Kamis, 20 September 2007

Kupang Lontong

Kupang Lontong
Kupang Lontong 

Masakan seafood berbahan utama kupang memang masih jarang dan hanya bisa ditemukan di daerah-daerah tertentu. Di Pasuruan, daging kupang yang lunak diolah untuk dijadikan salah satu jenis kuliner kabupaten yang berbatasan langsung dengan Selat Madura ini, yakni Kupang Lontong. Sesuai dengan namanya, Kupang Lontong adalah menu yang memadukan kupang dan lontong: kupang sebagai lauknya, sedangkan lontong –yang biasanya menjadi teman karib sate– diposisikan sebagai pengganti nasi.

Kupang dan lontong saja belum lengkap untuk mendapatkan rasa yang sempurna. Kupang Lontong wajib disajikan bersama kuah beserta bumbu-bumbu pelengkapnya, termasuk petis. Petis ala Jawa Timur dibuat dari pindang, kupang, atau udang yang dipanasi sampai kuahnya mengental seperti saus atau salad. Petis berwarna hitam atau kecoklat-coklatan dan manis rasanya karena memakai bahan karamel ataupun gula.

Kuah yang digunakan untuk menyiram Kupang Lontong adalah kuah hasil rebusan kupang. Rasanya? Hmmm.. ramai dan unik! Nuansa manis dan asin berpadu menjadi satu. Sedangkan bumbu-bumbu pengiring Kupang Lontong adalah bawang putih yang diiris tipis-tipis kemudian digoreng dan cabai rawit. Bawang goreng dan cabai itu digerus dengan sendok, langsung di atas piring yang akan digunakan untuk menyajikan Kupang Lontong.

Gerusan bumbu lalu diencerkan dengan sedikit kuah rebusan kupang, baru kemudian lontong mulai diiris-iris. Berikutnya, tambahkan lentho yakni penganan yang terbuat dari campuran singkong, kacang kedelai, kelapa parut, dan dibumbui dengan bawang putih, garam, serta gula. Sebagai sentuhan akhir, taburkan bawang goreng di sepiring Kupang Lontong yang sudah siap saji. Namun jangan lupa, Kupang Lontong paling nikmat jika disajikan selagi panas atau hangat. Satu lagi, tiada salahnya jika Anda juga menyertakan sate kerang sambil menyantap Kupang Lontong. Dijamin rasanya akan semakin maknyus!

Bagi Anda yang mengidap alergi makanan laut, jangan khawatir. Kupang Lontong punya pasangan sejati yang ampuh menangkal alergi, yaitu kelapa muda. Begitulah, jika makan Kupang Lontong, minumannya harus es kelapa muda. Selain menyegarkan dan pengusir haus, kelapa muda juga cukup mujarab untuk menetralkan racun atau gejala alergi. Lezatnya Kupang Lontong ternyata juga bergizi tinggi, ditambah dengan kelapa muda yang tidak kalah sehatnya. Nah, tunggu apa lagi?

Tempat Jualan Kupang Lontong

Kupang Lontong
Warung Kupang Lontong

Warung-warung yang menyediakan menu Kupang Lontong dapat dengan mudah Anda temukan di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Salah satu pusat kuliner Kupang Lontong di Pasuruan adalah di kawasan Pasar Kraton. Di kawasan ini terdapat banyak penjual Kupang Lontong hingga kemudian Kupang Lontong di sini terkenal dengan sebutan Kupang Kraton. Akses menuju Pasar Kraton, yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari pusat Kota Pasuruan, pun cukup mudah. Bila Anda berangkat dari arah Surabaya menuju Probolinggo, Jember, atau Lumajang, Anda akan melewati kawasan Pasar Kraton ini. Biasanya, warung-warung Kupang Lontong di Pasar Kraton Pasuruan buka dari pukul 07.00 pagi sampai dengan pukul 22.00 atau jam 10 malam.

Harga Kupang Lontong

Bandrol harga yang dipatok untuk bisa menikmati sepiring Kupang Lontong terbilang murah namun bervariasi pada tiap-tiap warung, yakni antara Rp5.000,- sampai dengan Rp7.500,- per porsinya. 

Rabu, 19 September 2007

Ledre

Ledre Bojonegoro
Ledre Bojonegoro

Ledre adalah makanan tradisional yang menjadi salah satu ikon kuliner Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Penganan ini berbentuk gulungan dan biasanya beraroma pisang raja meskipun sekarang produksi ledre sudah memiliki beragam varian rasa. Ledre sangat cocok sebagai teman minum teh, disajikan untuk tamu, juga sebagai oleh-oleh khas Bojonegoro.

Namanya sederhana dan terkesan “apa adanya”: ledre. Namun, jangan langsung meremehkan penganan tradisional ini. Coba dulu barang secuil, dijamin Anda akan ketagihan. Ledre adalah makanan khas Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Kabupaten ini memang berjuluk sebagai Kota Ledre. Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten yang tergabung dalam Blok Cepu bersama dua kabupaten lainnya, yakni Kabupaten Tuban (Jawa Timur) dan Kabupaten Blora (Jawa Tengah), yang terkenal sebagai kawasan penghasil minyak dan gas bumi di pesisir pantai utara Jawa. Oleh karena itu, selain di Bojonegoro, ledre pun sangat dikenal di Cepu (kecamatan di Kabupaten Blora).

Dilihat dari bentuknya, ledre mirip seperti kue semprong, jenis kue tradisional yang cara pembuatannya dilakukan dengan digulung-gulung, sama seperti ledre. Bedanya, gulungan ledre lebih tipis daripada gulungan kue semprong. Selain itu, ledre biasanya menggunakan pisang raja sebagai bahan dasar dan penguat aroma khasnya. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan zaman dan selera pasar, kini ledre tidak hanya memanfaatkan pisang raja semata, melainkan juga dibuat dengan jenis berbagai pisang lain, seperti pisang saba, pisang hijau, pisang susu, dan sebagainya. Perkembangan pun ledre merambah pada varian rasa dan aromanya, di mana sekarang tersedia ledre rasa coklat, susu, atau rasa lainnya.

Industri Pembuat Ledre Bojonegoro

Di Bojonegoro, ledre masih dikembangkan oleh industri rumah tangga di mana para pembuat ledre adalah penduduk setempat yang mengusahakan proses produksi ledre di rumah. Salah satu tempat yang menjadi sentra produksi ledre di Bojonegoro adalah di Kecamatan Padangan yang terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Bojonegoro. Di sini, terdapat 110 unit usaha yang memproduksi ledre. Tenaga kerja yang terlibat mencapai 220 orang dengan kapasitas produksi 9.900.000 ledre/tahun. Meskipun masih berlevel home industry, namun pemasaran ledre telah mampu merambah ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, bahkan hingga ke luar pulau Jawa.

Ledre memang sudah sangat lekat dengan Bojonegoro. Apabila berkunjung ke Bojonegoro namun tidak membawa ledre sebagai buah tangan, maka kunjungan itu dianggap belum sempurna. Pada waktu-waktu liburan sekolah atau liburan hari raya, di Bojonegoro semarak dengan hamparan ledre yang dijajakan di banyak lokasi. Di setiap toko makanan, warung-warung, hingga di stasiun kereta api dan terminal bis, tersedia ledre yang dijual sebagai oleh-oleh khas Bojonegoro.

Ledre Bojonegoro


Ledre memang istimewa. Keistimewaan utamanya adalah terletak pada cara pembuatannya sehingga tercipta bentuk ledre yang unik dengan rasa yang dijamin akan memanjakan lidah. Ledre adalah penganan kering yang terbuat dari campuran tepung terigu, gula pasir, mentega garam, vanili, parutan kelapa muda, dan tepung beras atau tepung ketan, dan biasanya ditambah pisang raja untuk aroma, namun bisa juga menggunakan varian aroma dari bahan-bahan selain pisang raja.

Meskipun bentuk ledre terkesan rumit, namun ternyata cara membuatnya cukup sederhana. Pertama-tama, rebus gula, garam, dan vanili dengan air hingga larut, kemudian masukkan parutan kelapa muda dan diaduk-aduk. Setelah itu, matikanlah api. Masukkan tepung ketan selagi masih panas sehingga membentuk adonan kental. Siapkan wajan anti lengket, olesi dengan mentega tipis-tipis. Selanjutnya, beri 2 sendok adonan, tekan-tekan dengan punggung sendok hingga tipis (dengan ketebalan 1/2 cm). Beri 1-2 sendok makan pisang raja yang telah dilumatkan. Ratakan dan taburi dengan gula pasir. Tutup wajan agar pisang matang. Apabila bagian bawah sudah berkerak dan agak gosong, lipatlah adonan ledre tersebut dan kemudian sisihkan. Lakukanlah hingga semua adonan habis dan ledrepun siap untuk disajikan.

Para pelaku usaha home industry yang memproduksi ledre di Kabupaten Bojonegoro sudah cukup profesional. Dari segi kemasan, misalnya, telah dibuat sesuai dengan higienis. Selain itu, produksi ledre sudah didaftarkan ke Departemen Kesehatan. Produksi ledre akan meningkat pada waktu-waktu liburan. Namun, saat musim tanam, produksi ledre biasanya menurun karena sebagian warga memprioritaskan pengerjaan sawah. Meskipun demikian, produksi ledre dijamin tetap lestari di Bojonegoro karena ledre sudah lekat sebagai ikon kuliner di kabupaten ini.

Lokasi Penjual Ledre

Di banyak tempat di Bojonegoro, Anda dapat menemukan ledre dengan mudah, dari warung-warung di pinggir jalan, pasar tradisional, hingga di terminal bis maupun stasiun kereta api. Ledre juga sudah dipasarkan di kota-kota besar di Indonesia sehingga mudah juga ditemukan di supermarket atau pasar swalayan. Jika Anda mempunyai cukup waktu, Anda juga bisa datang langsung ke sentra produksi ledre yang ada di Bojonegoro. Misalnya di Padangan, Kuniran, dan tempat-tempat lainnya di Bojonegoro.

Harga Sebungkus Ledre

Sebungkus ledre dibanderol dengan harga Rp 4.000,- rata-rata berisi 10 buah ledre. Supaya mudah dibawa dan aman, ledre dikemas dengan kardus. Satu kardus kecil berisi 2 bungkus, sedangkan kardus besar isinya 4 bungkus.

Rabu, 12 September 2007

Lezatnya Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah

    Lezatnya Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah
    Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah

    Jangan mengaku pernah menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.  
    Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.   
    Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya. 

    Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis. Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.

    Lezatnya Kaledo Masakan Khas Sulawesi Tengah


    Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.

    Harga satu porsi Kaledo

    Harga kaledo berkisar antara Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00 perporsi. Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu - Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.