Selasa, 27 November 2007

Mencicipi Kelezatan Rabeg Makanan Khas Kabupaten Serang

    Mencicipi Kelezatan Rabeg Makanan Khas Kabupaten Serang

    Berkunjung ke Banten menjadi kurang berkesan tanpa mencicipi kelezatan masakan yang disebut rabeg. Rabeg adalah menu masakan berkuah yang terbuat dari daging kambing dan jeroannya. Proses pembuatan masakan ini dimulai dari mengiris daging dan jeroan kambing dalam bentuk kecil-kecil. Selanjutnya hasil irisan daging dan jeroan tersebut dicampur menjadi satu dan dituangi air yang telah diberi bumbu sebagai kuahnya. Setelah itu dimasak sampai daging berubah warna agak kecoklatan dan bumbu dianggap sudah meresap. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.
    Sampai sekarang, belum ada yang mengetahui siapa yang pertama kali memperkenalkan masakan ini. Oleh masyarakat Serang, dahulu masakan ini dianggap sakral, karena merupakan simbol penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga masakan ini hanya dapat dijumpai pada perayaan maulud Nabi Muhammad SAW.
    Namun, seiring dengan berjalannya waktu, nilai kesakralan masakan ini semakin pudar. Ia tidak hanya dijumpai pada peringatan maulud Nabi Muhammad SAW saja, tetapi juga dapat dijumpai pada berbagai hajatan, seperti aqiqah, tasyakuran, pesta perkawinan, dan lain-lain. Bahkan, masakan ini sekarang dijual bebas, dan mudah dijumpai di rumah makan dan restoran yang ada di sekitar Kota Serang. 

    Keistimewaan masakan rabeg terletak pada kuahnya yang terbuat dari air murni yang diberi bumbu dan rempah-rempah, seperti jahe, lada, dan cabe merah, yang berfungsi sebagai penghangat tubuh. Kuahnya berwarna coklat, akibat dari bercampurnya berbagai macam bumbu. Kuah tersebut dianggap dapat mengurangi kandungan lemak. Keistimewaan lainnya, rabeg juga dilengkapi dengan aneka lalapan seperti timun, wortel, dan kobis. Aneka lalapan ini merupakan hidangan yang dipercaya sebagai penurun tekanan darah akibat mengkonsumsi rabeg secara berlebihan. Sehingga para pengunjung tidak perlu khawatir dengan naiknya tekanan darah setelah menikmatinya.

    Harga Satu Porsi Rabeg

    Satu porsi rabeg dijual dengan harga Rp. 8.000 (Juli 2007) yang terdiri dari rabeg, nasi samin, empeng melinjo, aneka lalapan seperti timun, wortel, dan kobis yang telah diiris kecil-kecil, dan segelas teh manis. 

    Wisatawan yang ingin menikmati rabeg, dapat berkunjung ke Kota Serang, Propinsi Banten. Di kota ini banyak terdapat warung makan yang menyajikan masakan khas rabeg, seperti warung-warung di Kampung Magersari yang terletak di depan Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Serang. Selain itu, masakan ini juga bisa ditemukan di Jalan Banten Raya No. 40, Desa Lopang Cilik, Kabupaten Serang.

Jumat, 09 November 2007

Dodol Garut

Dodol Garut

Jika Anda penggemar dodol, jangan lewatkan untuk mencicipi legitnya dodol yang satu ini. Dodol Garut namanya. Garut adalah sebuah kabupaten yang terletak di ujung selatan Jawa Barat, memang terkenal sebagai kota penghasil dodol. Dodol Garut ini sudah sangat populer karena citarasanya yang khas di samping kelenturannya yang berbeda dari produk sejenis dari daerah lain. Oleh karena kepopulerannya, komoditas ini mampu mengangkat citra kabupaten yang berjuluk Kota Intan ini sebagai kota penghasil dodol yang berkualitas tinggi. Itulah sebabnya, Kota Garut dikenal juga sebagai Kota Dodol.

Bahan Dodol Garut

Seperti halnya dodol jenis lainnya, bahan baku utama Dodol Garut terbuat dari tepung ketan atau tepung beras, santan kelapa, gula merah atau gula pasir, dan garam. Bedanya, dodol khas Garut ini dikembangkan dengan memodifikasi bahan baku utamanya dan memanfaatkan bahan lain seperti cokelat dan buah-buahan sehingga melahirkan varian rasa yang beraneka ragam. Jenis buah-buahan yang sering digunakan sebagai bahan modifikasi antara lain buah waluh (labu merah), kentang, kacang, pepaya, nenas, durian, sirsak, tomat, wijen, dan beragam buah lainnya.

Tidak diketahui secara pasti siapa pertama kali membuat jenis dodol ini karena ia merupakan makanan tradisional yang diolah dalam industri rumahan. Namun yang jelas, Dodol Garut sudah dikenal sejak zaman Belanda. Ketika itu, banyak noni-noni Belanda yang pandai membuat dodol, baik untuk dikonsumi sendiri maupun untuk dijual. Sekitar tahun 1926, industri rumah tangga ini mulai dikembangkan oleh pengusaha bernama Karsinah. Walaupun kemasannya masih sangat sederhana, komoditi ini terus berkembang karena citarasanya yang khas dan harganya pun terjangkau bagi semua kalangan. Sampai sekarang, Dodol Garut telah diproduksi secara modern sehingga komoditi ini tidak hanya menjangkau pasaran dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar global. Dodol ini pun menjadi salah satu komoditi ekspor ke mancanegara seperti Brunei, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Singapura, dan Inggris.

Dodol Garut telah dikemas dengan sentuhan khas dan inovasi sehingga selalu menjadi sajian istimewa bagi Anda penggemar dodol. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu memiliki varian citarasa, harga terjangkau, camilan yang banyak digemari oleh masyarakat, tidak menggunakan bahan pengawet dan bahan makanan yang bersifat sintetis (tiruan), serta memiliki daya tahan yang cukup lama yakni sekitar 3 bulan.

Variasi Warna Dodol Garut


Selain variasi rasa, Dodol Garut juga memiliki varian warna. Secara umum, ada 2 jenis warna dodol yang beredar di pasaran, yaitu dodol berwarna coklat tua dan coklat muda atau campuran keduanya. Belakangan, muncul pula “dodol zebra” yakni dodol yang bercorak dan berpola seperti kulit zebra, namun tidak semata-mata hitam dan putih, tetapi juga warna lain seperti coklat-putih, hijau-putih, dan merah-putih. Rasa “dodol zebra” ini tidak kalah lezatnya dengan Dodol Garut yang original. Dodol zebra ini menggunakan penyedap berupa telur atau lemak sapi.

Cara Membuat Dodol Garut

Untuk mendapatkan citarasa Dodol Garut yang lezat dan berkualitas tinggi, semua bahan dicampur dan dimasak dalam kuali besar dengan api sedang. Dalam proses pemasakan, campuran dodol harus diaduk terus-menerus agar tidak hangus dan tidak membentuk kerak pada bagian bawahnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus dimasak selama kurang lebih 4 jam hingga warnanya menjadi coklat tua atau pekat dan mengkilap. Setelah matang, dodol harus didinginkan dalam periuk yang besar, kemudian dipotong-potong dan dikemas sesuai ukuran yang diinginkan.

Lokasi Penjualan Dodol Garut

Dodol Garut adalah makanan khas dari Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di sepanjang jalan di pusat Kota Garut, banyak terdapat sentra oleh-oleh atau toko-toko yang menyediakan Dodol Garut dengan berbagai pilihan rasa serta beragam ukuran kemasan yang sesuai dengan isi kantong Anda. Salah satu pusat oleh-oleh yang ramai dikunjungi adalah di Pasar Ceplak yang suasananya masih ramai hingga malam. Pasar yang terletak di ruas Jalan Siliwangi ini mulai buka sekitar pukul 16.00 WIB. Pasar ini tidak hanya menjajakan Dodol Garut, tetapi berbagai makanan khas Garut lainnya. Selain itu, di Jalan Pasundan No. 102 juga terdapat sebuah sentra pembuatan Dodol Garut yang berkualitas tinggi karena diproduksi secara modern oleh sebuah perusahaan ternama di Kota Garut. Untuk menjangkau tempat-tempat tersebut, di Kota Garut tersedia beragam sarana transportasi seperti delman kuda, ojek sepeda motor, angkutan kota, minibus maupun bis besar, rental mobil, dan taxi.

Harga Dodol Garut

Harga Dodol Garut cukup bervariasi, disesuaikan dengan jenis dan kualitasnya. Dodol Garut jenis original dijual dengan kisaran antara 15.000 hingga 17.500 rupiah/500 gram. Sementara harga “dodol zebra” biasanya lebih tinggi dari dodol jenis original karena kualitasnya lebih bagus.Harga Dodol Garut cukup bervariasi, disesuaikan dengan jenis dan kualitasnya. Dodol Garut jenis original dijual dengan kisaran antara 15.000 hingga 17.500 rupiah/500 gram. Sementara harga “dodol zebra” biasanya lebih tinggi dari dodol jenis original karena kualitasnya lebih bagus.