Selasa, 25 Desember 2007

Pensi, Cemilan Khas Kabupaten Agam Sumatra Barat

    Pensi, Cemilan Khas Kabupaten Agam Sumatra Barat
    Cemilan Pensi

    Cemilan pensi merupakan penganan yang diolah dari kerang air tawar Danau Maninjau. Kerang ini ukuran tubuhnya kecil, warna kulitnya hitam dan hitam kekuning-kuningan. Pensi biasanya ditangkap oleh nelayan dari dasar danau dengan menggunakan tangguak (tangguk) dari atas sampan tradisional. Penangkapan ini dilakukan setelah subuh hingga mentari muncul (06.00 WIB), agar hasil tangkapan dapat dijual secepatnya. Diperkirakan ada sekitar 1 ton pensi mentah per hari yang berhasil ditangkap oleh para nelayan dari dasar danau. Sebagian besar hasil tangkapan itu dijual ke pasar setempat dan sebagian lagi dijual ke luar daerah, seperti Kota Bukittinggi, Kota Padang Pariaman, Kota Padang, dan kota-kota lain di Sumatra Barat.  
    Selain langsung dijual ke pasar, pensi juga diolah menjadi aneka penganan, seperti cemilan dan aneka lauk-pauk. Untuk pensi yang dijadikan cemilan, proses memasaknya dibiarkan utuh dan dikontrol terus-menerus sembari diaduk agar kulitnya tidak terbuka. Kalau kulitnya sudah terbuka, pensi tersebut tidak bagus lagi untuk dihidangkan sebagai cemilan.
    Tak hanya dibuat sebagai cemilan, pensi juga diolah untuk dijadikan lauk-pauk yang biasanya disebut dengan urai pensi. Pensi yang dijadikan lauk-pauk biasanya yang dimasak hanya dagingnya saja. Proses pemisahan daging dan kulitnya tidak rumit, cukup dengan direbus hingga mendidih. Otomatis kulitnya akan terbuka, sehingga daging pensi dapat diambil dengan mudah. Setelah selesai proses pemisahan tersebut, maka pensi siap diolah untuk dimasak sesuaidengan kebutuhan dan keinginanmisalnya dimasak menjadi gulai atau digoreng.
    Biasanya, masyarakat lebih banyak mengolah pensi sebagai cemilan karena lebih efisien dalam pengolahannya dan memiliki nilai jual. Pensi yang diolah untuk cemilan memasaknya lebih mudah, penyajiannya pun lebih cepat, serta praktis. Penganan ini lebih mudah dijumpai di sekitar Danau Maninjau, seperti di warung-warung, kedai, dan lapak yang ada di pinggir-pinggir danau.

      Cemilan pensi juga merupakan salah satu ikon dari objek wisata  Danau Maninjau. Setiap kali orang berkunjung ke danau ini selalu teringat dengan masakan yang satu ini. Bahkan, sebagian orang rela datang dari luar daerah sekedar mencari makanan ini sembari menikmati indahnya panorama danau.
      Keistimewaan cemilan pensi terletak pada rasanya yang nikmat walau proses pengolahannya cukup sederhana. Pensi diolah dengan cara direndam terlebih dahulu di dalam air guna menghilangkan kotoran yang masih menempel karena proses penangkapan. Lalu pensi dimasak dalam air dengan pengawasan dan diaduk. Setelah matang, pensi dipisahkan dari air lalu dicampur dengan beberapa kombinasi bumbu yang terdiri dari bawang perei, bawang merah yang telah digoreng, seledri, serta lengkuas. Untuk menambah rasanya, pensi tersebut dibubuhi dengan garam secukupnya hingga didapatkan rasa yang pas. Setelah selesai, pensi siap dihidangkan untuk keluarga atau untuk dijual.  
      Selain rasanya yang enak, pensi juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari perguruan tinggi daerah setempat. Temuan tersebut mengatakan bahwa pada daging kecil pensi terdapat gizi yang dibutuhkan untuk meningkatkan stamina tubuh dan kecerdasan otak. 


      Harga Cemilan Pensi

      Para pedagang pensi biasanya menjual makanan menggunakan takaran berupa gelas. Untuk takaran 1 gelas, para pedagang biasanya mematok harga antara Rp 1.000—2.000. Cemilan pensi juga merupakan salah satu ikon dari objek wisata  Danau Maninjau. Setiap kali orang berkunjung ke danau ini selalu teringat dengan masakan yang satu ini. Bahkan, sebagian orang rela datang dari luar daerah sekedar mencari makanan ini sembari menikmati indahnya panorama danau. 

      Keistimewaan cemilan pensi terletak pada rasanya yang nikmat walau proses pengolahannya cukup sederhana. Pensi diolah dengan cara direndam terlebih dahulu di dalam air guna menghilangkan kotoran yang masih menempel karena proses penangkapan. Lalu pensi dimasak dalam air dengan pengawasan dan diaduk. Setelah matang, pensi dipisahkan dari air lalu dicampur dengan beberapa kombinasi bumbu yang terdiri dari bawang perei, bawang merah yang telah digoreng, seledri, serta lengkuas. Untuk menambah rasanya, pensi tersebut dibubuhi dengan garam secukupnya hingga didapatkan rasa yang pas. Setelah selesai, pensi siap dihidangkan untuk keluarga atau untuk dijual.   Selain rasanya yang enak, pensi juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari perguruan tinggi daerah setempat. Temuan tersebut mengatakan bahwa pada daging kecil pensi terdapat gizi yang dibutuhkan untuk meningkatkan stamina tubuh dan kecerdasan otak. 
      Makanan ini dapat dijumpai di sekitar Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya), Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra BaratIndonesia.

Kamis, 20 Desember 2007

Nasi Grombyang

Nasi Grombyang Pemalang
Nasi Grombyang

Kuliner khas Kabupaten Pemalang ini terdengar eksentrik di telinga, nasi grombyang namanya. Asal-muasal penamaan ini sebenarnya mengacu pada cara penyajian makanan ini, yaitu porsi kuah yang lebih banyak dibandingkan dengan nasi dan isinya sehingga ketika disajikan di mangkuk terlihat grombyang-grombyang alias bergoyang-goyang seperti akan tumpah. Makanan kaya kuah ini cukup populer di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kawasan yang salah satu sisinya berbatasan langsung dengan pesisir utara Jawa atau berada di jajaran rute utama Jakarta-Surabaya alias jalur Pantura.

Jika dilihat sekilas, nasi grombyang hampir mirip dengan soto, akan tetapi kuahnya yang cokelat pekat justru mengingatkan kita akan kuah rawon, makanan khas dari Jawa Timur itu.   Namun, bukan soto apalagi rawon, nasi grombyang sebenarnya adalah sejenis nasi campur yang mengandalkan daging kerbau dan kuah sebagai elemen utamanya. Irisan daging kerbau dan kuah ini kemudian dijadikan satu di sebuah mangkok kecil sebelum disajikan. Ketika dibawa dengan nampan, kuah yang melimpah seolah-olah akan meluap dari bibir mangkok. Dari kuah yang bergoyang-goyang sehingga hampir tumpah inilah yang kemudian dilafalkan dalam bahasa lokal dengan istilah grombyang.

Sejarah nasi grombyang yang kemudian menjadi salah satu ikon kuliner Pemalang sebenarnya masih belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, menurut warga setempat, nasi grombyang sudah dikenal sejak era 1960-an. Awalnya, para penjual nasi grombyang menjajakan dagangannya dengan berkeliling, keluar masuk kampung. Seiring dengan semakin banyaknya orang yang ketagihan akan nikmatnya makanan ini, maka muncullah beberapa warung nasi grombyang. Akhirnya, nasi grombyang pun kian disuka dan perlahan tapi pasti mulai memantapkan diri sebagai salah satu makanan tradisional khas dari Kabupaten Pemalang.

Hal yang paling membuat orang jatuh cinta pada nasi grombyang tentu saja daging kerbaunya. Daging mamalia yang satu ini memang sudah cukup jarang ditemui sehingga nasi grombyang menjadi salah satu pilihan utama untuk merasakan lezatnya daging kerbau terkenal sangat gurih. Istimewanya lagi, selain irisan daging kerbau yang disajikan di dalam mangkok beserta kuahnya, masih ada daging kerbau tersendiri yang khusus disediakan sebagai pelengkap makan nasi grombyang, yaitu sate kerbau. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana lidah kita dimanjakan oleh lembut dan mantapnya daging kerbau yang diracik bersama kuah dengan ramuan bumbu khusus. Apalagi jika disantap bersama sambal cabai rawit dan taburan bawang goreng, nasi grombyang dijamin bakal membuat lidah Anda bergoyang.

Bukan hal yang melulu negatif apabila kawasan Pantura terlanjur identik dengan warung remang-remang, karena seperti itu pula suasana yang terhampar di sejumlah warung nasi grombyang. Ya, warung-warung makan sederhana itu memang punya ciri khas yang menarik. Selain penerangan di dalam warung yang samar-samar karena hanya diterangi oleh lentera atau lampu teplok, yang paling khas dari warung nasi grombyang adalah wadah kuah yang berupa kuwali (semacam gentong dari tembikar) berukuran besar dan tempat nasi yang ditutupi dengan kain berwarna merah. Setelah hidangan diantarkan, para pembeli biasanya menyantap nasi grombyang sembari duduk di dingklik alias kursi kecil dengan kaki-kaki penyangga yang pendek. Nikmati orisinalitas rasa dan suasananya.

Lokasi Penjualan Nasi Grombyang

Warung-warung yang menyediakan menu nasi grombyang terbilang sangat mudah ditemukan di Pemalang, terutama di sepanjang Jalan RE Martadinata dan di lingkungan alun-alun Kota Pemalang. Akses menuju lokasi ini pun cukup gampang dijangkau karena terletak di pusat Kota Pemalang. Jika Anda melintas Pemalang dari jalur Pantura, Anda akan menjumpai sebuah perempatan lampu merah di daerah yang bernama Pagaran. Dari perempatan Pagaran itu Anda tinggal belok ke kanan hingga sampai ke sebuah perlintasan kereta api. Setelah melewati rel tersebut, maka Anda akan tiba di Pasar Anyar. Nah, lokasi Jalan RE Martadinata ada di sebelah selatan pasar tersebut.

Nasi Grombyang Pemalang
Warung Nasi Grombyang Pak H Warso


Di antara penjual nasi grombyang di sepanjang Jalan RE Martadinata, Pemalang, terdapat beberapa warung makan yang paling terkenal. Salah satunya adalah warung nasi grombyang Pak H. Warso. Orang Pemalang sangat menggemari nasi grombyang Pak H. Warso ini. Bahkan, tidak sedikit orang dari luar kota yang sedang berkunjung ke Pemalang, atau hanya sekadar lewat, selalu menyempatkan diri mampir ke warung ini. Selain nasi grombyangnya yang terkenal enak, warung Pak H. Warso juga terjaga kebersihannya sehingga semakin membuat nyaman para pelanggannya. Sebenarnya masih ada beberapa warung makan nasi grombyang di Pemalang yang juga tak kalah laris, antara lain warung nasi grombyang milik Pak H. Waridin yang berlokasi di Sirandu (bekas terminal lama Pemalang) atau nasi grombyang Pak Syukur yang biasa membuka warungnya di depan Pasar Petarukan.

Harga Nasi Grombyang PerPorsi

Untuk menikmati satu porsi nasi grombyang, Anda hanya perlu merogoh kocek antara 8000 sampai 10.000 rupiah (per April 2011). Sedangkan 1 tusuk sate kerbau cuma dihargai Rp. 1000 saja. Murah meriah, bukan? Nah, tunggu apa lagi! Jika Anda ke Pemalang, jangan lupa cicipi nasi grombyang.

Buntil Purbalingga

Buntil Purbalingga
Buntil Purbalingga

Purbalingga selain terkenal dengan keindahan panorama alamnya, kabupaten ini juga punya kekayaan kuliner yang khas dan tentunya menggiurkan. Salah satu kuliner asli Purbalingga adalah buntil. Dilihat dari namanya, buntil terkesan seperti penganan ndeso, tapi jangan salah, justru makanan inilah yang menjadi salah satu ikon kuliner Kabupaten Purbalingga karena keunikan bentuk dan citarasanya khas bin unik. Buntil adalah menu makanan sehat, namun tetap nikmat, yang dibuat dari kukusan daun keladi, daun pepaya, atau daun singkong. Kukusan daun yang kaya gizi itu kemudian diisi dengan parutan kelapa yang dicampur ikan teri. Jangan skeptis dulu saat melihat tampilan buntil. Cicipi terlebih dulu, barulah Anda boleh berkomentar. Konon, buntil menjadi makanan favorit orang-orang Belanda yang menetap di Purbalingga dan sekitarnya pada masa penjajahan Belanda dulu.

Ada yang bilang, buntil nyaris mirip dengan bothok, makanan tradisional yang cukup dikenal luas di seantero Jawa Tengah. Bedanya, bothok dibungkus dengan daun pisang, sementara buntil dibalut dengan bungkusan dari daun singkong muda (bisa juga memakai daun keladi atau daun pepaya) dan ditambahkan sedikit kuah bercitarasa pedas yang dibuat dari santan beserta seperangkat bumbunya. Karena bothok dibungkus dengan daun pisang, maka bungkusnya tidak bisa dimakan. Berbeda dengan buntil yang bisa dilahap sekaligus dengan bungkusnya karena terbuat dari daun singkong muda yang selain terkenal nikmat, juga sangat menyehatkan.

Buntil yang terbungkus daun singkong muda serta diisi dengan campuran parutan kelapa dan ikan teri diramu dengan berbagai bahan pendukung lainnya sebagai bumbunya, yaitu bawang, cabai, lengkuas, asam, garam, dan lain sebagainya. Cara penyajiannya, buntil disiram dengan kuah pedas dan sertakan pula beberapa cabai rawit yang dibiarkan utuh. Setelah itu baru disantap, bisa sebagai lauk nasi atau dimakan begitu saja, dan segera rasakan nikmatnya. Sengatan pedas yang berpadu dengan citarasa gurih dan sedikit asin, ditambah dengan nuansa alami dari daun singkong sebagai pembungkusnya, dijamin membuat Anda tidak lagi meremehkan kudapan tradisional yang kerap diklaim sebagai makanan ndeso ini.

Di berbagai tempat di Purbalingga, banyak penduduk lokal yang mulai melirik potensi buntil untuk diproduksi secara home industry, meskipun telah cukup banyak pula orang Purbalingga yang berbisnis makanan ini. Namun, ada satu jenis buntil yang oleh banyak orang dianggap paling istimewa, yaitu di Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Buntil buatan Kasmini yang menggeluti usaha ini sejak 44 tahun silam ini terkenal dengan nama Buntil Carangmanggang atau Buntil Kutasari. Carangmanggang adalah dusun tempat tinggal Kasmini, sedangkan Kutasari merupakan nama pasar tradisional di mana Kasmini menjajakan buntil buatannya.

Buntil Carangmanggang memang sedikit berbeda dengan buntil pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada racikan bumbu yang membuat buntil ini menjadi lain daripada yang lain. Kasmini mengisi buntilnya dengan parutan kelapa muda yang dipadukan dengan berbagai macam bumbu khusus. Istimewanya lagi, daun pembungkus Buntil Carangmanggang berbeda-beda jenisnya. Pembeli bisa memilih langsung, apakah mau dibungkus dengan daun singkong, daun talas, atau daun pepaya yang disukai karena bercitarasa sedikit pahit namun nikmat. Buntil Kasmini ditanggung semakin lezat setelah disiram santan. Tidak main-main, langganan tetap Kasmini adalah Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang sering memesan buntil untuk menjamu pejabat atau tamu yang datang dari luar kota. Anda juga harus bergerak cepat jika ingin mencicipi Buntil Carangmanggang karena setiap hari banyak orang yang rela mengantri di warung buntil Kasmini di Pasar Kuntisari.

Sebenarnya Anda bisa pula membeli buntil di pasar-pasar tradisional lainnya yang tersebar di Purbalingga, meskipun buntil yang paling terkenal adalah Buntil Carangmanggang yang dijajakan hanya di Pasar Kuntisari. Soal rasa sesungguhnya relatif dan bisa diperbandingkan sendiri karena selera orang berbeda-beda. Jika Anda benar-benar penasaran dengan makanan tradisional yang satu ini, sebaiknya Anda berangkat ke pasar di waktu pagi, karena jika tidak, selain bisa kehabisan, mungkin juga pasarnya keburu sepi. Pasar tradisional di Purbalingga biasanya memang ramai sejak dini hari, namun beringsut menjadi sepi seiring dengan naiknya matahari.


Harga Buntil Purbalingga

Biasanya, buntil di Purbalingga dijual secara satuan. Satu buntil rata-rata dibanderol dengan harga antara 2500-4000 rupiah (per Juli 2011). Namun, jika Anda menginginkan membeli buntil dengan jumlah yang cukup banyak, buntil bisa juga dikemas dengan baik sehingga dapat dibawa pulang untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Purbalingga.