Salah satu tempat yang menjadi sentra produksi ledre di Bojonegoro adalah di Kecamatan Padangan yang terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Bojonegoro. Di sini, terdapat 110 unit usaha yang memproduksi ledre. Tenaga kerja yang terlibat mencapai 220 orang dengan kapasitas produksi 9.900.000 ledre/tahun. Meskipun masih berlevel home industry, namun pemasaran ledre telah mampu merambah ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, bahkan hingga ke luar pulau Jawa.

Ledre memang sudah sangat lekat dengan Bojonegoro. Apabila berkunjung ke Bojonegoro namun tidak membawa ledre sebagai buah tangan, maka kunjungan itu dianggap belum sempurna. Pada waktu-waktu liburan sekolah atau liburan hari raya, di Bojonegoro semarak dengan hamparan ledre yang dijajakan di banyak lokasi. Di setiap toko makanan, warung-warung, hingga di stasiun kereta api dan terminal bis, tersedia ledre yang dijual sebagai oleh-oleh khas Bojonegoro.

Ledre Bojonegoro


Ledre memang istimewa. Keistimewaan utamanya adalah terletak pada cara pembuatannya sehingga tercipta bentuk ledre yang unik dengan rasa yang dijamin akan memanjakan lidah. Ledre adalah penganan kering yang terbuat dari campuran tepung terigu, gula pasir, mentega garam, vanili, parutan kelapa muda, dan tepung beras atau tepung ketan, dan biasanya ditambah pisang raja untuk aroma, namun bisa juga menggunakan varian aroma dari bahan-bahan selain pisang raja.

Meskipun bentuk ledre terkesan rumit, namun ternyata cara membuatnya cukup sederhana. Pertama-tama, rebus gula, garam, dan vanili dengan air hingga larut, kemudian masukkan parutan kelapa muda dan diaduk-aduk. Setelah itu, matikanlah api. Masukkan tepung ketan selagi masih panas sehingga membentuk adonan kental. Siapkan wajan anti lengket, olesi dengan mentega tipis-tipis. Selanjutnya, beri 2 sendok adonan, tekan-tekan dengan punggung sendok hingga tipis (dengan ketebalan 1/2 cm). Beri 1-2 sendok makan pisang raja yang telah dilumatkan. Ratakan dan taburi dengan gula pasir. Tutup wajan agar pisang matang. Apabila bagian bawah sudah berkerak dan agak gosong, lipatlah adonan ledre tersebut dan kemudian sisihkan. Lakukanlah hingga semua adonan habis dan ledrepun siap untuk disajikan.

Para pelaku usaha home industry yang memproduksi ledre di Kabupaten Bojonegoro sudah cukup profesional. Dari segi kemasan, misalnya, telah dibuat sesuai dengan higienis. Selain itu, produksi ledre sudah didaftarkan ke Departemen Kesehatan. Produksi ledre akan meningkat pada waktu-waktu liburan. Namun, saat musim tanam, produksi ledre biasanya menurun karena sebagian warga memprioritaskan pengerjaan sawah. Meskipun demikian, produksi ledre dijamin tetap lestari di Bojonegoro karena ledre sudah lekat sebagai ikon kuliner di kabupaten ini.

Lokasi Penjual Ledre

Di banyak tempat di Bojonegoro, Anda dapat menemukan ledre dengan mudah, dari warung-warung di pinggir jalan, pasar tradisional, hingga di terminal bis maupun stasiun kereta api. Ledre juga sudah dipasarkan di kota-kota besar di Indonesia sehingga mudah juga ditemukan di supermarket atau pasar swalayan. Jika Anda mempunyai cukup waktu, Anda juga bisa datang langsung ke sentra produksi ledre yang ada di Bojonegoro. Misalnya di Padangan, Kuniran, dan tempat-tempat lainnya di Bojonegoro.

Harga Sebungkus Ledre

Sebungkus ledre dibanderol dengan harga Rp 4.000,- rata-rata berisi 10 buah ledre. Supaya mudah dibawa dan aman, ledre dikemas dengan kardus. Satu kardus kecil berisi 2 bungkus, sedangkan kardus besar isinya 4 bungkus.

Rabu, 12 September 2007

Lezatnya Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah

    Lezatnya Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah
    Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah

    Jangan mengaku pernah menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.  
    Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.   
    Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya. 

    Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis. Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.

    Lezatnya Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah


    Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.

    Harga satu porsi Kaledo

    Harga kaledo berkisar antara Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00 perporsi. Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu - Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.

Selasa, 21 Agustus 2007

Harumnya Aroma Kopi Ulee Kareng Khas Aceh

    Warung Kopi Ulee Kareng Khas Aceh
    Warung Kopi Ulee Kareng Khas Aceh

    Di Nanggroe Aceh Darussalam, telah menjadi tradisi bagi kaum prianya untuk menikmati kopi di warung-warung. Jumlah warung kopi di Aceh, khususnya di Banda Aceh, sangat banyak, mungkin terbanyak di Indonesia. Warung kopi di Aceh tidak sama dengan warung kopi yang ada di Pulau Jawa, karena warung kopi di Aceh bentuknya seperti restoran. Dari sekian banyak warung kopi di Kota Banda Aceh, terdapat satu warung kopi yang sangat populer dan selalu dipenuhi pengunjung dari pagi hingga malam hari, yaitu warung kopi Ulee Kareng “Jasa Ayah”. Warung kopi ini dimiliki oleh seorang pria Aceh yang bernama Nawawi. Sebelumnya warung kopi ini telah ada sejak tahun 1958, namun bukan dengan nama “Jasa Ayah”, yang dikelola oleh orang tua Nawawi, yang bernama Haji Muhammad.
    Bagi kaum lelaki Aceh, warung kopi tidak hanya sebagai tempat untuk menikmati secangkir kopi dan beberapa makanan khas Aceh lainnya, namun ia berkembang dengan fungsinya yang lebih luas, seperti fungsi sosial, yaitu sebagai tempat memperkuat ikatan solidaritas antar kelompok atau antar sahabat; fungsi politik, dijadikan tempat diskusi isu-isu politik dan pemerintahan baik tingkat lokal, nasional maupun internasional; dan fungsi ekonomi, yaitu sebagai tempat pertemuan dan lobi-lobi bisnis.

    Warung kopi “Jasa Ayah” tidak hanya populer di Aceh, namun juga di Indonesia. Kepopulerannya semakin bertambah pasca tsunami di Aceh, karena banyak pekerja nasional dan internasional yang berdatangan ke aceh. Tidak hanya media massa nasional yang memuat berita tentang kekhasan aroma dan rasa kopi “Jasa Ayah”, namun juga media internasional.

    Warung Kopi Ulee Kareng Khas Aceh


    Keistimewaan aroma dan rasanya berasal dari pengolahan kopi arabika yang jitu. Kopi itu didatangkan dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Diolah dengan cara-cara khusus dan penuh kesabaran, dan keuletan, mulai dari penyangraian (penggonsengan) hingga penggilingan. Ketika kopi itu disangrai, apinya tidak boleh terlalu besar, karena dapat menyebabkan kegosongan. Setelah itu baru kopi digiling. Pada saat kopi itu akan disajikan, ia harus diseduh dengan air mendidih agar mengeluarkan aroma yang harum hingga beberapa meter dan barulah setelah itu disaring dan siap disajikan. Umumnya pengunjung yang menikmati kopi arabika “Jasa Ayah”, menikmatinya sambil menyantap hidangan khas Aceh lainnya, seperti kue sarikaya, kue timpan, kue bolu, martabak telor, nasi gurih (nasi uduk) ataupun mie Aceh.
    Meskipun usahanya terbilang sukses dengan keuntungan bersih satu harinya hingga mencapai lebih kurang Rp. 2.000.000,00, (dalam satu bulan menghabiskan 1,5 ton kopi) Nawawi tetap memikirkan kehidupan akhirat. Semenjak peristiwa tsunami melanda Aceh, ia mulai menerapkan peraturan baru bagi pengunjung di warungnya, bagi yang beragama Islam diwajibkan meninggal warung sebelum tiba waktu adzan dzuhur, ashar, dan maghrib. Dan bagi yang tidak beragama Islam, tidak masalah untuk tetap berada di warung. Baginya kehidupan duniawi dan akhirat mesti berjalan seiring.


    Harga Kopi Ulee Kareng

    Segelas kopi dihargai Rp. 1.500,00, (Maret 2007), namun apabila pengunjung ingin menambahi susu kental, harganya menjadi Rp. 3.000,00 (Maret 2007). Di warung ini juga dijual bubuk kopi dalam bentuk kemasan beberapa ukuran, seperti 250 gram dengan harga Rp. 10.000,00 (Maret 2007). Kalau yang kemasan 1 kg dijual sekitar Rp. 60.000,00.

    Harumnya Aroma Kopi Ulee Kareng Khas Aceh


    Warung Kopi “Jasa Ayah” berada di Jalan T. Iskandar no.13-14a, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Akses menuju ke lokasi ini sangat mudah, karena Kecamatan Ulee Kareng berada di Kota Banda Aceh. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti: taxi, becak mesin dan labi-labiLabi-labi yang melewati rute Warung Kopi Ulee Kareng adalah jurusan Ulee Kareng – Pasar Aceh. Oleh karena lokasinya di tengah Kota Banda Aceh, dengan demikian tidak sulit mencari penginapan kelas melati ataupun hotel berbintang.

Kamis, 16 Agustus 2007

Suwar-Suwir

Suwar-Suwir Oleh-oleh khas Jember
Suwar - Suwir Khas Jember

Nama penganan ini cukup unik di telinga: suwar-suwir. Meskipun demikian, jangan anggap remeh cemilan yang satu ini. Suwar-suwir justru menjadi salah satu ikon kuliner khas Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Selain dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Seribu Bukit, Jember juga dikenal sebagai Kota Suwar-suwir. Pembuatan suwar-suwir menggunakan bahan dasar tape, padahal tape merupakan produksi khas Kabupaten Bondowoso yang bersebelahan dengan Kabupaten Jember. Lantas, bagaimana ceritanya hingga kemudian Jember mempunyai makanan khas berbahan dasar tape yang bernama suwar-suwir?

Menurut catatan sejarah, Jember adalah sebuah kawasan yang masih relatif muda belia bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di sekitarnya, termasuk tetangga sebelah yakni Bondowoso. Pada masa pendudukan Belanda, tepatnya pada tahun 1798, jumlah penduduk di Bondowoso sudah tercatat lebih dari 8.000 juta jiwa. Jumlah ini melambung pada tahun 1920 di mana jumlah penduduk Bondowoso sudah mencapai angka 40.000 juta jiwa. Kenaikan jumlah penduduk Bondowoso yang terbilang signifikan ini terjadi karena adanya gelombang migrasi dari Madura. Hal yang sama juga dialami oleh beberapa tetangga Jember yang lain, semisal Besuki dan Panarukan.

Sementara itu, Jember masih berkutat dengan predikat kota sepi karena perkembangan laju jumlah penduduknya memang belum mengalami perkembangan yang berarti. Penduduk yang mendiami wilayah ini terhitung masih sangat sedikit. Sampai dengan tahun 1858 saja, penduduk yang bermukim di Jember tercatat hanya sebanyak 21.215 jiwa, dengan luas wilayah Jember yang diperkirakan seluas 3.234 kilometer persegi.

Nah, kemunculan makanan yang kemudian dikenal dengan nama suwar-suwir diperkirakan berawal dari hasil akulturasi budaya, termasuk bahan pangan, orang-orang Jember yang berkunjung ke daerah-daerah di sekitar Jember, termasuk Bondowoso yang memang sudah terkenal sebagai kawasan penghasil ketela yang merupakan bahan dasar untuk membuat tape. Tape inilah yang menjadi bahan utama pembuatan suwar-suwir yang kemudian menjadi makanan khas Jember hingga sekarang. Boleh dibilang, suwar suwir adalah salah satu dari beberapa produk akulturasi yang memiliki bentuk dan makna tersendiri karena telah melewati proses kreativitas.

Sebelum suwar-suwir berhasil diciptakan dan diproduksi, orang-orang Jember terlebih dulu berdagang singkong yang didatangkan misalnya dari Bondowoso. Industri kecil-kecilan itu kemudian berlanjut pada pengolahan ketela pohon menjadi makanan lain, seperti tape singkong. Suwar-suwir sendiri konon tercipta berkat proyek coba-coba untuk memanfaatkan sisa-sisa singkong yang ternyata cukup banyak meskipun sudah diolah menjadi tape. Pada zaman dulu, suwar-suwir juga dikenal dengan sebutan kue siwir-siwir, namun ada juga yang menyebutnya dengan nama Nangka Belanda. Sekadar catatan, Nangka Belanda adalah sebutan lokal untuk menamakan buah sirsak.

Di masa kolonial Hindia Belanda, suwar-suwir memang identik sebagai penganan bercita rasa sirsak dan menjadi kegemaran orang-orang Belanda yang ada di Jember. Mulanya, makanan ringan ini bertekstur lunak, dan untuk memakannya harus disobek kecil-kecil atau disuwir-suwir, dan kuat dugaan, dari cara inilah kemudian muncul penamaan suwar-suwir. Daging buah sirsak menjadi biang utama mengapa makanan ini lantas dijuluki sebagai suwar-suwir. Adonan olahan ketela pohon yang dicampur dengan buah sirsak jika memadat akan terlihat tekstur daging sirsaknya sehingga harus disuwir-suwir atau dicuil-cuil terlebih dulu untuk memakannya. Pada perkembangan selanjutnya, suwar-suwir mengalami modifikasi bentuk dan bertesktur lebih padat.

Sepintas ringkas, wujud suwar-suwir hampir serupa dengan dodol. Bedanya, suwar-suwir memakai tape dari ketela pohon sebagai bahan utamanya dan berwujud lebih padat ketimbang dodol yang lunak dan kenyal. Kendati terbuat dari tape, namun kesan aroma tape yang menyengat nyaris tidak terasa. Selain menggunakan tape singkong, bahan-bahan pendukung lainnya dalam pembuatan suwar-suwir antara lain buah sirsak, telur ayam dan gula. Citarasa manis suwar-suwir sederhana tetapi tetap mengena. Selain itu, masih ada paduan rasa lainnya yang meramaikan rasa unik suwar-suwir. Harmonisasi rasa manis, legit, asam, dan lembut, berpadu dalam satu kemasan suwar-suwir.

Seiring dengan perkembangan zaman yang selaras dengan permintaan pasar, suwar-suwir tidak hanya melulu menyajikan rasa sirsak. Sekarang, kita dapat menemukan suwar-suwir dengan rasa yang lebih variatif, sebut saja rasa nangka, nanas, strowberry, durian, kelapa muda, kacang hijau, bahkan keju, susu, coklat, dan berbagai macam pilihan rasa lainnya.

Meskipun tidak hanya memakai daging buah sirsak lagi, tapi suwar-suwir hasil modifikasi tetap bisa disuwir-suwir. Rasanya pun tidak kalah nikmat dengan suwar-suwir yang versi orisinil, tetap manis dan legit di lidah. Salah satu keistimewaan suwar-suwir adalah cara pembuatannya yang masih manual, belum menggunakan mesin yang justru dimungkinkan bisa merusak citarasa aslinya. Namun, meskipun belum mengenal teknologi mesin modern dan tidak bersentuhan dengan bahan pengawut, suwar-suwir tetap istimewa karena bisa bertahan hingga 9 (sembilan) bulan lamanya.

Tempat Jualan Suwar-Suwir

Suwar-suwir sudah menjadi ikon kuliner Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah sulit bagi Anda untuk menemukan makanan tradisional ini di Jember. Suwar-suwir mudah sekali ditemukan di toko-toko yang banyak terdapat di seantero Kota Jember, terlebih lagi di sentra penjualan oleh-oleh khas Jember. Selain itu, Anda juga dapat membeli jajanan khas ini di pasar tradisional maupun di supermarket yang ada di Jember dan sekitarnya. Harap dicatat, sekarang ini suwar-suwir telah dijual dalam berbagai macam kemasan dan beragam pilihan merk dagang.

Harga Suwar-Suwir

Harga suwar-suwir mengalami situasi yang tidak menentu tergantung peningkatan atau penurunan harga bahan baku dan bahan pendukungnya. Namun, jika diambil angka rata-rata, harga perkilogram suwar-suwir adalah antara Rp15.000 – Rp20.000.

Selasa, 10 Juli 2007

Papeda Ternate Menggoyang Lidah

    Papeda Ternate
    Papeda Ternate

    Pohon sagu (metroxhylon rumpii)  merupakan tanaman yang sangat penting bagi masyarakat Maluku Utara. Ketika  pohon ini telah berusia sepuluh tahun, bagian dalamnya mampu menghasilkan serat  berupa tepung seberat 80-100 kilogram. Serat tepung inilah yang kemudian menjadi bahan utama pembuatan papeda, atau  yang biasa disebut bubur sagu.  
    Bagi masyarakat Ternatepapeda merupakan makanan pokok layaknya nasi ataupun jagung. Papeda dimakan bersama kuah kuning yang  terbuat dari kunyit dan dicampur dengan ikan tongkol. Makanan ini juga  disajikan bersama dengan jeruk nipis, beberapa potong kelapa, dan sagu sebagai lauknya.
    Proses pembuatan papeda diawali dengan  memotong bagian pangkal pohon sagu. Kemudian, bonggolnya diperas hingga sari  patinya keluar. Dari sari pati ini diperoleh tepung sagu murni yang siap  diolah.
    Proses Pembuatan Papeda Kuah Kuning

    Sistem memasak papeda adalah dengan merebus tepung sagu tersebut hingga mengental dan matang menjadi papeda. Dalam keadaan panas, papeda dituangkan ke piring yang sebelumnya  telah dibasahi dengan kuah ikan. Tujuannya agar papeda tersebut tidak melekat di piring, yang digunakan sehingga  tidak sulit untuk mencucinya.
    Papeda ialah makanan yang dihidangkan hanya saat panas saja karena  ketika dingin makanan ini akan menjadi lengket ke piring. Selain itu, ketika  dingin makanan ini dianggap telah basi dan tidak layak dimakan, sehingga fungsinya  terkadang dialihkan sebagai alat perekat kertas. Karena berbentuk bubur sagu yang kental, cara memakan papeda tidak menggunakan sendok ataupun  tangan, melainkan langsung diseruput dari piring.

    Harga Papeda Ternate per Porsi

    Harga papeda di  warung-warung tradisional relatif murah. Seporsi papeda bisa diperoleh dengan harga Rp1.000- Rp 1.500. Di sepanjang kota Ternate, banyak didapati warung yang  menjual makanan tradisional seperti papeda. Warung yang menjual makanan papeda terletak di pusat kota, sehingga wisatawan dapat naik angkutan kota dari  Bandara Sultan Baabullah dengan biaya Rp 3.000/orang . Wisatawan  juga dapat menggunakan jasa taksi yang telah beroperasi sejak akhir tahun 2005  .
    Selain menikmati makanan khas papeda, di Ternate, wisatawan dapat menjumpai warung-warung yang berjualan cinderamata  dan makanan khas Maluku Utara seperti ketam kenarihalua kenaribageaserta ikan hasil olahan, seperti ikan  fufu (ikan asap) dan gohu ikan